Kisi-Kisi OMI 2026 Bidang Riset dan Sistem Penilaian Proposal

Kisi-Kisi OMI 2026 Bidang Riset dan Sistem Penilaian Proposal

Istilah “kisi-kisi” pada Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Bidang Riset tidak bekerja seperti pada Bidang Sains. Peserta Bidang Sains menghadapi tes berbasis soal, sehingga kisi-kisi masuk akal dibaca sebagai cakupan materi dan bentuk soal. Peserta Bidang Riset tidak memulai kompetisi dengan mengerjakan soal. Mereka memulainya dengan menyusun dan mengunggah proposal penelitian. Karena itu, yang paling mendekati “kisi-kisi” di jalur Riset adalah ruang lingkup penelitian, format proposal, dan kriteria yang dipakai juri untuk menilai.

Kriteria itu bukan rahasia. Petunjuk Teknis Pelaksanaan OMI Tahun 2026 mencantumkan enam aspek penilaian substantif proposal: orisinalitas atau keaslian gagasan, kreativitas dan kekinian, relevansi teori dan kajian pustaka yang digunakan, metode riset, kebermanfaatan, serta koherensi dan teknik penulisan. Enam aspek inilah yang seharusnya menjadi acuan siswa dan Bapak/Ibu Guru pembimbing saat menyusun naskah, bukan tebakan soal atau contoh judul juara tahun lalu.

Sebelum sampai ke enam aspek tersebut, proposal melewati saringan lain terlebih dahulu. Penilaian proposal terdiri atas penilaian administratif, termasuk pemeriksaan similarity, dan penilaian substantif. Pemeriksaan similarity bertujuan memastikan orisinalitas proposal melalui pemeriksaan plagiarisme menggunakan aplikasi khusus, seperti Turnitin, dengan batas maksimal 25 persen. Proposal yang tidak memenuhi ketentuan administratif dinyatakan gugur sebelum isinya sempat dinilai.

Satu catatan penting sejak awal: sampai artikel ini diverifikasi, dokumen Juknis dan pemberitaan resmi yang diperiksa tidak merinci bobot persentase untuk masing-masing enam aspek penilaian. Tidak ada angka resmi semacam “orisinalitas 20 persen” atau “metode 25 persen”. Jika Anda menemukan tabel bobot semacam itu di internet, periksa sumbernya. Artikel ini sengaja tidak membuat angka bobot sendiri. Data diperiksa terakhir pada Sabtu, 29 Agustus 2026 pukul 14.52 WIB.


Kisi-Kisi OMI 2026 Bidang Riset Berbeda dengan Bidang Sains

Pada OMI Bidang Sains, peserta mengikuti seleksi berjenjang mulai dari tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, sampai nasional. Sementara itu, OMI Bidang Riset diawali dengan pengajuan proposal penelitian. Perbedaan struktur ini berdampak langsung pada cara peserta bersiap.

Di Bidang Sains, “kisi-kisi” dapat dibaca sebagai cakupan materi, kompetensi yang diuji, dan bentuk soal pada tiap tahap. Peserta bisa berlatih dengan soal nonrutin, mendalami konsep, dan membiasakan diri dengan format tes.

Di Bidang Riset, pola itu tidak berlaku pada tahap awal. Tidak ada paket soal yang dikerjakan peserta ketika mendaftar. Yang dikirim adalah dokumen rancangan penelitian. Karena itu, untuk jalur Riset, istilah “kisi-kisi” paling tepat dipahami sebagai gabungan dari:

  1. ruang lingkup penelitian yang tersedia;
  2. fokus riset pada masing-masing ruang lingkup;
  3. format dan sistematika proposal yang diwajibkan;
  4. batas jumlah kata setiap bagian;
  5. persyaratan administratif dan dokumen pendukung;
  6. ketentuan orisinalitas dan batas similarity;
  7. enam aspek penilaian substantif;
  8. mekanisme seleksi dan jumlah proposal yang diloloskan.

OMI Bidang Riset tidak dapat dipersiapkan hanya dengan menghafal materi. Peserta perlu menghasilkan rancangan penelitian yang memenuhi kriteria ilmiah dan ketentuan Juknis.

Konsekuensinya, pencarian “bocoran soal OMI Riset” adalah pencarian yang salah arah. Tidak ada dokumen bocoran yang bisa menggantikan proposal yang koheren. Sebaliknya, seluruh kriteria yang dipakai juri justru sudah dipublikasikan dalam Juknis dan dapat dibaca siapa pun.

Perlu ditegaskan pula bahwa ketentuan Bidang Sains tidak boleh diterapkan ke Bidang Riset. Rentang kelas peserta berbeda, mekanisme pendaftaran berbeda, dan bentuk penilaiannya sama sekali berbeda. Peserta Bidang Sains berasal dari kelas V atau VI MI, kelas VII sampai IX MTs, dan kelas X sampai XII MA. OMI Riset memiliki ketentuan berbeda, yaitu kelas VII atau VIII MTs serta kelas X atau XI MA. Peserta juga hanya diperbolehkan mengikuti satu bidang kompetisi, sehingga siswa tidak dapat mendaftar Sains dan Riset sekaligus.


Siapa yang Boleh Mengikuti OMI Riset 2026

Sebelum membahas isi proposal, persyaratan peserta perlu dipastikan lebih dulu. Proposal terbaik sekalipun tidak berguna jika penulisnya tidak memenuhi syarat.

Berdasarkan ketentuan Juknis OMI 2026, peserta Bidang Riset harus berkewarganegaraan Indonesia; merupakan siswa MTs kelas VII dan VIII atau MA kelas X dan XI pada Tahun Ajaran 2026/2027; serta belum pernah menjadi juara I OMI tahun 2025 dan tahun sebelumnya pada bidang dan jenjang yang sama.

Ketentuan karya dan tim:

  • Peserta dapat mengikuti kompetisi secara perorangan atau kelompok dengan maksimal tiga orang, terdiri atas satu ketua tim dan dua anggota dari madrasah yang sama.
  • Peserta hanya diperbolehkan mengirim satu judul/proposal riset dan memilih satu ruang lingkup. Setiap madrasah hanya dapat mengirimkan maksimal lima proposal untuk setiap ruang lingkup.
  • Satu judul riset dibimbing maksimal dua pembimbing. Pembimbing berasal dari madrasah dan bertindak sebagai mentor atau konsultan tanpa intervensi.

Dokumen yang wajib dilampirkan: surat pernyataan keaslian karya yang menyatakan proposal belum pernah atau tidak sedang mengikuti lomba/kompetisi riset lainnya dan belum pernah atau tidak sedang dalam proses penerbitan, serta Surat Pengantar Kepala Madrasah. Peserta wajib mengisi formulir pendaftaran dan mengunggah seluruh dokumen persyaratan. Apabila peserta tidak memenuhi persyaratan, peserta dinyatakan gugur.

Poin tentang pembimbing perlu digarisbawahi untuk Bapak/Ibu Guru. Peran mentor berbeda dari peran penulis. Membantu menajamkan pertanyaan penelitian, mengoreksi logika metode, dan mengarahkan bacaan adalah pendampingan. Menuliskan naskah untuk siswa bukan. Perbedaan ini bukan sekadar etika, karena dalam menilai keaslian dan keterlibatan pembimbing, tim juri dapat mengonfirmasi dan mengonfrontasi pihak-pihak terkait dalam riset murid.


Tiga Ruang Lingkup Riset OMI 2026

Bidang Riset dibatasi pada tiga ruang lingkup dan peserta memilih satu saja. Peserta tidak boleh mencampur beberapa ruang lingkup dalam satu proposal. Memilih ruang lingkup bukan formalitas administratif. Pilihan itu menentukan konteks penilaian dan menentukan pada kelompok mana proposal Anda akan bersaing.

Ekoteologi: Integrasi Keislaman dan Keilmuan

Fokus riset yang tercantum: lingkungan dan agama, kurikulum cinta dan kepedulian terhadap bumi/lingkungan, kesehatan dan agama, serta inovasi sains/teknologi dan agama.

Ruang lingkup ini menuntut integrasi yang benar-benar bekerja, bukan tempelan. Menambahkan satu ayat pada latar belakang lalu melanjutkan penelitian sains murni belum tentu memenuhi maksud ekoteologi. Integrasi terasa ketika nilai keislaman ikut membentuk cara masalah dirumuskan, cara data dibaca, atau cara solusi dirancang.

Sustainable Development Goals (SDGs)

Fokus riset yang tercantum: pendidikan dan kualitas sumber daya manusia, sosial, budaya, pengentasan kemiskinan, inovasi praktik pembelajaran (deep learning), serta kesehatan mental dan ketahanan jiwa.

Perlu dicatat bahwa daftar fokus di atas lebih spesifik daripada 17 tujuan SDGs secara keseluruhan. Menyebut “penelitian ini mendukung SDGs” tanpa mengaitkannya dengan fokus yang disebut Juknis tidak membuat proposal otomatis relevan. Sebutkan kaitannya secara konkret.

Transformasi Digital untuk Pembangunan Nasional

Fokus riset yang tercantum: pengembangan sistem pembelajaran adaptif berbasis digital dan kecerdasan buatan dalam bidang-bidang kehidupan masyarakat, seperti pendidikan, bahasa, pertanian, kesehatan, dan etika.

Pada ruang lingkup ini, peserta didorong mengembangkan riset mengenai sistem pembelajaran adaptif berbasis digital dan kecerdasan buatan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan, bahasa, pertanian, kesehatan, dan etika. Perhatikan bahwa etika disebut sebagai salah satu bidang, bukan pelengkap. Riset tentang dampak dan batas penggunaan teknologi punya tempat di sini, sama sahnya dengan riset yang membangun sistem.

Peta Ide Riset: Contoh Pengembangan, Bukan Bocoran

Tabel berikut memisahkan apa yang tertulis di Juknis dari apa yang merupakan ilustrasi redaksi. Kolom ketiga adalah contoh pengembangan ide, bukan bocoran judul atau daftar topik yang dijamin lolos.

Ruang LingkupFokus Resmi (Juknis)Contoh Permasalahan yang Bisa Dieksplorasi (ilustrasi redaksi)
Ekoteologi: Integrasi Keislaman dan KeilmuanLingkungan dan agama; kurikulum cinta dan kepedulian terhadap bumi/lingkungan; kesehatan dan agama; inovasi sains/teknologi dan agamaPengelolaan sampah organik kantin madrasah dan kaitannya dengan pemahaman siswa tentang amanah menjaga lingkungan; efektivitas program penghijauan berbasis kegiatan keagamaan di satu madrasah; pola konsumsi air wudu dan peluang penghematannya
Sustainable Development Goals (SDGs)Pendidikan dan kualitas SDM; sosial; budaya; pengentasan kemiskinan; inovasi praktik pembelajaran (deep learning); kesehatan mental dan ketahanan jiwaPenerapan satu teknik pembelajaran mendalam pada satu mata pelajaran di satu rombel; pemetaan beban belajar dan kelelahan emosional siswa kelas akhir; dokumentasi kearifan lokal yang mulai ditinggalkan di sekitar madrasah
Transformasi Digital untuk Pembangunan NasionalSistem pembelajaran adaptif berbasis digital dan kecerdasan buatan pada bidang pendidikan, bahasa, pertanian, kesehatan, dan etikaPola penggunaan chatbot AI untuk mengerjakan tugas dan dampaknya pada kemampuan menulis siswa; prototipe alat pemantau kelembapan tanah sederhana untuk kebun madrasah; kesiapan literasi digital guru dalam menilai tulisan buatan AI

Contoh di atas dipilih agar realistis: objeknya jelas, dapat dijangkau siswa MTs/MA, tidak menuntut laboratorium mahal, tidak berisiko secara etika, dan tidak menyalin judul pemenang tahun-tahun sebelumnya. Menyalin judul juara lama justru berlawanan dengan aspek pertama yang dinilai.


Format Proposal OMI Riset 2026

Juknis OMI 2026 menyediakan format proposal riset yang harus diikuti. Berikut komponennya:

Identitas

  • Judul (maksimal 15 kata)
  • Ruang Lingkup Riset (pilih salah satu dari tiga)
  • Nama Siswa
  • Asal Madrasah
  • No. HP Pembimbing
  • No. HP Kepala Madrasah

Isi Proposal

  • Latar Belakang Masalah (maksimal 450 kata)
  • Rumusan Masalah dan Tujuan Riset
  • Manfaat Riset
  • Kajian Teori (maksimal 250 kata)
  • Tinjauan Pustaka/Riset Terdahulu (maksimal 500 kata)
  • Hipotesis (jika ada)
  • Metode Riset (maksimal 500 kata), terdiri atas Jenis Riset, Pendekatan Riset, Teknik dan Alat Pengumpul Data, serta Rencana Analisis Data
  • Jadwal Riset
  • Daftar Pustaka

Format ini spesifik untuk OMI 2026. Jangan menggunakan sistematika proposal OPSI, LKIR, atau MYRES edisi lama sebagai penggantinya, karena komponen dan batas katanya berbeda.

Satu hal yang sering terlewat: Rumusan Masalah dan Tujuan Riset ditulis sebagai satu bagian, begitu pula strukturnya yang menyatu. Ini bukan kebetulan format. Penyatuan itu menuntut agar tujuan benar-benar menjawab rumusan masalah, bukan berjalan sendiri-sendiri.

Batas Kata Setiap Bagian Proposal

Bagian ProposalBatas/Ketentuan
JudulMaksimal 15 kata
Latar Belakang MasalahMaksimal 450 kata
Rumusan Masalah dan Tujuan RisetTidak dicantumkan batas kata dalam format yang diperiksa
Manfaat RisetTidak dicantumkan batas kata dalam format yang diperiksa
Kajian TeoriMaksimal 250 kata
Tinjauan Pustaka/Riset TerdahuluMaksimal 500 kata
HipotesisOpsional, “jika ada”
Metode RisetMaksimal 500 kata
Jadwal RisetTidak dicantumkan batas kata dalam format yang diperiksa
Daftar PustakaTidak dicantumkan batas dalam format proposal yang diperiksa

Batas kata ini bukan sekadar aturan teknis. Kajian Teori dibatasi 250 kata, sedangkan Tinjauan Pustaka/Riset Terdahulu diberi ruang dua kali lipat. Artinya, proposal tidak diminta memindahkan buku teks. Yang diminta adalah teori seperlunya, lalu pembacaan atas penelitian yang sudah ada.

Perhatikan juga bahwa Metode Riset hanya diberi 500 kata untuk empat subkomponen sekaligus. Metode yang berbelit hampir pasti tidak muat. Ini sinyal kuat bahwa rancangan yang diminta adalah rancangan yang bisa dijelaskan secara ringkas dan tetap masuk akal.

Catatan tambahan untuk tahap lanjutan: format laporan riset (yang disusun setelah penelitian dilaksanakan) berbeda dan lebih panjang, mencakup abstrak maksimal 200 kata, BAB I maksimal 1.000 kata, BAB II maksimal 1.500 kata, BAB III maksimal 1.000 kata, BAB IV maksimal 3.000 kata, dan BAB V maksimal 500 kata, dengan daftar kepustakaan minimal 15 rujukan dengan komposisi 80 persen artikel jurnal dalam 10 tahun terakhir. Ketentuan 15 rujukan itu berlaku untuk laporan riset, bukan untuk proposal awal.


Enam Aspek Penilaian Proposal OMI Riset 2026

Apa saja yang dinilai dalam proposal OMI Riset 2026? Proposal dinilai berdasarkan enam aspek substantif: orisinalitas atau keaslian gagasan, kreativitas dan kekinian, relevansi teori dan kajian pustaka yang digunakan, metode riset, kebermanfaatan, serta koherensi dan teknik penulisan. Sebelum penilaian substantif, proposal lebih dahulu melewati pemeriksaan administratif yang mencakup kelengkapan dokumen dan pemeriksaan similarity dengan batas maksimal 25 persen.

Penilaian proposal riset meliputi orisinalitas (keaslian) gagasan; kreativitas dan kekinian; relevansi teori dan kajian pustaka yang digunakan; metode riset; kebermanfaatan; serta koherensi dan teknik penulisan. Nama keenam aspek ini dipakai persis seperti dalam dokumen resmi.

Pada penjelasan setiap aspek di bawah ini, ketentuan resmi dan saran praktis sengaja dipisahkan. Yang berasal dari Juknis disebut sebagai ketentuan. Selebihnya adalah cara membaca kriteria, bukan janji nilai.

1. Orisinalitas atau Keaslian Gagasan

Ketentuan resmi. Aspek ini menjadi butir pertama penilaian substantif. Ketentuan pendukungnya tegas: proposal harus karya asli siswa, disertai surat pernyataan keaslian, belum pernah dan tidak sedang diikutkan pada kompetisi riset lain, serta belum dan tidak sedang dalam proses penerbitan.

Cara membaca kriteria ini. Orisinalitas kerap disempitkan menjadi “judul belum pernah dipakai orang”. Padahal keaslian gagasan dapat muncul dari banyak sisi: masalah yang dipilih, sudut pandang yang dipakai, objek atau subjek penelitian, lokasi, pendekatan, variabel yang dihubungkan, kombinasi konsep yang belum lazim dipasangkan, solusi yang ditawarkan, atau pengembangan atas penelitian terdahulu.

Ada baiknya membedakan dua istilah yang sering tertukar. Orisinalitas (originality) berkaitan dengan apakah karya itu benar-benar hasil kerja penulisnya. Kebaruan (novelty) berkaitan dengan apakah karya itu menambahkan sesuatu yang belum ada. Sebuah proposal bisa sepenuhnya orisinal — ditulis sendiri, tanpa jiplakan — tetapi rendah kebaruannya karena mengulang penelitian yang sudah banyak dilakukan. Sebaliknya, ide yang tampak baru tetap kehilangan nilai jika ternyata disalin dari sumber lain.

Peserta dapat mempertimbangkan untuk menelusuri lebih dulu apa yang sudah diteliti orang lain pada topik serupa, lalu menetapkan posisi risetnya sendiri di antara penelitian itu. Langkah ini sekaligus memperkuat aspek ketiga.

2. Kreativitas dan Kekinian

Ketentuan resmi. Aspek kedua dari enam aspek penilaian substantif.

Cara membaca kriteria ini. Empat hal berikut kerap dianggap sama, padahal berbeda:

  • Topik populer — banyak dibicarakan, belum tentu menjadi masalah penelitian.
  • Topik baru — belum banyak diteliti, belum tentu penting.
  • Masalah aktual — persoalan yang benar-benar sedang dihadapi dan relevan diteliti sekarang.
  • Pendekatan kreatif — cara memandang atau menyelesaikan masalah yang tidak biasa, meski masalahnya lama.

Memasukkan kata “AI” ke dalam judul tidak otomatis membuat proposal kreatif atau kekinian. Judul yang menyebut kecerdasan buatan tetapi berisi kuesioner kepuasan sederhana justru memperlihatkan ketidakcocokan antarbagian, dan itu berdampak pada aspek keenam.

Pendekatan yang lebih kuat biasanya berangkat dari masalah nyata di lingkungan peserta, kebutuhan lokal yang bisa diamati langsung, dan penggunaan teknologi sebatas yang memang diperlukan untuk menjawab masalah tersebut.

3. Relevansi Teori dan Kajian Pustaka

Ketentuan resmi. Yang dinilai adalah relevansi teori dan kajian pustaka yang digunakan. Format proposal memisahkan Kajian Teori (maksimal 250 kata) dari Tinjauan Pustaka/Riset Terdahulu (maksimal 500 kata).

Cara membaca kriteria ini. Pemisahan dua bagian itu bukan duplikasi. Keduanya menjawab pertanyaan berbeda:

Kajian TeoriTinjauan Pustaka/Riset Terdahulu
MenjawabKonsep apa yang dipakai untuk memahami masalah ini?Siapa yang sudah meneliti ini dan apa temuannya?
IsinyaDefinisi, konsep, kerangka berpikirRingkasan penelitian sebelumnya dan hasilnya
FungsinyaMemberi alat analisisMenunjukkan posisi dan celah penelitian

Daftar pustaka yang panjang tidak dengan sendirinya membuat proposal kuat. Kualitas rujukan lebih ditentukan oleh relevansinya dengan masalah, kredibilitas sumbernya, kebaruannya, dan hubungannya dengan variabel yang diteliti. Sepuluh jurnal yang benar-benar dibaca dan dipakai berargumen lebih berbobot daripada tiga puluh judul yang hanya ditempel.

4. Metode Riset

Bagian ini pantas mendapat perhatian paling besar, karena di sinilah proposal paling sering runtuh.

Ketentuan resmi. Metode Riset dibatasi maksimal 500 kata dan terdiri atas empat komponen: Jenis Riset, Pendekatan Riset, Teknik dan Alat Pengumpul Data, serta Rencana Analisis Data.

Cara membaca kriteria ini. Metode tidak dinilai berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari rantai:

Rumusan masalah → Tujuan → Metode → Data → Analisis

Setiap anak panah harus bisa dipertanggungjawabkan. Jika rumusan masalah menanyakan “seberapa efektif”, maka harus ada rancangan yang benar-benar mengukur efektivitas — bukan sekadar menanyakan pendapat responden. Jika tujuannya memetakan pengalaman, maka analisis statistik inferensial mungkin justru tidak diperlukan.

Komponen berikut dapat membantu memperjelas rancangan, meski tidak semuanya disebut sebagai butir wajib dalam format proposal: populasi atau subjek, objek penelitian, lokasi, instrumen, variabel, dan prosedur pelaksanaan. Bedakan antara format wajib yang tercantum di Juknis dan elemen metodologis yang sekadar membuat rancangan lebih terbaca.

Metode Bagus Belum Tentu Metode yang Paling Rumit

Ada godaan untuk memilih metode yang terdengar canggih agar proposal tampak serius. Godaan ini sebaiknya ditahan.

Metode yang baik untuk konteks OMI perlu memenuhi lima hal sekaligus: menjawab rumusan masalah, dapat diselesaikan dalam rentang waktu kompetisi, sesuai dengan kemampuan dan fasilitas yang tersedia, menghasilkan data yang benar-benar bisa dianalisis, serta aman dan etis bagi semua pihak yang terlibat.

Perhatikan rentang waktunya. Pelaksanaan riset dijadwalkan berlangsung dari 12 September hingga 20 Oktober 2026 — sekitar lima setengah pekan, berbarengan dengan kegiatan sekolah. Rancangan yang menuntut pelatihan model machine learning kompleks, akses laboratorium mahal, sampel ribuan responden, atau eksperimen berisiko besar kemungkinan tidak akan selesai. Proposal yang menjanjikan hal-hal seperti itu justru memperlihatkan bahwa penulisnya belum memperhitungkan kelayakan pelaksanaan.

5. Kebermanfaatan

Ketentuan resmi. Aspek kelima dari enam aspek penilaian substantif. Format proposal menyediakan bagian Manfaat Riset tersendiri.

Cara membaca kriteria ini. Kalimat “penelitian ini bermanfaat bagi masyarakat” nyaris tidak menyampaikan apa pun. Manfaat menjadi bermakna ketika jelas siapa penerimanya dan apa yang berubah bagi mereka.

Manfaat dapat bersifat ilmiah (menambah pemahaman pada topik tertentu), pendidikan (memberi alternatif praktik pembelajaran), sosial, lingkungan, teknologi, kelembagaan bagi madrasah, atau praktis bagi komunitas lokal — bergantung pada jenis penelitiannya.

Yang perlu dijaga adalah proporsi. Manfaat harus sepadan dengan apa yang benar-benar bisa dihasilkan penelitian tersebut. Klaim seperti “penelitian sederhana ini akan menghapus kemiskinan di Indonesia” tidak menambah kekuatan proposal; ia justru menunjukkan jarak antara ambisi dan rancangan.

6. Koherensi dan Teknik Penulisan

Ketentuan resmi. Aspek keenam dari enam aspek penilaian substantif.

Cara membaca kriteria ini. Koherensi adalah keterhubungan logis antarbagian proposal:

Judul → Latar Belakang → Rumusan Masalah → Tujuan → Teori → Metode → Manfaat

Proposal yang koheren dapat dibaca mundur maupun maju tanpa menemukan sambungan yang putus. Beberapa bentuk ketidakkoherenan yang umum — contoh ilustratif, bukan daftar resmi:

  • judul membahas kecerdasan buatan, tetapi metode hanya berupa kuesioner kepuasan;
  • rumusan masalah menanyakan efektivitas, tetapi tidak ada rancangan untuk mengukurnya;
  • tujuan riset tidak menjawab rumusan masalah yang ditulis sendiri;
  • tinjauan pustaka membahas topik yang tidak berkaitan dengan variabel yang diteliti;
  • manfaat yang dijanjikan terlalu jauh dari kemungkinan hasil penelitian;
  • jadwal riset tidak mencerminkan tahapan metode yang dijelaskan.

Teknik penulisan mencakup hal-hal yang tampak sederhana: konsistensi istilah, kerapian sitasi, kesesuaian daftar pustaka dengan yang benar-benar dikutip, dan kepatuhan pada batas kata.

Tabel Kisi-Kisi Penilaian Proposal

Aspek PenilaianApa yang Perlu Ditunjukkan ProposalKesalahan yang Perlu Dihindari
Orisinalitas (keaslian) gagasanKarya sendiri; posisi riset yang jelas terhadap penelitian terdahulu; kebaruan pada masalah, objek, lokasi, pendekatan, atau kombinasi konsepMenyalin judul atau kerangka proposal juara tahun lalu; mendaur ulang karya yang sudah dilombakan di ajang lain; naskah yang sebagian besar ditulis pembimbing
Kreativitas dan kekinianMasalah aktual yang benar-benar dihadapi; pendekatan yang tidak sekadar meniru pola umum; teknologi dipakai sesuai kebutuhanMenempelkan istilah tren pada judul tanpa perubahan isi; mengangkat topik populer tanpa masalah penelitian yang jelas
Relevansi teori dan kajian pustakaTeori yang benar-benar dipakai menganalisis; riset terdahulu yang dibaca dan dibandingkan; celah penelitian yang ditunjukkanMenumpuk rujukan tanpa fungsi; teori yang tidak berhubungan dengan variabel; daftar pustaka yang tidak muncul di badan tulisan
Metode risetJenis dan pendekatan yang sesuai masalah; teknik dan alat pengumpul data yang konkret; rencana analisis yang cocok dengan jenis dataMetode yang tidak dapat menjawab rumusan masalah; instrumen yang tidak dijelaskan; analisis yang tidak sesuai dengan data yang akan diperoleh; rancangan yang mustahil selesai tepat waktu
KebermanfaatanPenerima manfaat yang spesifik; manfaat yang sepadan dengan hasil yang mungkin dicapaiManfaat generik “bagi masyarakat”; klaim dampak yang jauh melampaui skala penelitian
Koherensi dan teknik penulisanAlur logis dari judul hingga manfaat; konsistensi istilah; sitasi rapi; patuh batas kataBagian-bagian yang saling bertentangan; tujuan yang tidak menjawab rumusan masalah; melewati batas kata; salin-tempel tanpa sitasi

Kolom kedua dan ketiga merupakan interpretasi praktis atas keenam kriteria, bukan rubrik skor resmi. Tabel ini juga tidak menyatakan urutan kepentingan atau bobot nilai, karena Juknis yang diperiksa tidak menerbitkan bobot angka.


Apakah Ada Bobot Persentase Penilaian Proposal OMI?

Apakah ada bobot nilai proposal OMI Riset 2026? Juknis OMI 2026 dan sumber resmi yang diperiksa tidak merinci persentase bobot masing-masing enam aspek penilaian proposal. Dokumen menyebutkan keenam aspek sebagai butir penilaian tanpa menyertakan pembagian angka.

Ini pertanyaan yang paling sering muncul dan paling sering dijawab keliru oleh sumber tidak resmi.

Juknis OMI 2026 yang diperiksa tidak merinci persentase bobot untuk masing-masing enam aspek penilaian proposal. Tidak ditemukan pula skor 1–5, skala 1–100, nilai minimum kelulusan, atau passing grade untuk tahap proposal dalam dokumen dan pemberitaan resmi yang ditelusuri.

Karena itu, tabel seperti berikut tidak boleh dijadikan acuan kecuali suatu saat benar-benar terbit dalam dokumen resmi:

AspekBobot
Orisinalitas20%
Metode25%

Angka-angka semacam itu, jika Anda temukan di internet, kemungkinan besar adalah perkiraan penulis artikel. Menyusun strategi berdasarkan bobot karangan berisiko: peserta bisa mengorbankan aspek yang dianggap “kecil” padahal tidak ada dasarnya.

Yang bisa dipegang lebih sederhana: enam aspek itu semuanya dinilai. Tidak ada informasi resmi yang membenarkan asumsi bahwa metode lebih berat daripada kebermanfaatan, atau bahwa keenamnya berbobot sama. Perlakukan semuanya sebagai hal yang perlu dikerjakan dengan serius.


Sistem Penilaian Proposal OMI Riset 2026

Penilaian proposal berlangsung sebagai alur bertahap, bukan sebagai satu penilaian tunggal. Pelaksanaan penilaian dilakukan oleh tim ad hoc yang dibentuk oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam.

Tahap 1 — Pemeriksaan Administratif

Penilaian pada tahap ini menyangkut kelengkapan dan kesesuaian dokumen dengan persyaratan yang ditentukan.

Berdasarkan ketentuan peserta dan ketentuan proposal, hal-hal yang termasuk dalam lingkup pemeriksaan ini antara lain: kesesuaian jenjang dan kelas peserta; status kewarganegaraan; ketentuan bukan juara I OMI pada bidang dan jenjang yang sama; jumlah anggota kelompok; asal madrasah anggota; jumlah proposal per peserta dan per madrasah; kesesuaian dengan salah satu ruang lingkup; surat pernyataan keaslian karya; Surat Pengantar Kepala Madrasah; kelengkapan formulir pendaftaran; serta ketepatan waktu pengiriman.

Proposal yang tidak sesuai ketentuan tersebut dianggap gugur. Tahap ini tidak menilai kualitas gagasan sama sekali. Proposal dengan ide sangat baik tetap bisa berhenti di sini hanya karena satu dokumen tidak terunggah.

Tahap 2 — Pemeriksaan Similarity

Penilaian similarity dilakukan untuk memastikan orisinalitas proposal melalui pemeriksaan plagiarisme menggunakan aplikasi khusus, seperti Turnitin, dengan batas maksimal 25 persen similarity.

Perhatikan redaksi “aplikasi khusus, seperti Turnitin”. Turnitin disebut sebagai contoh, bukan sebagai satu-satunya perangkat yang pasti dipakai panitia. Menyatakan “panitia pasti memakai Turnitin” berarti menambahkan kepastian yang tidak ada dalam dokumen.

Tahap 3 — Penilaian Substantif

Proposal yang lolos administrasi baru dinilai isinya. Penilaian proposal bertujuan memilih 30 proposal terbaik per bidang dan per jenjang (MTs dan MA) sebagai semifinalis untuk masuk ke tahap selanjutnya. Dalam menilai keaslian dan keterlibatan pembimbing, tim juri dapat mengonfirmasi dan mengonfrontasi pihak-pihak terkait dalam riset murid.

Proposal dinilai berdasarkan enam aspek substantif yang tercantum dalam Juknis. Rincian skor per aspek, rentang nilai, dan bobot tidak diterbitkan dalam dokumen yang diperiksa.


Batas Similarity Proposal OMI Riset 2026

Berapa batas similarity proposal OMI 2026? Batas maksimal similarity yang ditetapkan adalah 25 persen. Pemeriksaan dilakukan pada tahap administratif menggunakan aplikasi khusus seperti Turnitin, untuk memastikan orisinalitas proposal. Angka similarity sendiri tidak identik dengan plagiarisme, karena skor kemiripan menunjukkan hasil pencocokan teks oleh perangkat, sementara penilaian plagiarisme memerlukan pembacaan konteks.

Angka 25 persen ini berlaku sebagai batas maksimal pada pemeriksaan proposal. Namun cara membacanya perlu hati-hati.

Tidak tepat menyimpulkan “24 persen pasti aman”. Skor rendah tetap dapat menyertai masalah serius jika kemiripan itu terkonsentrasi pada bagian inti, misalnya rumusan masalah atau rancangan metode yang disalin dari satu sumber tanpa atribusi.

Tidak tepat pula menyimpulkan “26 persen pasti plagiat”. Skor tinggi bisa berasal dari kutipan yang disitasi dengan benar, istilah baku yang memang tidak bisa diubah, atau daftar pustaka yang ikut terhitung. Yang dinyatakan Juknis adalah batas maksimal similarity pada pemeriksaan; adapun konsekuensi berat dikaitkan dengan proposal yang terbukti plagiasi.

Similarity dan Plagiarisme Bukan Hal yang Sama

Dua istilah ini sering dipertukarkan, padahal berbeda jenis.

Similarity adalah angka. Ia dihasilkan perangkat lunak yang mencocokkan teks proposal dengan basis data dokumen lain. Angka itu netral — ia melaporkan kemiripan, bukan menghakimi.

Plagiarisme adalah penilaian. Ia menyangkut apakah gagasan atau tulisan orang lain diambil dan disajikan sebagai milik sendiri tanpa pengakuan. Menentukannya membutuhkan pembacaan konteks: bagian mana yang mirip, apakah ada sitasi, apakah kemiripan itu wajar untuk jenis kalimat tersebut.

Konsekuensinya nyata dan berat. Proposal yang terbukti plagiasi membuat madrasah asal peserta dikenakan sanksi tidak berhak mengikuti OMI Bidang Riset selama tiga tahun berturut-turut. Sanksi ini menyasar madrasah, bukan hanya individu. Satu proposal bermasalah dapat menutup kesempatan adik-adik kelas selama tiga musim kompetisi.

Menurunkan Similarity Secara Etis

Cara menurunkan angka similarity yang benar hanya satu jenis: memperbaiki cara menulis, bukan mengelabui alat pemeriksa.

Yang bisa dilakukan peserta:

  • membaca sumber sampai paham, lalu menutup sumbernya sebelum menulis;
  • menuliskan gagasan dengan struktur kalimat sendiri, bukan mengganti beberapa kata dari kalimat asli;
  • mencatat referensi sejak awal agar tidak kehilangan jejak sumber;
  • menggunakan kutipan langsung hanya bila kata persisnya memang penting, dan menandainya dengan benar;
  • memastikan setiap gagasan pinjaman punya sitasi;
  • menghindari salin-tempel bahkan untuk draf kasar, karena kalimat salinan cenderung bertahan sampai versi final.

Artikel ini tidak membahas dan tidak akan membahas cara mengakali perangkat pemeriksa kemiripan — termasuk penggantian karakter, penyisipan teks tersembunyi, manipulasi berkas, atau penggunaan alat parafrase otomatis untuk menyamarkan salinan. Praktik semacam itu adalah bentuk kecurangan akademik, bukan solusi teknis, dan risikonya ditanggung madrasah selama tiga tahun.


Berapa Proposal yang Lolos ke Tahap Berikutnya?

Berapa proposal yang lolos OMI Riset 2026? Sebanyak 30 proposal terbaik dipilih pada setiap ruang lingkup dan setiap jenjang. Karena terdapat tiga ruang lingkup dan dua jenjang (MTs dan MA), angka 30 berlaku untuk masing-masing kombinasi, bukan sebagai total keseluruhan semifinalis.

Sebanyak 30 proposal terbaik pada setiap ruang lingkup dan jenjang akan dipilih untuk mengikuti tahap berikutnya.

Ini bagian yang paling mudah disalahpahami. Menulis “30 peserta lolos” adalah penyederhanaan yang menyesatkan. Strukturnya sebagai berikut:

Jenjang MTs

  • Ekoteologi: Integrasi Keislaman dan Keilmuan — 30 proposal terbaik
  • Sustainable Development Goals (SDGs) — 30 proposal terbaik
  • Transformasi Digital untuk Pembangunan Nasional — 30 proposal terbaik

Jenjang MA

  • Ekoteologi: Integrasi Keislaman dan Keilmuan — 30 proposal terbaik
  • Sustainable Development Goals (SDGs) — 30 proposal terbaik
  • Transformasi Digital untuk Pembangunan Nasional — 30 proposal terbaik

Artikel ini tidak menghitung total semifinalis, karena jumlah akhir bergantung pada berapa banyak proposal yang masuk dan lolos administrasi di setiap kombinasi, serta pada kemungkinan ketentuan teknis lain yang tidak dirinci dalam sumber yang diperiksa.

Hal praktis yang bisa diambil dari struktur ini: peserta bersaing di dalam ruang lingkup dan jenjangnya sendiri, bukan melawan seluruh pendaftar OMI Riset. Memilih ruang lingkup yang paling sesuai dengan masalah yang benar-benar dikuasai lebih masuk akal daripada memilih ruang lingkup yang diperkirakan sepi peminat, karena perkiraan semacam itu tidak dapat diverifikasi.


Cara Membaca Kisi-Kisi Penilaian untuk Memperkuat Proposal

Bagian ini adalah panduan editorial, bukan aturan panitia. Urutannya disusun agar keenam aspek penilaian terpenuhi secara alami, bukan dikejar satu per satu di akhir.

Langkah 1 — Pilih masalah sebelum memilih teknologi. Mulai dari sesuatu yang benar-benar mengganggu atau menarik perhatian di lingkungan sekitar. Teknologi menyusul sebagai alat, bukan sebagai titik berangkat.

Langkah 2 — Cocokkan masalah dengan ruang lingkup resmi. Baca ulang fokus riset yang tercantum untuk ketiga ruang lingkup, lalu tentukan mana yang paling wajar menampung masalah tersebut. Jika masalahnya harus dipaksakan agar masuk, kemungkinan ruang lingkupnya belum tepat.

Langkah 3 — Cari penelitian terdahulu. Telusuri apa yang sudah dikerjakan orang lain pada topik serupa. Tahap ini melindungi dari mengulang penelitian yang sudah jenuh sekaligus menyediakan bahan untuk Tinjauan Pustaka.

Langkah 4 — Tentukan celah yang realistis. Celah tidak harus besar. Konteks yang berbeda, populasi yang belum diteliti, atau variabel yang belum dipasangkan sudah merupakan celah yang sah untuk tingkat MTs/MA.

Langkah 5 — Buat rumusan masalah yang dapat dijawab. Uji setiap rumusan dengan pertanyaan sederhana: data seperti apa yang akan menjawabnya? Jika tidak terbayang datanya, rumusan itu perlu dipersempit.

Langkah 6 — Pilih metode yang sesuai, bukan yang paling rumit. Pastikan jenis riset, pendekatan, teknik pengumpulan data, dan rencana analisis benar-benar nyambung dengan rumusan masalah — dan muat dalam 500 kata.

Langkah 7 — Pastikan manfaat dapat dibuktikan. Tuliskan siapa yang akan memperoleh manfaat dan dalam bentuk apa. Hapus klaim yang tidak mungkin dibuktikan oleh rancangan yang sudah dibuat.

Langkah 8 — Periksa koherensi antarbagian. Baca proposal dari judul sampai manfaat dalam satu tarikan, lalu ulangi dari belakang. Sambungan yang putus akan lebih terasa pada pembacaan mundur.

Langkah 9 — Periksa sumber dan sitasi. Pastikan setiap rujukan di daftar pustaka benar-benar muncul di badan tulisan, dan sebaliknya.

Langkah 10 — Cek similarity secara etis dan patuhi batas kata. Periksa kemiripan sebelum mengunggah, perbaiki bagian bermasalah dengan menulis ulang, lalu hitung jumlah kata setiap bagian.

Sepuluh langkah ini tidak menjamin kelolosan. Yang ditawarkan hanyalah kerangka kerja agar proposal disusun berdasarkan kriteria yang benar-benar dipublikasikan.


Contoh Proposal Terlalu Umum vs Lebih Terarah

Contoh berikut sepenuhnya hipotetis dan disusun redaksi sebagai ilustrasi. Contoh ini tidak diambil dari proposal peserta mana pun, dan versi “lebih terarah” tidak dijamin memperoleh nilai tertentu.

KomponenTerlalu UmumLebih Terarah
Judul“Pemanfaatan Kecerdasan Buatan dalam Dunia Pendidikan”“Pola Penggunaan Chatbot AI untuk Tugas Menulis pada Siswa Kelas VIII MTs X”
MasalahTeknologi AI berkembang pesat dan memengaruhi pendidikanGuru bahasa di MTs X kesulitan membedakan tulisan siswa dan tulisan yang dibuat AI, sementara pola penggunaannya belum pernah dipetakan
Rumusan masalahBagaimana pemanfaatan AI dalam pendidikan?Untuk keperluan apa saja siswa kelas VIII MTs X menggunakan chatbot AI dalam tugas menulis, dan bagaimana pola penggunaannya?
TujuanMengetahui manfaat AI bagi pendidikanMemetakan jenis tugas, frekuensi, dan cara siswa kelas VIII MTs X menggunakan chatbot AI dalam mengerjakan tugas menulis
MetodeStudi literatur dan observasiRiset deskriptif, pendekatan kuantitatif-kualitatif; kuesioner tertutup kepada seluruh siswa kelas VIII; wawancara terhadap sebagian responden; analisis distribusi frekuensi dan analisis tematik
ManfaatBermanfaat bagi dunia pendidikanMemberi guru bahasa di MTs X gambaran pola penggunaan AI sebagai dasar menyusun aturan tugas menulis yang lebih tepat

Perbedaan utamanya bukan pada kata-kata yang lebih panjang, melainkan pada objek yang jelas, batas yang tegas, dan rantai logika yang bisa ditelusuri. Versi kedua bisa dikerjakan; versi pertama tidak bisa diselesaikan siapa pun dalam lima setengah pekan.


Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Menulis Proposal

Daftar berikut disusun berdasarkan keenam kriteria penilaian, sebagai tips praktis. Ini bukan daftar resmi alasan diskualifikasi, kecuali untuk butir yang memang dinyatakan Juknis sebagai penyebab gugur.

  1. Judul terlalu luas sehingga tidak menunjukkan objek dan batas penelitian.
  2. Latar belakang panjang tetapi tidak pernah sampai pada masalah yang spesifik.
  3. Mengikuti tren istilah tanpa perubahan pada isi penelitian.
  4. Penelitian terdahulu hanya ditempel berurutan tanpa dibandingkan atau disimpulkan.
  5. Rumusan masalah dan tujuan riset berjalan sendiri-sendiri.
  6. Metode tidak dapat menjawab pertanyaan penelitian yang diajukan.
  7. Instrumen pengumpulan data tidak dijelaskan secara konkret.
  8. Rencana analisis data tidak cocok dengan jenis data yang akan diperoleh.
  9. Manfaat ditulis berlebihan sehingga tidak sepadan dengan rancangan.
  10. Istilah kunci berubah-ubah di sepanjang naskah.
  11. Rujukan berasal dari sumber yang tidak kredibel.
  12. Kalimat salin-tempel bertahan dari draf hingga versi akhir.
  13. Sistematika proposal tidak mengikuti format Juknis 2026.
  14. Melewati batas kata pada bagian yang dibatasi.
  15. Dokumen administrasi tidak diperiksa ulang sebelum tenggat.

Bedakan Tiga Level Kesalahan

Tidak semua kesalahan setara. Membedakannya membantu peserta menentukan mana yang harus diperbaiki lebih dulu.

Jenis MasalahContohPotensi Dampak
AdministratifSurat pengantar kepala madrasah belum diunggah; kelas peserta tidak sesuai ketentuan; melebihi kuota lima proposal per ruang lingkup per madrasah; unggah melewati tenggatJuknis menyatakan proposal yang tidak sesuai ketentuan dianggap gugur. Isi proposal tidak sempat dinilai
Akademik/SubstantifMetode tidak menjawab rumusan masalah; teori tidak relevan; manfaat berlebihan; bagian-bagian tidak koherenBerpengaruh pada penilaian enam aspek substantif. Proposal tetap dinilai, tetapi peluang masuk 30 besar mengecil
Integritas/OrisinalitasMenyalin proposal orang lain; menggunakan karya yang sudah dilombakan di ajang lain; naskah sebenarnya ditulis pembimbingTerkait ketentuan keaslian karya. Proposal yang terbukti plagiasi berdampak pada madrasah asal, yang tidak berhak mengikuti OMI Bidang Riset selama tiga tahun berturut-turut

Urutan penanganannya jelas: pastikan administrasi beres, perbaiki mutu akademik, dan jaga integritas sejak kalimat pertama. Kesalahan administratif paling mudah dicegah tetapi paling mahal akibatnya di tahap awal. Pelanggaran integritas paling mahal akibatnya secara keseluruhan.


Checklist Proposal Sebelum Diunggah

Checklist ini disusun dari ketentuan yang tercantum dalam Juknis serta praktik penyuntingan naskah ilmiah. Tidak ada syarat administrasi tambahan yang ditambahkan di luar dokumen resmi.

Administrasi

  • Peserta berkewarganegaraan Indonesia
  • Peserta MTs kelas VII/VIII atau MA kelas X/XI Tahun Pelajaran 2026/2027
  • Peserta bukan juara I OMI pada bidang dan jenjang yang sama tahun sebelumnya
  • Peserta tidak terdaftar di Bidang Sains
  • Anggota tim maksimal tiga orang dan berasal dari madrasah yang sama
  • Hanya satu judul/proposal diajukan
  • Jumlah proposal madrasah tidak melebihi lima per ruang lingkup
  • Pembimbing maksimal dua orang
  • Surat pernyataan keaslian karya sudah ditandatangani dan diunggah
  • Surat Pengantar Kepala Madrasah sudah diunggah
  • Formulir pendaftaran terisi lengkap
  • Ruang lingkup dipilih satu dan konsisten di seluruh naskah
  • Unggahan dilakukan sebelum 2 September 2026

Isi Proposal

  • Judul maksimal 15 kata dan mencerminkan objek penelitian
  • Latar belakang maksimal 450 kata dan berujung pada masalah yang spesifik
  • Rumusan masalah dapat dijawab dengan data yang direncanakan
  • Tujuan riset menjawab setiap rumusan masalah
  • Manfaat riset menyebut penerima manfaat yang konkret
  • Kajian teori maksimal 250 kata dan benar-benar dipakai
  • Tinjauan pustaka maksimal 500 kata dan menunjukkan celah penelitian
  • Metode riset maksimal 500 kata, memuat jenis riset, pendekatan, teknik dan alat pengumpul data, serta rencana analisis data
  • Jadwal riset sesuai rentang 12 September–20 Oktober 2026
  • Daftar pustaka lengkap dan sesuai dengan yang dikutip

Kualitas

  • Gagasan merupakan karya sendiri, bukan turunan judul juara lama
  • Masalah relevan dengan fokus ruang lingkup yang dipilih
  • Rancangan realistis untuk dikerjakan siswa dalam waktu yang tersedia
  • Alur judul–masalah–tujuan–teori–metode–manfaat tersambung
  • Istilah kunci konsisten dari awal sampai akhir

Integritas

  • Setiap gagasan pinjaman diberi sitasi
  • Kutipan langsung ditandai dengan benar dan digunakan seperlunya
  • Similarity sudah diperiksa dan berada dalam batas maksimal 25%
  • Tidak ada kalimat salin-tempel yang tersisa
  • Naskah benar-benar ditulis siswa, dengan pembimbing berperan sebagai mentor

Apa yang Terjadi Setelah Proposal Dinyatakan Lolos?

Proposal hanyalah pintu masuk. Peserta Bidang Riset melalui sejumlah tahapan, mulai dari pengiriman dan seleksi proposal, presentasi proposal, pembimbingan dan pelaksanaan riset, presentasi hasil riset, hingga tahap final dan expo.

Setelah dinyatakan lolos, peserta mengikuti presentasi proposal, lalu masuk ke masa pembimbingan sekaligus pelaksanaan penelitian, dan mempresentasikan hasilnya. Setelah presentasi hasil riset, akan ditetapkan enam peserta terbaik pada setiap ruang lingkup dan jenjang sebagai grand finalis. Tahap final dan expo dilaksanakan secara luring dengan presentasi hasil riset yang dilengkapi poster dan video riset.

Karena penelitian benar-benar dilaksanakan pada rentang 12 September–20 Oktober 2026, kelayakan rancangan yang ditulis di proposal akan diuji secara nyata. Ini alasan tambahan untuk tidak menjanjikan metode yang tidak mungkin dijalankan.

Sistem Penilaian Presentasi Proposal

Rubrik presentasi berbeda dari rubrik naskah proposal, dan keduanya tidak boleh dicampur.

Presentasi proposal dilakukan secara daring dengan durasi 5 menit dan tidak disertai sesi tanya jawab. Penilaian presentasi proposal mencakup kualitas materi, penataan, kerangka berpikir atau logika, serta kemampuan presentasi yang meliputi penguasaan materi, kejelasan, efektivitas, dan etika.

Dua konsekuensi praktis dari format ini:

Lima menit tanpa tanya jawab berarti tidak ada kesempatan memperbaiki penjelasan yang keliru. Apa pun yang tidak tersampaikan dalam lima menit tidak akan tergali lewat pertanyaan juri. Penataan materi menjadi sangat menentukan.

Yang dinilai di sini bukan lagi enam aspek proposal. Aspek seperti orisinalitas gagasan dan metode riset dinilai pada naskah. Pada presentasi, yang dinilai adalah bagaimana materi disusun dan disampaikan. Karena itu, latihan menyampaikan inti riset dalam batas waktu jauh lebih berguna daripada menambah slide.


Jadwal Lengkap OMI Riset 2026

TahapanJadwal
Sosialisasi21 Agustus 2026
Pendaftaran dan unggah proposal22 Agustus–2 September 2026
Pengumuman hasil penilaian proposal7 September 2026
Presentasi proposal9–11 September 2026
Pembimbingan dan pelaksanaan riset12 September–20 Oktober 2026
Presentasi hasil riset21–23 Oktober 2026
Pengumuman penilaian presentasi27 Oktober 2026
Pengumpulan hasil riset dan draf artikel29–31 Oktober 2026
Final dan Expo10–12 November 2026

Sebagai pembanding, Bidang Sains berjalan pada linimasa berbeda: seleksi tingkat satuan pendidikan 22–26 Agustus 2026, pendaftaran kabupaten/kota 27 Agustus–2 September 2026, pelaksanaan kabupaten/kota 7–8 September 2026, pelaksanaan provinsi 5–6 Oktober 2026, dan pelaksanaan nasional 10–11 November 2026.

Catatan atas perbedaan sumber. Untuk butir “pengumpulan hasil riset dan draf artikel”, sumber yang diperiksa tidak seragam. Tirto mencantumkan 29–31 Oktober 2026, sementara Kompas TV mencantumkan 10 Oktober 2026. Tanggal 29–31 Oktober lebih konsisten dengan urutan tahapan, karena jatuh setelah pengumuman penilaian presentasi pada 27 Oktober. Peserta sebaiknya mengonfirmasi butir ini langsung pada dokumen Juknis dan portal resmi.

Catatan waktu. Pada saat artikel ini diverifikasi, tenggat unggah proposal tinggal beberapa hari lagi. Peserta yang belum mengunggah dokumen sebaiknya memprioritaskan kelengkapan administrasi terlebih dahulu, karena kekurangan satu berkas dapat menggugurkan proposal sebelum isinya dinilai. Kemenag juga menyatakan bahwa jadwal dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga pemantauan portal resmi tetap diperlukan.


Sumber dan Referensi

SumberDokumen/HalamanTanggalInformasi yang Didukung
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama RIKeputusan Dirjen Pendidikan Islam Nomor 6843 Tahun 2026 tentang Juknis Pelaksanaan OMI Tahun 2026 (ditetapkan 18 Agustus 2026)Agustus 2026Dasar hukum pelaksanaan; sistematika Juknis; ketentuan bidang sains dan riset
Direktorat KSKK Madrasah, Kementerian Agama RIKeterangan Direktur KSKK Madrasah Nyayu Khadijah dan Kasubdit Kesiswaan Solla Taufik (melalui pemberitaan ANTARA)28 Agustus 2026Tiga ruang lingkup riset; tahapan Bidang Riset; 30 proposal terbaik per ruang lingkup dan jenjang; 6 grand finalis; final dan expo luring
Portal resmi OMI Kemenagomi.kemenag.go.idAgustus 2026Kanal pendaftaran dan pengumuman resmi
ANTARA News“Kemenag: OMI 2026 perkuat talenta madrasah di bidang sains”28 Agustus 2026Fokus riset transformasi digital; jumlah semifinalis dan grand finalis; jadwal Bidang Riset
Tirto.id“Format Penulisan Proposal Riset & Laporan OMI 2026 dan Mekanisme”26 Agustus 2026Format proposal dan batas kata; fokus tiap ruang lingkup; ketentuan pengiriman proposal; sanksi plagiasi
Tirto.id“Link Unduh Juknis OMI 2026, Jadwal, dan Tahapan Lengkap”26 Agustus 2026Jadwal OMI Riset dan OMI Sains 2026; syarat peserta
Detik“OMI Kemenag 2026: Jadwal, Syarat, Bidang Lomba dan Tahapan”28 Agustus 2026Syarat peserta Bidang Riset; ketentuan kelompok, proposal, dan pembimbing; sanksi plagiasi
Kompas TV“Pendaftaran OMI 2026 Dibuka Mulai 27 Agustus 2026, Ini Link dan Jadwalnya”27 Agustus 2026Jadwal tahapan (dengan perbedaan pada butir pengumpulan hasil riset)
Liputan6“Pendaftaran OMI Kemenag 2026: Jadwal, Syarat, dan Cara Daftar”27 Agustus 2026Tema OMI 2026; mekanisme pendaftaran jalur Riset; catatan bahwa jadwal dapat berubah
Dokumen Juknis OMI Tahun 2025Petunjuk Teknis Pelaksanaan OMI Tahun 20252025Rumusan enam aspek penilaian proposal, mekanisme similarity, dan rubrik presentasi — digunakan sebagai pembanding rumusan, bukan sebagai dasar ketentuan 2026

Catatan Verifikasi Data

Data diperiksa terakhir pada Sabtu, 29 Agustus 2026 pukul 14.52 WIB.

Hal-hal berikut telah diverifikasi pada sumber resmi dan pemberitaan kredibel:

  • nomor dan tanggal penetapan Juknis (Kepdirjen Pendidikan Islam Nomor 6843 Tahun 2026, ditetapkan 18 Agustus 2026);
  • tema resmi OMI 2026;
  • jenjang dan kelas peserta Bidang Riset;
  • ketentuan kelompok, jumlah proposal, dan jumlah pembimbing;
  • nama ketiga ruang lingkup riset beserta fokusnya;
  • format proposal dan batas kata setiap bagian;
  • enam aspek penilaian substantif proposal;
  • adanya pemeriksaan administratif dan pemeriksaan similarity dengan batas maksimal 25 persen;
  • ketentuan 30 proposal terbaik per ruang lingkup dan per jenjang;
  • format dan aspek penilaian presentasi proposal;
  • jadwal tahapan OMI Riset 2026.

Hal-hal berikut tidak ditemukan dalam sumber yang diperiksa, sehingga tidak dicantumkan dan tidak diperkirakan dalam artikel ini:

  • bobot persentase untuk masing-masing enam aspek penilaian proposal;
  • rentang skor, rubrik angka, nilai minimum, atau passing grade tahap proposal;
  • jumlah total pendaftar, jumlah madrasah peserta, atau jumlah total semifinalis;
  • nama-nama juri dan komentar penilaian;
  • rincian mekanisme teknis pemeriksaan similarity di luar penyebutan batas maksimal dan contoh aplikasi.

Untuk butir-butir tersebut berlaku catatan yang sama: belum ditemukan rincian resmi mengenai hal tersebut dalam sumber yang diperiksa.

Satu perbedaan antarsumber tercatat pada tanggal pengumpulan hasil riset dan draf artikel, sebagaimana dijelaskan pada bagian jadwal.

Juknis dapat direvisi. Apabila terdapat perubahan setelah tanggal verifikasi di atas, ketentuan terbaru dari Kementerian Agama, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, dan Direktorat KSKK Madrasah yang berlaku. Peserta dan Bapak/Ibu Guru pembimbing disarankan memeriksa langsung dokumen Juknis serta pengumuman pada portal resmi OMI sebelum mengambil keputusan yang berkaitan dengan tenggat dan persyaratan.

Related Articles