Blood Moon Malam Ini: Jadwal Gerhana Bulan 29 Agustus 2026 di Indonesia

Blood Moon Malam Ini Jadwal Gerhana Bulan 29 Agustus 2026 di Indonesia

Tidak ada Blood Moon di langit Indonesia pada malam 29 Agustus 2026. Gerhana Bulan Sebagian terjadi pada 28 Agustus 2026 dan berakhir pukul 14.01.41 WIB. BMKG memastikan seluruh fasenya tidak dapat diamati dari Indonesia karena Bulan berada di bawah ufuk. NASA mencatat 96,3 persen piringan Bulan masuk umbra saat puncak — sebagian, bukan total.

Informasi soal “Blood Moon malam ini” yang beredar untuk Sabtu, 29 Agustus 2026, perlu diluruskan. Berdasarkan siaran BMKG yang terbit 26 Agustus 2026 dan data NASA, fenomena yang dimaksud adalah Gerhana Bulan Sebagian pada Jumat, 28 Agustus 2026 — bukan malam ini, dan bukan gerhana Bulan total.

Puncak gerhana sudah lewat. BMKG mencatat fase maksimum terjadi pukul 04.14.04 UT atau 11.14.04 WIB, saat sebagian besar piringan Bulan masuk ke bayangan inti Bumi. Seluruh rangkaian berakhir pukul 14.01.41 WIB pada hari yang sama.

Indonesia berada di luar wilayah pengamatan. Saat gerhana berlangsung, wilayah Indonesia sedang mengalami pagi hingga siang hari, sehingga Bulan berada di bawah ufuk — di sisi Bumi yang membelakangi Indonesia. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, menyatakan “Kondisi ini menyebabkan Gerhana Bulan Sebagian tidak terlihat dari wilayah Indonesia.”

Julukan “Blood Moon” muncul karena gerhana ini tergolong sangat dalam. Hampir seluruh piringan Bulan tenggelam dalam umbra sehingga tampak kemerahan bagi pengamat di Amerika, Eropa, dan Afrika. Meski begitu, klasifikasi astronominya tetap gerhana Bulan sebagian.

Data astronomi pada artikel ini diperiksa terakhir pada Sabtu, 29 Agustus 2026, pukul 13.35 WIB.

Blood Moon Agustus 2026 — Fakta Cepat

InformasiData terbaru
FenomenaGerhana Bulan Sebagian
Jenis gerhanaSebagian yang sangat dalam, bukan total
Tanggal global27–28 Agustus 2026, tergantung zona waktu
Tanggal IndonesiaJumat, 28 Agustus 2026
Puncak04.14.04 UT / 11.14.04 WIB (BMKG)
Bisa dilihat dari IndonesiaTidak
Bisa dilihat dari JakartaTidak
Bisa dilihat dari wilayah WITATidak
Bisa dilihat dari wilayah WITTidak
Durasi fase sebagianSekitar 3 jam 18 menit (198,8 menit menurut EclipseWise)
Total durasi5 jam 38 menit (BMKG)
Wilayah visibilitas utamaSebagian besar Amerika, Eropa, Afrika, serta Asia Tengah dan Timur Tengah
Disebut Blood Moon?Populer di media, bukan klasifikasi astronomi resmi
Perlu kacamata gerhana?Tidak
Sumber utamaBMKG, NASA Scientific Visualization Studio, EclipseWise/GSFC
Data diverifikasiSabtu, 29 Agustus 2026, 13.35 WIB

Cek Fakta Blood Moon Malam Ini 29 Agustus 2026

Tiga hal sering tercampur dalam pencarian: tanggalnya, jenis gerhananya, dan apakah Indonesia bisa melihatnya. Ketiganya perlu dipisahkan.

Tanggal fenomena

Gerhana berlangsung pada 28 Agustus 2026 menurut waktu universal dan waktu Indonesia. Di benua Amerika, rangkaiannya dimulai pada malam 27 Agustus waktu setempat lalu berlanjut melewati tengah malam, sehingga banyak media internasional menulis “27–28 Agustus”.

Tidak ada zona waktu di dunia yang menempatkan gerhana ini pada 29 Agustus. Rangkaiannya berlangsung 01.23–07.01 UT pada 28 Agustus. Bahkan di zona waktu paling timur, UTC+14, kontak terakhir jatuh pukul 21.01 pada 28 Agustus — masih tanggal yang sama.

Jenis gerhana

Ini gerhana Bulan sebagian, bukan total. Magnitudo umbranya 0,9319 menurut katalog gerhana EclipseWise yang disusun Fred Espenak. Angka di bawah 1 berarti piringan Bulan tidak pernah masuk umbra sepenuhnya.

Visibilitas dari Indonesia

Tidak bisa diamati dari mana pun di Indonesia. BMKG menyatakan posisi Indonesia berada di luar area visibilitas gerhana. Ini bukan soal cuaca, melainkan soal posisi Bulan terhadap ufuk.

Jadwal Lengkap Gerhana Bulan Agustus 2026

Berikut jadwal resmi berdasarkan Almanak BMKG, seluruhnya pada Jumat, 28 Agustus 2026. WIB setara UTC+7, WITA UTC+8, dan WIT UTC+9. Indonesia tidak menerapkan daylight saving time, sehingga konversinya tetap sepanjang tahun.

FaseUTWIBWITAWITKeterangan
P101.23.5508.23.5509.23.5510.23.55Gerhana penumbra mulai
U102.33.4809.33.4810.33.4811.33.48Gerhana sebagian mulai
MID04.14.0411.14.0412.14.0413.14.04Puncak gerhana
U405.51.5512.51.5513.51.5514.51.55Gerhana sebagian berakhir
P407.01.4114.01.4115.01.4116.01.41Gerhana penumbra berakhir

Jam di atas adalah konversi waktu kejadian astronomi global, bukan jadwal pengamatan. Fenomena tetap tidak terlihat dari Indonesia karena Bulan berada di bawah ufuk sepanjang rangkaian.

Dari selisih P1 ke P4, total rangkaiannya 5 jam 37 menit 46 detik, yang oleh BMKG dibulatkan menjadi 5 jam 38 menit. Fase sebagian — saat piringan Bulan benar-benar tergigit umbra — berlangsung 3 jam 18 menit 7 detik.

Kenapa ada sumber yang menulis puncak 11.12 WIB?

Selisih ini nyata dan wajar. BMKG mencantumkan puncak pada 04.14.04 UT. Katalog EclipseWise mencatat puncak pada 04.14.04 TD, yang setara 04.12.52 UT1 setelah dikoreksi dengan parameter ΔT sebesar 72,3 detik untuk gerhana ini.

TD (Terrestrial Dynamical Time) adalah skala waktu seragam yang dipakai perhitungan ephemeris, sedangkan UT mengikuti rotasi Bumi yang tidak sepenuhnya teratur. Selisihnya sekitar 72 detik — tidak berarti salah satu sumber keliru, dan tidak berdampak bagi pengamat awam.

Apakah Gerhana Bulan Bisa Dilihat dari Indonesia?

Tidak, tidak dari satu wilayah pun. Bulan sedang berada di bawah horizon untuk seluruh Indonesia sepanjang rangkaian gerhana.

Logikanya sederhana. Gerhana Bulan hanya terjadi saat purnama, ketika Bulan berada di arah berlawanan dari Matahari. Purnama terbit saat Matahari terbenam dan terbenam saat Matahari terbit. Karena gerhana berlangsung pukul 08.23–14.01 WIB — siang hari di Indonesia — Bulan sudah lama terbenam.

Di wilayah WIT, rangkaian berlangsung pukul 10.23–16.01, juga sepenuhnya di siang hari. Tidak ada satu pun fase, termasuk fase penumbra, yang berada di atas ufuk Indonesia.

Kenapa Indonesia Tidak Bisa Melihat Gerhana?

Bayangkan Bumi sebagai bola yang berputar. Pada saat tertentu, hanya separuh permukaannya yang menghadap Bulan. Separuh itulah yang bisa melihat gerhana, dan separuh lainnya harus menunggu Bumi berputar — tetapi gerhana keburu selesai.

Saat puncak gerhana 28 Agustus 2026, titik di Bumi yang tepat berada di bawah Bulan berada di sekitar bujur 63°8′ Barat, yaitu di kawasan Amerika. Indonesia berada hampir di sisi berlawanan bola Bumi.

Posisi Bulan di bawah ufuk

Objek yang berada di bawah horizon terhalang oleh badan Bumi itu sendiri, bukan oleh atmosfer. Tidak ada sudut pandang, ketinggian, atau lokasi di Indonesia yang bisa mengatasinya.

Apakah cuaca cerah membuat gerhana bisa terlihat?

Tidak. Ini perbedaan penting yang sering dicampuradukkan.

  • Terhalang awan: objek ada di atas ufuk, tetapi tertutup uap air. Langit cerah menyelesaikan masalah ini.
  • Berada di bawah ufuk: objek secara geometris tidak ada di langit lokasi tersebut. Cuaca sama sekali tidak berpengaruh.

Kasus 28 Agustus 2026 termasuk yang kedua. Prakiraan cuaca BMKG untuk malam itu tidak relevan dengan visibilitas gerhana.

Apakah teleskop bisa membantu?

Tidak. Teleskop dan binokular memperbesar dan memperterang objek yang sudah berada di atas horizon. Alat optik tidak bisa “menembus” planet Bumi.

Wilayah Mana yang Bisa Melihat Gerhana Bulan Agustus 2026?

BMKG menyebut fenomena ini dapat disaksikan dari sebagian besar benua Amerika, Afrika, Eropa, serta Asia bagian Tengah dan Timur Tengah.

NASA Scientific Visualization Studio memberi rincian yang lebih spesifik untuk fase puncak: fase tersebut terlihat di kawasan Amerika kecuali Alaska dan Kanada bagian barat laut, Eropa bagian barat, serta Afrika bagian barat. Peta visibilitas NASA dipusatkan pada bujur 63°8′ Barat, tempat Bulan berada paling tinggi saat puncak.

Timeanddate mencatat wilayah yang setidaknya menyaksikan sebagian rangkaian meliputi Eropa, Asia bagian barat, Afrika, Amerika Utara dan Selatan, kawasan Pasifik, Atlantik, Samudra Hindia, dan Antarktika.

Pembedaannya penting: tidak semua wilayah itu menyaksikan rangkaian penuh. Sebagian hanya sempat melihat gerhana saat Bulan terbit atau justru menjelang Bulan terbenam, tergantung posisi masing-masing terhadap garis siang-malam Bumi.

Apakah Gerhana Ini Benar-Benar Blood Moon?

“Blood Moon” bukan nama jenis gerhana dalam astronomi. Istilah ini populer untuk menggambarkan Bulan yang tampak merah atau jingga-tembaga selama gerhana, dan paling identik dengan gerhana Bulan total.

Untuk peristiwa 28 Agustus 2026, penggunaannya bisa dibenarkan secara visual tetapi tidak secara klasifikasi. NASA sendiri memasang “Blood Moon” sebagai kata kunci pada halaman visualisasi gerhana ini, sekaligus menyebutnya deep partial lunar eclipse — gerhana sebagian yang dalam.

Yang perlu diluruskan: Bulan tidak memancarkan cahaya merah sendiri, tidak berubah komposisi, dan tidak mengalami apa pun yang bersifat mistis. Warnanya berasal dari cahaya Matahari yang disaring atmosfer Bumi.

Gerhana Agustus 2026 Total atau Sebagian?

Sebagian. Klasifikasi resminya gerhana Bulan sebagian, dan penyebutan “gerhana Bulan total 29 Agustus 2026” keliru pada dua hal sekaligus: jenis dan tanggalnya.

BMKG mencatat hanya ada dua gerhana Bulan sepanjang 2026, yaitu Gerhana Bulan Total pada 3 Maret 2026 dan Gerhana Bulan Sebagian pada 28 Agustus 2026. Dari keduanya, hanya gerhana Maret yang bisa diamati dari Indonesia.

Seberapa Besar Bagian Bulan yang Tertutup Bayangan Bumi?

Ada dua angka yang beredar, dan keduanya benar untuk hal yang berbeda.

  • Magnitudo umbra: 0,9319. Ini fraksi diameter Bulan yang tertutup umbra, menurut katalog EclipseWise.
  • Obscuration: 96,3 persen. Ini fraksi luas piringan Bulan yang berada dalam umbra, menurut NASA SVS. Timeanddate mencatat angka setara, 96,2 persen.

NASA menjelaskan magnitudo lebih mudah dihitung dan bisa bernilai di atas 1 atau di bawah 0, sehingga menyimpan informasi tambahan tentang kedalaman gerhana. Namun untuk bahasa sehari-hari, magnitudo perlu diberi keterangan — misalnya “93 persen dari lebar Bulan”, bukan “93 persen permukaan Bulan”.

Obscuration lebih intuitif karena selalu berada antara 0 dan 1 dan lebih dekat dengan pengalaman visual. Menyamakan magnitudo 0,93 dengan “93 persen permukaan tertutup” adalah kekeliruan yang sering muncul di artikel populer.

Secara astronomi, gerhana ini juga tercatat sebagai anggota ke-29 dari 82 gerhana pada seri Saros 138. Anggota sebelumnya terjadi pada 16 Agustus 2008, dan berikutnya jatuh pada 7 September 2044.

Apa yang Terlihat Saat Puncak Gerhana?

Untuk pengamat di wilayah visibilitas, hampir seluruh piringan Bulan tampak gelap, dengan tepian tipis yang masih terang di luar umbra.

NASA menjelaskan efek penumbra pada awal rangkaian sangat samar dan sering tidak disadari. Baru setelah fase sebagian dimulai, “gigitan” umbra terlihat jelas dan makin membesar.

Kurang dari satu jam kemudian, bagian Bulan yang masih tersinari Matahari menjadi cukup kecil sehingga mata pengamat bisa beradaptasi dengan gelap dan menangkap warna tembaga pada bagian yang berada di dalam umbra. Bagian yang di luar umbra tetap terang — inilah pembeda visual dengan gerhana total.

Mengapa Bulan Bisa Tampak Merah?

Saat gerhana, cahaya Matahari yang sampai ke Bulan harus melewati atmosfer Bumi terlebih dahulu. Atmosfer menyaring dan menghamburkan cahaya biru lebih kuat daripada cahaya merah.

Sisa cahaya yang lolos didominasi warna merah-jingga, lalu dibelokkan atmosfer ke arah Bulan. Efeknya mirip warna langit saat matahari terbit dan terbenam — hanya saja kali ini seluruh cincin senja Bumi yang menyinari Bulan sekaligus.

Intensitas warnanya tidak bisa diprediksi presisi. Kandungan debu, awan, dan aerosol di atmosfer Bumi ikut menentukan apakah rona yang muncul cenderung tembaga, oranye, atau cokelat gelap.

Apa Bedanya Umbra dan Penumbra?

BayanganPenjelasan
PenumbraBayangan luar yang kabur dan relatif terang, karena Bumi hanya menutup sebagian cahaya Matahari. Terkait fase P1 dan P4.
UmbraBayangan inti yang sangat gelap, karena Bumi menutup cahaya Matahari secara penuh. Terkait fase U1 dan U4.

Definisi ini menjelaskan kenapa jadwal gerhana punya lima kontak. Bulan masuk penumbra dulu (P1), lalu menyentuh umbra (U1), mencapai titik terdalam (MID), keluar dari umbra (U4), dan akhirnya lepas dari penumbra (P4).

Perbedaan Gerhana Bulan Total, Sebagian, dan Penumbra

JenisPosisi BulanPenampilan umumBisa tampak merah?
PenumbraHanya melintasi penumbra, tidak menyentuh umbraRedup tipis, sering tidak disadari pengamatTidak
SebagianSebagian piringan masuk umbraAda bagian gelap “tergigit”, sisanya tetap terangBagian di dalam umbra bisa kemerahan, terutama pada gerhana sebagian yang dalam
TotalSeluruh piringan masuk umbraSeluruh permukaan Bulan gelapYa, dan inilah yang paling lazim disebut Blood Moon

Tabel ini menjelaskan kenapa peristiwa 28 Agustus 2026 tidak boleh otomatis disebut gerhana total meski tampilannya nyaris menyerupainya.

Apakah Gerhana Bulan Aman Dilihat dengan Mata Telanjang?

Aman. BMKG memastikan pengamatan gerhana Bulan pada dasarnya bisa dilakukan langsung dengan mata tanpa alat pelindung khusus.

Aturannya berbeda dengan gerhana Matahari, yang menuntut filter khusus karena pengamat menatap langsung ke arah Matahari. Pada gerhana Bulan, yang diamati hanyalah pantulan cahaya Matahari dari permukaan Bulan — jauh lebih redup dan tidak berbahaya.

Kacamata gerhana Matahari justru membuat Bulan tidak terlihat sama sekali. Binokular atau teleskop kecil hanya berfungsi memperbesar tampilan, bukan melindungi mata.

Untuk pembaca di Indonesia, informasi ini bersifat pengetahuan umum. Tidak ada yang perlu diamati dari langit Indonesia pada peristiwa kali ini.

Bisa Nonton Blood Moon Secara Live Streaming dari Indonesia?

Siaran langsungnya sudah berakhir. Rangkaian gerhana selesai pada 28 Agustus 2026 pukul 14.01.41 WIB, sehingga seluruh siaran yang mengikuti fenomena ini sudah usai lebih dari 24 jam lalu.

BMKG mengimbau masyarakat yang ingin mengikuti jalannya gerhana untuk menyaksikannya lewat kanal resmi NASA. Sejumlah penyelenggara lain yang menjadwalkan siaran adalah timeanddate.com — dipandu Anne Buckle dan Graham Jones dengan tayangan dari Portugal dan Spanyol — serta Virtual Telescope Project dan Griffith Observatory.

Rekaman siaran biasanya masih tersedia di kanal YouTube masing-masing penyelenggara setelah acara selesai. Karena ketersediaannya bergantung pada kebijakan tiap kanal, sebaiknya periksa langsung ke kanal resmi tersebut.

Kenapa Ada Informasi Gerhana Bulan 29 Agustus 2026?

Belum ditemukan sumber resmi yang menjelaskan asal-usul penyebutan tanggal 29 Agustus untuk gerhana ini. Yang bisa dipastikan justru sebaliknya: tidak ada zona waktu mana pun yang menempatkan gerhana ini pada 29 Agustus.

Beberapa kemungkinan yang masuk akal, dan perlu dibaca sebagai dugaan, bukan temuan:

  • Konten internasional memakai frasa “tonight” atau “malam ini” untuk malam 27 Agustus waktu Amerika. Frasa semacam ini kehilangan konteks begitu dibagikan ulang di zona waktu berbeda.
  • Unggahan media sosial yang beredar pada Jumat malam waktu Indonesia bisa terbaca seolah merujuk malam berikutnya, padahal gerhana sudah selesai siang harinya.
  • Konten lama tentang gerhana yang beredar ulang tanpa tanggal absolut.

Untuk konteks artikel yang diperbarui pada 29 Agustus 2026, frasa “malam ini” merujuk pada malam Sabtu, 29 Agustus 2026 waktu Indonesia — dan pada malam tersebut tidak ada gerhana Bulan.

Apakah Malam 29 Agustus Bulan Masih Mengalami Gerhana?

Tidak. Gerhana berakhir sepenuhnya pada 28 Agustus 2026 pukul 14.01.41 WIB, ketika Bulan lepas dari bayangan penumbra Bumi.

Bulan yang terlihat pada malam 29 Agustus 2026 sudah melewati fase purnama sekitar satu hari sebelumnya dan memasuki fase susut. Bentuknya masih hampir bulat penuh dan terang, tetapi tidak ada bayangan Bumi yang menutupinya.

Warna kemerahan yang mungkin terlihat pada Bulan malam ini — terutama saat posisinya rendah di dekat ufuk — berasal dari penyaringan cahaya oleh atmosfer di dekat horizon, bukan dari gerhana. Efek yang sama terjadi pada malam-malam biasa.

Kapan Gerhana Bulan Berikutnya yang Bisa Dilihat dari Indonesia?

Untuk 2026, jawabannya tidak ada lagi. BMKG mencatat hanya dua gerhana Bulan sepanjang tahun ini, dan yang terakhir baru saja lewat.

Berdasarkan daftar gerhana yang tercatat untuk Indonesia di timeanddate, berikut peristiwa berikutnya:

TanggalJenisCatatan untuk Indonesia
20–21 Februari 2027PenumbraTercatat teramati sebagian; Bulan terbenam sebelum rangkaian selesai. Efek penumbra sangat samar dan sering tidak terlihat mata telanjang.
17 Agustus 2027PenumbraMasuk daftar visibilitas Indonesia, dengan tingkat kesamaran serupa.
6–7 Juli 2028SebagianGerhana umbral berikutnya yang masuk daftar visibilitas Indonesia.
31 Desember 2028TotalGerhana Bulan total berikutnya untuk Indonesia.

BMKG belum menerbitkan pengumuman resmi berikut jadwal fase untuk keempat peristiwa tersebut. Jam pastinya sebaiknya menunggu rilis Almanak dan siaran BMKG mendekati waktu kejadian, karena pengumuman resmi itulah yang memuat konversi WIB, WITA, dan WIT beserta status visibilitas per wilayah.

Sumber dan Referensi

SumberJudul/TopikTanggalData yang digunakan
BMKG (bmkg.go.id)BMKG: Gerhana Bulan Sebagian Terjadi 28 Agustus, Tidak Dapat Diamati dari Indonesia26 Agustus 2026Jenis gerhana, tanggal, jadwal P1–P4 dalam UT dan WIB, total durasi 5 jam 38 menit, status visibilitas Indonesia, wilayah visibilitas global, definisi umbra dan penumbra, keamanan pengamatan, imbauan live streaming
BMKG (siaran pers)Catat Waktunya! Puncak Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Dimulai Pukul 18.03 WIB2 Maret 2026Keterangan bahwa hanya Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 yang dapat diamati dari Indonesia sepanjang 2026
NASA Scientific Visualization Studio (GSFC)August 27-28, 2026 Deep Partial Lunar EclipseTerbit 21 Agustus 2026, diperbarui 25 Agustus 2026Obscuration 96,3 persen, waktu puncak 04.13 UT, wilayah visibilitas fase puncak, perbedaan magnitudo dan obscuration, Saros 138, bujur pusat peta visibilitas, deskripsi tampilan visual
EclipseWise (katalog Fred Espenak, berbasis data GSFC)Partial Lunar Eclipse of 2026 Aug 28Diakses 29 Agustus 2026Magnitudo umbra 0,9319, durasi fase sebagian 198,8 menit, puncak 04.14.04 TD / 04.12.52 UT1, nilai ΔT 72,3 detik, nomor urut Saros
TimeanddateAugust 27–28, 2026 Partial Lunar Eclipse; Eclipses in Indonesia; Eclipse Live StreamsDiakses 29 Agustus 2026Obscuration 96,2 persen, daftar kawasan yang menyaksikan sebagian rangkaian, jadwal siaran langsung, daftar gerhana berikutnya yang tercatat untuk Indonesia
TheSkyLivePenumbral Lunar Eclipse of February 20, 2027Diakses 29 Agustus 2026Catatan bahwa Bulan terbenam sebelum rangkaian gerhana Februari 2027 selesai dari wilayah Indonesia

Catatan Verifikasi Data

Seluruh angka jadwal pada artikel ini mengikuti Almanak BMKG sebagai rujukan utama untuk Indonesia, dengan konversi WITA dan WIT dihitung dari nilai UT yang sama (UTC+8 dan UTC+9, tanpa daylight saving time).

Angka obscuration, magnitudo, dan data Saros mengikuti NASA SVS serta katalog EclipseWise. Selisih sekitar 72 detik pada waktu puncak antara BMKG dan katalog NASA berasal dari perbedaan skala waktu TD dan UT, bukan dari kesalahan salah satu sumber

Related Articles