Shalat gerhana Matahari, atau shalat kusuf, adalah shalat sunnah yang dikerjakan ketika terjadi gerhana Matahari. Ia bukan shalat fardu, tetapi termasuk ibadah yang sangat dianjurkan karena Rasulullah SAW sendiri menuntunkannya ketika Matahari mengalami gerhana pada masanya.
Tata cara yang paling masyhur berdasarkan hadis Aisyah RA adalah dua rakaat, dan setiap rakaat memiliki dua kali berdiri, dua kali bacaan Al-Fatihah, dua kali rukuk, lalu dua sujud. Totalnya empat rukuk dan empat sujud, bukan empat rakaat.
Artikel ini merinci niat Arab, Latin, dan artinya; urutan rakaat pertama dan kedua; dalil; waktu; seruan ash-shalātu jāmi‘ah; khutbah; serta perbedaan pendapat yang memang ada, terutama soal bacaan jahr atau sirr. Beberapa rincian fikih bersifat khilafiyah. Yang bersifat khilaf dijelaskan apa adanya, bukan dipaksakan menjadi satu-satunya cara.
Bagaimana tata cara sholat gerhana Matahari? Shalat kusuf dikerjakan dua rakaat. Pada setiap rakaat, seorang Muslim berdiri, membaca Al-Fatihah dan surah, rukuk, berdiri kembali lalu membaca Al-Fatihah dan surah lagi, rukuk kedua, i‘tidal, kemudian sujud dua kali. Rakaat kedua mengikuti pola yang sama, lalu tasyahud dan salam.
Apa Itu Sholat Gerhana Matahari atau Sholat Kusuf?
Shalat gerhana Matahari adalah shalat sunnah yang dikerjakan karena terjadinya gerhana Matahari. Dalam literatur fikih, shalat ini biasa disebut shalat al-kusūf atau kusūf asy-syams.
Dalam hadis, kata kusūf dan khusūf kadang dipakai bergantian untuk gerhana. Namun dalam pemakaian fikih yang lazim di Indonesia:
- kusūf dipakai untuk gerhana Matahari;
- khusūf dipakai untuk gerhana Bulan;
- kusūfain merujuk pada keduanya.
Pembagian istilah ini membantu agar niat tidak tertukar. Dari sisi pola gerakan, shalat gerhana Matahari dan gerhana Bulan pada dasarnya sama: dua rakaat dengan dua rukuk pada setiap rakaat.
Gerhana dalam pandangan Islam bukan pertanda kematian tokoh, bukan pertanda kelahiran seseorang, dan bukan alasan untuk menyembah Matahari atau Bulan. Ia adalah tanda kebesaran Allah. Al-Qur’an menegaskan:
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Wa min āyātihil-lailu wan-nahāru wasy-syamsu wal-qamaru. Lā tasjudū lisy-syamsi wa lā lil-qamari wasjudū lillāhil-lażī khalaqahunna in kuntum iyyāhu ta‘budūn.
Artinya: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah malam, siang, Matahari, dan Bulan. Janganlah bersujud kepada Matahari dan jangan (pula) kepada Bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS Fushilat: 37)
Hukum Sholat Gerhana Matahari
Menurut pendapat yang dipakai luas di Indonesia, termasuk penjelasan NU Online dan Majelis Tarjih Muhammadiyah, hukum shalat gerhana adalah sunnah muakkadah: sunnah yang sangat dianjurkan. Ia bukan kewajiban fardu ain atas seluruh umat Islam.
Siapa yang dianjurkan mengerjakannya?
- laki-laki dan perempuan;
- yang mukim maupun musafir, selama syarat shalat terpenuhi;
- orang yang berada di kawasan yang mengalami gerhana.
Pelaksanaan berjamaah dianjurkan karena Rasulullah SAW mengerjakannya bersama para sahabat di masjid. Namun shalat ini tetap sah dikerjakan sendirian.
Jangan memahami anjuran ini sebagai vonis berdosa besar bagi siapa pun yang tidak sempat mengerjakannya. Statusnya tetap sunnah, bukan shalat lima waktu.
Dalil Sholat Gerhana Matahari dari Hadis
Dalil utama shalat gerhana adalah sunnah fi‘liyyah dan qauliyyah Nabi SAW. Hadis paling rinci tentang tata cara datang dari Aisyah RA.
Hadis Aisyah RA tentang tata cara
Diriwayatkan bahwa pada masa Nabi SAW Matahari mengalami gerhana. Beliau keluar ke masjid, para sahabat berbaris di belakangnya. Beliau bertakbir, membaca bacaan yang panjang, lalu rukuk yang panjang. Setelah i‘tidal, beliau tidak langsung sujud, melainkan berdiri lagi, membaca bacaan yang panjang tetapi lebih pendek dari yang pertama, lalu rukuk lagi yang lebih pendek dari rukuk pertama. Setelah itu sujud. Pola yang sama diulang pada rakaat kedua. Dengan demikian sempurna empat rukuk dan empat sujud dalam dua rakaat. Gerhana selesai sebelum beliau selesai shalat. Setelah itu beliau berdiri, memuji Allah, lalu menyampaikan nasihat. (HR al-Bukhari no. 1046; lihat juga Sahih Muslim, Kitab al-Kusuf)
Gerhana bukan karena kematian atau kelahiran seseorang
Pada hari wafat Ibrahim, putra Rasulullah SAW, Matahari mengalami gerhana. Orang-orang berkata bahwa gerhana itu terjadi karena kematian Ibrahim. Nabi SAW kemudian bersabda:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا وَادْعُوا اللَّهَ
Inna asy-syamsa wal-qamara lā yankasifāni limauti aḥadin wa lā liḥayātihi, fa-iżā ra’aitum fa-ṣallū wad‘ullāh.
Artinya: “Sesungguhnya Matahari dan Bulan tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena kehidupannya. Apabila kamu melihat gerhana, maka shalatlah dan berdoalah kepada Allah.” (HR al-Bukhari no. 1043, dari al-Mughirah bin Syu‘bah)
Pesan spiritualnya sederhana: gerhana adalah ayat Allah, bukan ramalan nasib tokoh tertentu.
Dalam khutbah setelah shalat, Nabi SAW juga memerintahkan bertakbir, berdoa, shalat, dan bersedekah. (HR Muslim no. 901)
Niat Sholat Gerhana Matahari Arab, Latin, dan Artinya
Niat pada hakikatnya ada di dalam hati: kehendak mengerjakan shalat sunnah gerhana Matahari karena Allah. Melafalkan niat adalah formula bantu yang lazim diajarkan dalam kitab dan panduan fikih Indonesia, khususnya tradisi Syafi‘iyah, agar hati lebih terarah. Lafaz niat bukan rukun tersendiri yang ditetapkan Nabi SAW secara tekstual.
Niat sholat gerhana Matahari sendiri
Arab
أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin
Ushallī sunnatan li-kusūfisy-syamsi rak‘ataini lillāhi ta‘ālā.
Artinya
“Saya niat shalat sunnah gerhana Matahari dua rakaat karena Allah Ta‘ala.”
Niat menjadi imam
Formula berikut dipakai dalam panduan fikih Indonesia (antara lain NU Online) untuk membedakan posisi imam:
Arab
أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin
Ushallī sunnatan li-kusūfisy-syamsi rak‘ataini imāman lillāhi ta‘ālā.
Artinya
“Saya niat shalat sunnah gerhana Matahari dua rakaat sebagai imam karena Allah Ta‘ala.”
Niat menjadi makmum
Arab
أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُومًا لِلّٰهِ تَعَالَى
Latin
Ushallī sunnatan li-kusūfisy-syamsi rak‘ataini ma’mūman lillāhi ta‘ālā.
Artinya
“Saya niat shalat sunnah gerhana Matahari dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta‘ala.”
Gunakan kata kusūf asy-syams, bukan khusūf al-qamar, agar niat tidak tertukar dengan shalat gerhana Bulan.
Apakah niat sholat gerhana harus diucapkan?
Tidak. Tempat niat adalah hati. Jumhur ulama selain Malikiyah memandang melafalkan niat sebagai bantuan yang dibolehkan atau dianjurkan agar niat hadir lebih jelas. Mazhab Maliki cenderung menilai lebih baik tidak dilafalkan karena tidak ada contoh langsung dari Nabi SAW.
Karena itu:
- jangan menganggap shalat batal hanya karena lafaz niat tidak diucapkan, selama niat di hati sudah ada;
- jangan pula menuduh orang yang melafalkan niat sebagai melakukan bidah semata-mata karena mengikuti kebiasaan pengajaran fikih.
Yang wajib adalah menyengaja shalat gerhana Matahari, bukan menghafal satu rumus Arab tertentu sebagai syarat sah mutlak.
Waktu Pelaksanaan Sholat Gerhana Matahari
Waktu shalat gerhana dimulai sejak gerhana mulai terjadi dan berakhir ketika gerhana selesai, yaitu ketika piringan Matahari terang kembali. Sabda Nabi SAW mengaitkan shalat dengan melihat gerhana dan mengerjakannya sampai gerhana tersingkap.
Beberapa catatan penting:
- Jadwal astronomi membantu persiapan, tetapi waktu hukum shalat terikat pada terjadinya gerhana sebagai sebab, bukan pada angka jam semata.
- Jika Matahari terbenam dalam keadaan masih gerhana, waktu shalat gerhana Matahari habis dengan terbenamnya Matahari.
- Shalat gerhana tidak disyariatkan sebagai qadha setelah sebabnya hilang. Menurut penjelasan fikih yang dikutip NU Online, shalat yang terikat sebab khusus seperti gerhana tidak diqadha setelah waktunya habis.
Apakah sholat gerhana tetap dilakukan jika gerhana tidak terlihat?
Majelis Tarjih Muhammadiyah menegaskan bahwa shalat kusufain dikerjakan oleh orang yang berada pada kawasan yang mengalami gerhana. Orang di kawasan yang tidak mengalami gerhana tidak mengerjakannya. Titik tekannya adalah “apabila kamu melihatnya,” bukan semata perhitungan di tempat lain.
Jika gerhana secara astronomis terjadi tetapi sama sekali tidak dapat disaksikan di suatu wilayah, jangan merayakan perhitungan itu sebagai kewajiban shalat di wilayah tersebut.
Sholat Gerhana Matahari Berapa Rakaat?
Dua rakaat.
Yang membedakannya dari shalat sunnah biasa adalah pola dalam setiap rakaat: dua kali qiyam dan dua kali rukuk. Karena ada empat rukuk, sebagian orang keliru menyebutnya empat rakaat. Itu kekeliruan yang sering muncul di internet.
Ilustrasi ringkas:
Rakaat pertama: berdiri → bacaan → rukuk → berdiri lagi → bacaan → rukuk → i‘tidal → dua sujud.
Rakaat kedua: pola yang sama → tasyahud → salam.
Mengapa ada dua kali rukuk? Karena itulah cara Rasulullah SAW mengerjakannya dalam riwayat Aisyah yang disepakati al-Bukhari dan Muslim. Setelah rukuk pertama beliau tidak sujud, melainkan berdiri kembali untuk bacaan kedua.
Tata Cara Sholat Gerhana Matahari Lengkap
Shalat dikerjakan menghadap kiblat, dalam keadaan suci, menutup aurat, sebagaimana syarat shalat pada umumnya.
Rakaat pertama
- Berdiri menghadap kiblat.
- Menghadirkan niat di hati (boleh dibantu lafaz).
- Takbiratul ihram.
- Membaca doa iftitah, sesuai kebiasaan shalat yang diikuti.
- Membaca ta‘awwuz.
- Membaca Al-Fatihah.
- Membaca surah atau ayat Al-Qur’an, dianjurkan panjang.
- Rukuk pertama, dianjurkan dipanjangkan.
- Bangkit dari rukuk pertama.
- Membaca sami‘allāhu liman ḥamidah dan bacaan i‘tidal.
- Tetap berdiri; jangan langsung sujud.
- Membaca Al-Fatihah untuk kedua kalinya.
- Membaca surah atau ayat yang lebih pendek dari bacaan pertama.
- Rukuk kedua, lebih pendek dari rukuk pertama.
- Bangkit dari rukuk kedua.
- I‘tidal.
- Sujud pertama, dianjurkan dipanjangkan.
- Duduk di antara dua sujud.
- Sujud kedua.
- Berdiri menuju rakaat kedua.
Rakaat kedua
- Berdiri.
- Membaca Al-Fatihah.
- Membaca surah atau ayat, lebih pendek dari rakaat pertama.
- Rukuk pertama pada rakaat kedua.
- Bangkit dan i‘tidal.
- Berdiri kembali.
- Membaca Al-Fatihah lagi.
- Membaca surah atau ayat berikutnya yang lebih pendek.
- Rukuk kedua.
- Bangkit dan i‘tidal.
- Sujud pertama.
- Duduk di antara dua sujud.
- Sujud kedua.
- Tasyahud akhir.
- Salam.
Inilah titik yang paling sering keliru: setelah rukuk pertama, Al-Fatihah dibaca lagi. Jangan menyalin urutan shalat biasa lalu hanya “menambah satu rukuk” tanpa bacaan kedua.
Ringkasan urutan sholat gerhana
| Tahap | Rakaat pertama | Rakaat kedua |
|---|---|---|
| Berdiri pertama | Al-Fatihah + surah panjang | Al-Fatihah + surah (lebih pendek) |
| Rukuk pertama | Dipanjangkan | Dipanjangkan, lebih singkat dari rakaat I |
| Berdiri kedua | Al-Fatihah + surah lebih pendek | Al-Fatihah + surah lebih pendek lagi |
| Rukuk kedua | Lebih singkat dari rukuk pertama | Lebih singkat dari rukuk sebelumnya |
| I‘tidal | Setelah rukuk kedua | Setelah rukuk kedua |
| Sujud | Dua kali, dianjurkan panjang | Dua kali, lalu tasyahud dan salam |
| Akhir rakaat | Bangkit ke rakaat kedua | Salam |
NU Online mencatat bahwa dalam fikih Syafi‘iyah terdapat tingkatan: cara paling ringan menyerupai shalat sunnah biasa; cara pertengahan memakai dua rukuk tanpa memanjangkan secara berlebihan; cara paling utama memanjangkan bacaan dan rukuk. Yang paling sesuai dengan hadis Aisyah adalah pola dua rukuk tiap rakaat.
Bacaan yang Dibaca Saat Sholat Gerhana
Bacaan yang dipakai adalah bacaan shalat yang sudah dikenal:
- takbir;
- doa iftitah (jika dibaca);
- ta‘awwuz;
- Al-Fatihah pada setiap berdiri;
- surah atau ayat Al-Qur’an;
- tasbih rukuk;
- bacaan i‘tidal;
- tasbih sujud;
- tasyahud dan salawat;
- salam.
Tidak ada surah tertentu yang wajib. Hadis menekankan bacaan yang panjang, bukan daftar surah wajib.
Surah apa yang dibaca?
Dalam riwayat Ibnu Abbas, berdiri pertama Nabi SAW diperkirakan sepanjang bacaan Surah al-Baqarah. Itu perkiraan panjang, bukan perintah wajib membaca al-Baqarah. Contoh yang sering disebut ulama sebagai pilihan, bukan ketentuan wajib:
- berdiri pertama rakaat I: bacaan panjang, misalnya setara al-Baqarah;
- berdiri kedua rakaat I: lebih pendek, misalnya setara Ali Imran;
- rakaat II: lebih pendek lagi secara bertahap.
Jika kemampuan terbatas, baca sesuai kemampuan. Yang dituntut adalah mengikuti pola dua kali qiraah tiap rakaat, bukan memaksakan khatam al-Baqarah.
Berapa panjang bacaan dan rukuk?
Hadis Aisyah dan Ibnu Abbas menunjukkan gradasi:
- bacaan pertama lebih panjang dari bacaan kedua;
- rukuk pertama lebih panjang dari rukuk kedua;
- rakaat kedua lebih singkat daripada rakaat pertama;
- sujud juga dipanjangkan.
Jangan menetapkan “wajib 100 ayat” sebagai syarat sah. Angka semacam itu muncul sebagai kira-kira dalam sebagian kitab Syafi‘iyah, bukan sebagai dalil wajib.
Bacaan Sholat Gerhana Jahr atau Sirr?
Terdapat perbedaan pendapat yang diakui.
Pendapat membaca sirr pada gerhana Matahari
Dalam mazhab Syafi‘i yang banyak diajarkan di Indonesia, shalat gerhana Matahari termasuk shalat siang (nahāriyyah), sehingga bacaan dianjurkan dipelankan. NU Online menuliskan bahwa disunahkan tidak mengeraskan bacaan pada shalat gerhana Matahari. Untuk gerhana Bulan, bacaan dianjurkan jahr. Pendapat ini juga menyebut bahwa boleh jahr, tetapi yang lebih utama menurut jalur ini adalah sirr.
Pendapat membaca jahr
Hadis Aisyah RA menyatakan Nabi SAW menjahrkan bacaan pada shalat gerhana. Al-Bukhari bahkan membuat bab tersendiri tentang jahr dalam shalat kusuf (HR al-Bukhari no. 1065). Majelis Tarjih Muhammadiyah memilih imam membaca dengan jahr pada shalat kusufain.
Titik praktis
Keduanya memiliki sandaran. Jangan menjadikan perbedaan jahr–sirr sebagai alasan menyalahkan jamaah lain. Ikuti imam atau tuntunan lembaga yang menjadi rujukan setempat, dan tetap kerjakan shalatnya.
Bacaan Rukuk, I‘tidal, dan Sujud
Tidak ada dzikir khusus yang wajib hanya untuk rukuk gerhana. Yang dituntunkan adalah memanjangkan tasbih rukuk dan sujud.
Tasbih rukuk
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ
Subḥāna rabbiyal-‘aẓīm.
Artinya: “Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung.”
Bacaan i‘tidal
سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ
Sami‘allāhu liman ḥamidah, rabbanā wa lakal-ḥamd.
Artinya: “Allah mendengar orang yang memuji-Nya. Ya Tuhan kami, bagi-Mu segala puji.”
Tasbih sujud
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى
Subḥāna rabbiyal-a‘lā.
Artinya: “Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi.”
Setelah rukuk pertama, bacaan i‘tidal diikuti berdiri untuk Al-Fatihah kedua. Setelah rukuk kedua, i‘tidal dilanjutkan sujud.
Apakah Sholat Gerhana Memakai Azan dan Iqamah?
Tidak. Shalat gerhana tidak memakai azan dan tidak memakai iqamah.
Yang dituntunkan adalah seruan agar orang berkumpul.
Arti seruan ash-shalatu jami‘ah
Arab
الصَّلَاةُ جَامِعَةٌ
Latin
Ash-shalātu jāmi‘ah.
Artinya
“Shalat berjamaah (mari berkumpul untuk shalat).”
Seruan ini disampaikan ketika gerhana terjadi, sebelum shalat dimulai. Ia bukan azan, tidak mengganti azan shalat fardu, dan tidak perlu dikarang menjadi format pengulangan tertentu yang tidak ada dasarnya.
Sholat Gerhana Berjamaah atau Sendiri?
Berjamaah lebih utama karena Nabi SAW mengerjakannya di masjid dan menyuruh orang menyerukan ash-shalātu jāmi‘ah. Perempuan juga termasuk dalam keumuman perintah. Tempat yang dianjurkan adalah masjid, tetapi sah dikerjakan di tempat lain yang layak untuk shalat.
Dikerjakan sendirian tetap sah. Khutbah tidak diperlukan jika shalat sendirian.
Apakah Ada Khutbah Setelah Sholat Gerhana?
Ada. Setelah shalat, Rasulullah SAW berdiri, memuji Allah, lalu menasihati umat. Ini tercatat dalam hadis Aisyah.
Terdapat perbedaan rincian:
- NU Online: jika berjamaah, disunahkan dua khutbah sebagaimana khutbah Jumat; tidak ada khutbah jika sendirian atau jamaahnya semuanya perempuan, meski nasihat singkat dari perempuan tidak mengapa.
- Majelis Tarjih Muhammadiyah: imam menyampaikan satu khutbah setelah salam.
Jangan menyamakan seluruh detail teknis khutbah gerhana dengan khutbah Jumat jika sumber yang diikuti tidak menyatakan demikian.
Apa isi khutbah gerhana?
Isi yang bersumber dari hadis, bukan teks wajib:
- memuji dan mengagungkan Allah;
- menegaskan bahwa Matahari dan Bulan adalah tanda kebesaran Allah;
- menolak anggapan gerhana terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang;
- menganjurkan doa, takbir, shalat, istighfar, dan sedekah;
- mengingatkan umat agar tidak lengah.
Contoh isi, bukan teks wajib: imam mengingatkan bahwa gerhana adalah ayat Allah, lalu mengajak jamaah memperbanyak tobat, istighfar, dan sedekah hingga gerhana selesai.
Doa Setelah Sholat Gerhana Matahari
Tidak ada lafaz doa khusus yang secara sahih ditetapkan sebagai “doa wajib setelah shalat gerhana” yang harus dibaca dengan rumusan tertentu. Karena itu, jangan menganggap satu poster doa di media sosial sebagai ajaran Nabi.
Yang ada dalam hadis adalah anjuran umum: berdoa, bertakbir, beristighfar, bersedekah, dan menyibukkan diri dengan zikir sampai gerhana selesai.
Apakah ada doa khusus gerhana Matahari?
Tidak ada formula wajib yang dapat dipastikan sebagai bacaan khusus Nabi setelah shalat gerhana. Yang selamat adalah berdoa dengan bahasa yang dipahami, memohon ampun, dan tidak mengarang keutamaan tertentu.
Amalan yang Dianjurkan Saat Gerhana
Berdasarkan hadis gerhana yang sahih:
- shalat;
- doa;
- takbir;
- istighfar;
- zikir;
- sedekah.
Sebagian riwayat klasik juga menyebut memerdekakan budak. Dalam konteks modern, amalan itu dipahami sebagai bagian sejarah sosial hadis, bukan sebagai daftar “wajib dikerjakan hari ini” tanpa konteks.
Sebagian kitab fikih Syafi‘iyah menganjurkan mandi sunnah sebelum shalat gerhana. Itu anjuran fikih, bukan syarat sah yang berdiri dari hadis tata cara shalat itu sendiri.
Jika Gerhana Selesai Saat Sholat Masih Berlangsung
Shalat diteruskan sampai selesai. Tidak batal hanya karena gerhana sudah terang di tengah shalat. Jika perlu, gerakan dan bacaan dapat dipersingkat. Setelah salam, sibukkan diri dengan doa dan zikir.
Jika Gerhana Sudah Selesai Sebelum Sholat
Sebab shalat telah hilang. Menurut pendapat yang kuat dalam fikih, shalat gerhana tidak diqadha. Mengqadhanya setelah Matahari terang kembali tidak disyariatkan. Yang dikerjakan setelah itu adalah doa dan zikir biasa, bukan memulai shalat kusuf baru.
Jika gerhana terjadi menjelang shalat fardu dan waktu fardu sudah sempit, shalat fardu didahulukan. Shalat gerhana adalah sunnah yang terikat sebab; shalat fardu adalah kewajiban yang tidak boleh diabaikan.
Perbedaan Sholat Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan
| Aspek | Gerhana Matahari | Gerhana Bulan |
|---|---|---|
| Istilah lazim | Kusūf | Khusūf |
| Jumlah rakaat | 2 | 2 |
| Jumlah rukuk | 4 (2 per rakaat) | 4 (2 per rakaat) |
| Waktu | Siang, selama gerhana hingga terang atau Matahari terbenam | Malam, selama gerhana |
| Jahr/sirr | Khilaf: sirr menurut Syafi‘i/NU; jahr menurut hadis Aisyah dan Tarjih | Umumnya jahr |
| Berjamaah | Dianjurkan | Dianjurkan |
| Khutbah | Disunahkan jika berjamaah | Disunahkan jika berjamaah |
Pola gerakan sama. Yang paling sering tertukar adalah lafaz niat.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Sholat Gerhana
- Menganggap shalat gerhana empat rakaat hanya karena ada empat rukuk.
- Hanya melakukan satu rukuk pada setiap rakaat.
- Lupa membaca Al-Fatihah setelah bangkit dari rukuk pertama.
- Memakai niat khusuf untuk gerhana Matahari.
- Menganggap lafaz niat sebagai rukun yang membatalkan shalat jika tidak diucapkan.
- Memakai azan biasa.
- Memakai iqamah.
- Menganggap ada surah wajib tertentu.
- Mengarang doa khusus lalu menisbatkannya kepada Nabi SAW.
- Menganggap gerhana terjadi karena kematian seseorang.
- Memulai shalat setelah gerhana selesai tanpa memeriksa hukumnya.
- Menjadikan perbedaan jahr dan sirr sebagai alasan mencela pihak lain.
Sumber dan Referensi
| Sumber | Pembahasan yang didukung |
|---|---|
| Sahih al-Bukhari no. 1043 | Gerhana bukan karena kematian Ibrahim; perintah shalat dan doa |
| Sahih al-Bukhari no. 1046 | Tata cara dua rakaat, empat rukuk, empat sujud, khutbah |
| Sahih al-Bukhari no. 1065 | Bacaan jahr dalam shalat kusuf |
| Sahih Muslim no. 901 | Perintah takbir, doa, shalat, dan sedekah |
| QS Fushilat: 37 | Matahari dan Bulan sebagai ayat Allah |
| NU Online | Hukum sunnah muakkadah, niat, sirr, dua khutbah, tidak diqadha |
| Majelis Tarjih Muhammadiyah | Seruan ash-shalātu jāmi‘ah, jahr, satu khutbah, hanya di kawasan yang mengalami gerhana |
Catatan Fikih
Artikel ini memprioritaskan hadis sahih dan penjelasan lembaga keagamaan yang dipakai masyarakat Indonesia. Lafaz niat yang ditampilkan adalah formula pengajaran fikih, bukan teks yang diucapkan Nabi SAW. Perbedaan jahr–sirr dan jumlah khutbah adalah khilafiyah yang sudah dikenal; keduanya tidak meniadakan keabsahan pola utama: dua rakaat, dua rukuk setiap rakaat, tanpa azan dan iqamah, dikerjakan selama gerhana berlangsung.
Yang paling penting bukan menghafal poster niat, melainkan memahami sebabnya, menghadirkan niat di hati, mengikuti urutan yang diriwayatkan Aisyah RA, dan menempatkan gerhana sebagai pengingat kebesaran Allah, bukan sebagai mitos.