Update Erupsi Anak Krakatau Hari Ini 9 September 2026: Berapa Kali Letusan & Status Terkini

Update Erupsi Anak Krakatau Hari Ini 9 September 2026 Berapa Kali Letusan & Status Terkini

Hingga Rabu, 9 September 2026 pukul 13.45 WIB, Gunung Anak Krakatau tercatat mengalami satu kali erupsi berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui MAGMA Indonesia. Letusan itu terjadi pada dini hari pukul 00.47 WIB dan sampai batas waktu tersebut belum ada laporan erupsi susulan pada hari yang sama.

Erupsi pukul 00.47 WIB terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan durasi 28 detik. Tinggi kolom erupsi tidak teramati karena gunung tertutup kabut. Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, menyatakan visual letusan tidak terlihat meskipun aktivitasnya tetap terekam peralatan pemantauan.

Status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga). Badan Geologi mengimbau masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki untuk tidak mendekati gunung atau beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Aktivitas hari ini merupakan kelanjutan dari fase letusan pendek bertipe strombolian yang muncul setelah episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam pada 4–6 September 2026 berakhir. Badan Geologi menegaskan probabilitas letusan pada periode-periode berikutnya masih tinggi sehingga pemantauan tetap dilakukan penuh.

Berapa Kali Anak Krakatau Erupsi Hari Ini 9 September 2026?

PVMBG mencatat satu kali erupsi Gunung Anak Krakatau sejak pukul 00.00 WIB hingga 13.45 WIB pada Rabu, 9 September 2026.

Angka ini mengacu pada gempa letusan/erupsi yang benar-benar tercatat dalam laporan resmi, bukan pada seluruh jenis kegempaan yang terekam. Laporan periode pengamatan 00.00–06.00 WIB mencatat satu kali gempa letusan/erupsi, dan hingga siang ini belum terbit laporan erupsi individual berikutnya untuk tanggal 9 September.

NoWaktu ErupsiAmplitudoDurasiTinggi KolomKondisi VisualSumber
100.47 WIB51 mm28 detikTidak teramatiGunung tertutup kabutPVMBG/MAGMA Indonesia

Karena hari belum berakhir, angka satu kali erupsi ini bersifat sementara dan dapat bertambah jika PVMBG menerbitkan laporan erupsi baru pada sore atau malam nanti.

Detail Erupsi Anak Krakatau Pukul 00.47 WIB

Erupsi terjadi pada Rabu, 9 September 2026 pukul 00.47 WIB dengan amplitudo maksimum 51 milimeter dan durasi sekitar 28 detik. Dalam keterangannya, PVMBG menyebut tinggi kolom erupsi tidak teramati.

Frasa “tidak teramati” perlu dibaca dengan tepat. Istilah itu berarti petugas tidak dapat mengukur ketinggian kolom karena keterbatasan pandangan, bukan berarti tidak ada material yang dilontarkan. Pada saat kejadian, puncak gunung tertutup kabut tebal sehingga pengamatan visual dan CCTV tidak bisa merekam kolom erupsi.

Kondisi ini juga menjelaskan mengapa tidak ada informasi warna maupun arah kolom abu untuk erupsi tersebut. Data yang tersedia sepenuhnya berasal dari rekaman instrumen seismik.

Apakah Anak Krakatau Masih Erupsi Sekarang?

Erupsi individual pukul 00.47 WIB sudah berakhir setelah 28 detik. Sampai laporan terakhir yang diperiksa, tidak ada indikasi bahwa Anak Krakatau sedang berada dalam fase erupsi menerus seperti pada 4–6 September lalu.

Meski begitu, aktivitas vulkaniknya belum berhenti. Rekaman kegempaan menunjukkan sistem gunung api masih aktif, dan Badan Geologi menyatakan probabilitas terjadinya letusan pada beberapa periode waktu selanjutnya masih tinggi. Dengan kata lain, letusan berikutnya tetap mungkin terjadi sewaktu-waktu tanpa dapat dipastikan waktunya.

Status Gunung Anak Krakatau Hari Ini

Gunung Anak Krakatau berstatus Level III (Siaga). Status ini ditetapkan sejak 2 Juli 2026, saat aktivitasnya dinaikkan dari Level II (Waspada).

Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi menyeluruh hingga 8 September 2026, Badan Geologi menyatakan tingkat aktivitas Anak Krakatau tetap pada Level III. Tidak ada laporan perubahan status pada 9 September 2026 hingga pukul 13.45 WIB.

LevelStatus
INormal
IIWaspada
IIISiaga
IVAwas

Anak Krakatau kini berada satu tingkat di bawah level tertinggi. Perlu digarisbawahi bahwa Level III adalah status yang menuntut kewaspadaan dan pembatasan aktivitas di zona bahaya, bukan indikasi bahwa letusan besar pasti akan terjadi. Badan Geologi menyebutkan status ini tetap berlaku selama surat atau laporan evaluasi berikutnya belum diterbitkan.

Radius Bahaya Anak Krakatau Saat Ini

Rekomendasi PVMBG yang masih berlaku adalah larangan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Larangan ini berlaku untuk masyarakat di sekitar gunung maupun pengunjung, wisatawan, dan pendaki. PVMBG juga meminta peningkatan kewaspadaan terhadap ancaman awan panas, lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengingatkan bahwa lontaran material pijar dapat merusak peralatan yang berada dekat pusat aktivitas dan membahayakan siapa pun yang masuk ke zona terlarang.

Aktivitas Kegempaan Anak Krakatau 9 September

Berikut rekaman kegempaan pada periode pengamatan 00.00–06.00 WIB, 9 September 2026:

Jenis AktivitasJumlahAmplitudoDurasi
Gempa Letusan/Erupsi151 mm28 detik
Low Frequency116 mm6 detik
Hybrid/Fase Banyak126 mm4 detik (S-P tidak teramati)
Tremor MenerusTerekam2–7 mm (dominan 3 mm)Menerus

Penting untuk tidak menjumlahkan seluruh baris tabel di atas sebagai jumlah letusan. Dari empat baris tersebut, hanya satu yang merupakan gempa letusan/erupsi. Sisanya adalah jenis kegempaan lain yang menggambarkan dinamika internal gunung api.

Apa Arti Tremor, Low Frequency, dan Hybrid?

Gempa Low Frequency (LF) pada gunung api umumnya berkaitan dengan pergerakan fluida atau gas vulkanik di dalam sistem gunung. Kehadirannya menjadi salah satu indikator bahwa sistem magmatik dan hidrotermal masih aktif.

Gempa Hybrid atau Fase Banyak memuat karakter gempa frekuensi rendah sekaligus rekahan batuan, sehingga sering dikaitkan dengan proses di tubuh gunung yang melibatkan fluida dan retakan sekaligus.

Tremor menerus adalah getaran seismik yang berlangsung relatif kontinu. Pada gunung api, tremor dapat berhubungan dengan pergerakan fluida, gas, atau magma. Amplitudo 2–7 mm dengan dominan 3 mm tergolong kecil dibandingkan amplitudo gempa letusan hari ini.

Satu catatan penting: kemunculan satu gempa LF atau tremor tidak dapat ditafsirkan sebagai tanda letusan besar akan segera terjadi. Interpretasi resmi hanya bisa dikeluarkan PVMBG dan Badan Geologi setelah menimbang seluruh parameter pemantauan.

Kondisi Visual Anak Krakatau Hari Ini

Pada saat erupsi dini hari, puncak Gunung Anak Krakatau tertutup kabut tebal sehingga tinggi kolom erupsi dan warna abu tidak dapat diamati. Cuaca dilaporkan berawan dengan angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat laut.

Kondisi ini konsisten dengan pola beberapa hari terakhir. Dalam evaluasi periode 7–8 September 2026, Badan Geologi mencatat gunung terlihat jelas hingga tertutup kabut, cuaca cerah hingga mendung, angin lemah hingga sedang ke arah utara dan barat laut, dengan suhu udara sekitar 26–31 derajat Celsius.

Keterbatasan pandangan tidak berarti aktivitas vulkanik berhenti. Pemantauan tetap berjalan melalui seismograf, tiltmeter, CCTV, dan analisis citra satelit, sehingga erupsi tetap tercatat meskipun tidak terlihat mata.

Bagaimana Aktivitas Anak Krakatau Dibanding 8 September?

Perbandingan paling jujur harus memakai periode waktu yang setara, karena data 9 September baru mencakup sekitar 14 jam pertama.

TanggalJumlah ErupsiKarakterKeterangan
8 September 20265 kali (hingga 17.56 WIB)Strombolian, durasi 10–31 detikErupsi pukul 05.08, 05.34, 07.49, 11.34, dan 17.56 WIB
9 September 20261 kali (hingga 13.45 WIB)Strombolian, durasi 28 detikErupsi pukul 00.47 WIB

Pada periode setara 00.00–06.00 WIB, 8 September mencatat dua kali gempa letusan (amplitudo 44–47 mm, durasi 10–15 detik), sementara 9 September mencatat satu kali (51 mm, 28 detik). Pada periode 06.00–12.00 WIB, 8 September mencatat dua kali gempa letusan (48–50 mm, 17–19 detik), sedangkan pada 9 September belum ada laporan erupsi pada rentang jam yang sama.

Frekuensi letusan hari ini terlihat lebih jarang dibanding kemarin. Namun frekuensi bukan satu-satunya ukuran. Amplitudo dan durasi erupsi 00.47 WIB masih berada dalam rentang yang sebanding dengan letusan-letusan kemarin, dan hari ini belum selesai.

Kronologi Aktivitas Anak Krakatau 4–9 September 2026

TanggalPerkembangan Utama
4 SeptemberEpisode erupsi menerus dimulai pukul 23.07 WIB, disertai gemuruh, dentuman, dan semburan lava menyerupai air mancur (lava fountain).
5 SeptemberErupsi menerus berlanjut. Laporan periode 00.00–06.00 WIB mencatat satu gempa letusan dengan amplitudo maksimum 70 mm dan durasi 21.600 detik. Intensitas tertinggi sepanjang 2026.
6 SeptemberEpisode erupsi menerus resmi berhenti pukul 00.04 WIB setelah berlangsung 25 jam. PVMBG mencatat satu erupsi susulan bertipe strombolian pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik.
7 SeptemberEvaluasi Badan Geologi pukul 06.00 WIB: status tetap Level III, tercatat 3 kali erupsi strombolian setelah episode menerus berakhir, probabilitas letusan berikutnya masih tinggi.
8 SeptemberLima kali erupsi tercatat hingga pukul 17.56 WIB. Status tetap Level III berdasarkan evaluasi menyeluruh hingga 8 September.
9 SeptemberSatu kali erupsi pukul 00.47 WIB hingga pukul 13.45 WIB. Status tetap Level III (Siaga).

Erupsi Menerus Anak Krakatau Sudah Berakhir

Kepala PVMBG Siti Sumilah Rita Susilawati menjelaskan bahwa berdasarkan rekaman instrumental, episode gempa erupsi menerus mulai terekam sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan resmi berhenti pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB — total sekitar 25 jam.

Setelah episode itu berakhir, karakter letusan kembali ke tipe strombolian, yaitu letusan pendek yang terjadi secara berkala. Badan Geologi untuk sementara menafsirkan kembalinya erupsi strombolian sebagai penanda berakhirnya episode erupsi menerus yang cukup panjang tersebut.

Perlu ditegaskan bahwa berakhirnya episode menerus tidak sama dengan pulihnya gunung ke kondisi normal. Anak Krakatau tetap berstatus Siaga dan dinamika vulkanismenya masih dipantau serta dievaluasi.

Aktivitas Anak Krakatau Meningkat atau Menurun?

Berdasarkan evaluasi Badan Geologi, energi aktivitas vulkanik yang tercermin dari nilai perataan amplitudo RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) sempat meningkat pada 5 September 2026, lalu menurun kembali pada 6 September 2026.

Dari sisi deformasi, data tiltmeter Stasiun Tanjung memperlihatkan kecenderungan peningkatan (inflasi) sejak awal Agustus 2026, sedangkan Stasiun Lava93 memperlihatkan pola mendatar yang mengindikasikan kondisi konstan.

Kepala Badan Geologi Lana Saria menyebut aktivitas Anak Krakatau meningkat dibandingkan periode sebelumnya, ditandai erupsi yang berulang. Kondisi itu menunjukkan suplai magma dan gas dalam tubuh gunung masih berlangsung. Namun ia menegaskan erupsi yang sering tidak otomatis berarti akan terjadi erupsi yang lebih besar.

Penurunan frekuensi letusan hari ini karena itu tidak boleh dibaca sebagai tanda gunung sudah aman. Yang tepat: sejumlah parameter menunjukkan tren melandai, sementara status bahaya belum diturunkan.

Apakah Masih Ada Potensi Erupsi Susulan?

Ya. Badan Geologi menyatakan probabilitas untuk terjadi letusan dalam beberapa periode waktu selanjutnya masih tinggi.

Tidak ada lembaga resmi yang memprediksi tanggal, jam, kekuatan, atau ketinggian kolom letusan berikutnya. Pemantauan dilakukan secara berkelanjutan, dan tingkat aktivitas akan dievaluasi ulang secara berkala atau jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan.

Potensi Bahaya Anak Krakatau Saat Ini

Berdasarkan evaluasi Badan Geologi, ancaman bahaya erupsi saat ini berasal dari:

  • lontaran batu pijar yang disertai hujan abu lebat;
  • aliran lava, apabila erupsi menerus kembali terjadi;
  • awan panas dan lava, sesuai peringatan dalam rekomendasi resmi PVMBG untuk area dalam radius 3 km.

Bahaya-bahaya tersebut terkonsentrasi di sekitar pusat aktivitas, itulah alasan zona larangan 3 kilometer diberlakukan.

Apakah Erupsi Anak Krakatau Bisa Memicu Tsunami?

Berdasarkan evaluasi Badan Geologi hingga awal September 2026, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 dinilai masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Penilaian ini tercantum dalam Laporan Khusus Badan Geologi Nomor 1512.Lap/GL.03/BGL/2026 tertanggal 5 September 2026 dan ditegaskan kembali oleh Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam konferensi pers 6 September 2026.

Lana menjelaskan tsunami Selat Sunda 22 Desember 2018 terutama berkaitan dengan keruntuhan sebagian tubuh gunung api ke laut dalam volume besar, bukan semata-mata akibat kolom erupsi. Berdasarkan pemetaan morfologi terbaru, bentuk dasar tubuh gunung dan kawah utamanya relatif tidak menunjukkan perubahan signifikan dibanding pemetaan sebelumnya. Meski demikian, ia menambahkan bahwa perkembangan aktivitas dan perubahan morfologi tetap dipantau secara intensif.

Dari sisi pemantauan laut, BMKG menyatakan 20 sensor muka laut (tsunami gauge) di sekitar Selat Sunda tidak mendeteksi anomali muka air laut yang mengindikasikan tsunami. BMKG juga mengoperasikan HF Radar Array berpasangan di Carita dan Tanjung Lesung dengan mode pemantauan tsunami diaktifkan.

PVMBG secara khusus merekomendasikan masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung untuk tetap tenang dan tidak mempercayai isu-isu tentang erupsi Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta melakukan kegiatan seperti biasa dengan mengikuti arahan BPBD setempat.

Perlu dicatat bahwa penilaian di atas berlaku untuk kondisi yang dievaluasi hingga tanggal tersebut dan akan diperbarui jika parameter pemantauan berubah. Letusan Krakatau 1883 dan kondisi Gunung Anak Krakatau 2026 adalah dua peristiwa dengan skala dan morfologi yang sangat berbeda, sehingga membandingkan keduanya secara langsung tidak berdasar secara ilmiah.

Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau Terkini

Berdasarkan analisis citra RGB Himawari-9, BMKG melaporkan sebaran abu vulkanik Anak Krakatau pada Rabu, 9 September 2026 pukul 07.00 WIB teridentifikasi dari permukaan hingga ketinggian 7.000 kaki atau sekitar 2,1 kilometer, bergerak ke arah barat laut, mencakup sebagian wilayah Teluk Lampung.

Pada ketinggian tersebut, BMKG menyebut sebaran abu berpotensi memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang di wilayah terdampak.

Kondisi ini jauh berbeda dari puncak episode 4–6 September, ketika sebaran abu sempat mencapai 50.000 kaki dan menjangkau Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu. Data sebaran abu tanggal 5–7 September karena itu tidak lagi menggambarkan kondisi hari ini.

Wilayah Mana yang Terdampak Abu?

BNPB mencatat sebaran abu vulkanik Anak Krakatau berdampak pada 15 kecamatan di tiga kabupaten: Lampung Selatan dan Tanggamus di Provinsi Lampung, serta Pandeglang di Banten.

Di Lampung Selatan, tujuh kecamatan terdampak yaitu Punduh Pedada, Rajabasa, Kalianda, Ketapang, Bakauheni, Sidomulyo, dan Katibung. Di Pandeglang, empat kecamatan terdampak yakni Carita, Labuan, Panimbang, dan Jiput. Di Tanggamus, wilayah terdampak meliputi Pematang Sawa, Cukuh Balak, Semaka, dan Kota Agung.

Untuk hari ini, arah sebaran abu berdasarkan pemantauan BMKG pukul 07.00 WIB mengarah ke barat laut dan mencakup sebagian Teluk Lampung. Sisa endapan abu dari hari-hari sebelumnya masih ditemukan di sejumlah lokasi, termasuk di ruang kelas dan halaman sekolah di Lampung Selatan.

Kualitas udara masih menjadi perhatian di Bandar Lampung. Berdasarkan pemantauan yang disampaikan Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela pada 8 September, parameter PM10 dan PM2,5 berada dalam kategori sedang, tetapi konsentrasi sulfur dioksida (SO₂) berkisar 210–223 mikrogram per meter kubik atau masuk kategori tidak sehat. Di Lampung Selatan, konsentrasi SO₂ tercatat jauh lebih rendah, sekitar 39,6 mikrogram per meter kubik.

Dampak Erupsi terhadap Penerbangan

Seluruh bandara yang sempat ditutup akibat sebaran abu Anak Krakatau telah kembali beroperasi sejak 8 September 2026. Delapan bandara tersebut adalah Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, Budiarto Curug, Pondok Cabe, Radin Inten II, Muhammad Taufiq Kiemas, dan Atung Bungsu.

Bandara Soekarno-Hatta kembali berstatus open and resumed operations berdasarkan NOTAM A3395/26 mulai pukul 00.30 WIB pada 8 September 2026, sementara Bandara Radin Inten II dibuka melalui NOTAM B1159/26 mulai pukul 09.45 WIB. Pembukaan dilakukan setelah hasil paper test menunjukkan negatif abu vulkanik.

AirNav Indonesia menegaskan seluruh bandara tersebut tetap dalam pemantauan karena awan abu vulkanik masih terdeteksi di wilayah penerbangan, dan pilot diminta tetap berhati-hati selama proses kedatangan dan keberangkatan. Belum ada laporan penutupan bandara baru pada 9 September hingga pukul 13.45 WIB.

Calon penumpang tetap disarankan memeriksa status penerbangan melalui kanal resmi maskapai sebelum berangkat ke bandara.

Dampak terhadap Penyeberangan Merak–Bakauheni

PT ASDP Indonesia Ferry menyatakan operasional penyeberangan lintasan Merak–Bakauheni berjalan normal selama periode erupsi. Cabang Merak dan Cabang Bakauheni tetap melayani pengguna jasa sesuai ketentuan operasional yang berlaku, dengan memperhatikan kondisi cuaca, perairan, serta perkembangan aktivitas Anak Krakatau.

Tidak ada laporan penutupan pelabuhan atau penghentian layanan penyeberangan hingga batas waktu artikel ini diperbarui. ASDP menyatakan akan menyesuaikan operasional apabila terdapat perubahan kondisi, sesuai rekomendasi instansi berwenang. Informasi terbaru dapat diperoleh melalui Contact Center ASDP 191.

Dampak bagi Masyarakat Banten dan Lampung

Di sektor pendidikan, Pemerintah Provinsi Lampung memperpanjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk seluruh satuan pendidikan pada 9–10 September 2026. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Lampung Nomor 100.3.4/14/V.01/2026 dan berlaku untuk jenjang PAUD, TK, SD, SMP, SMA, SMK, hingga SLB.

Keputusan tersebut membatalkan rencana kembali ke pembelajaran tatap muka yang sempat diumumkan pada siang hari 8 September. Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menyebut pertimbangannya adalah erupsi susulan dengan durasi lebih panjang pada Selasa sore serta arah angin yang mengarah ke wilayah Lampung. Perpanjangan ini sekaligus memberi waktu bagi sekolah membersihkan sisa endapan abu.

Di Banten, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi memberlakukan PJJ untuk jenjang SMA, SMK, dan SKh selama 7–9 September 2026. Kabupaten Pandeglang menerapkan PJJ untuk PAUD, SD, dan SMP pada rentang tanggal yang sama, begitu pula Kota Cilegon. Kebijakan setelah 9 September akan menyesuaikan perkembangan kondisi dan rekomendasi instansi berwenang.

Pemerintah daerah juga membagikan masker gratis, melakukan penyiraman jalan untuk mereduksi debu, serta menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca bersama BNPB, BMKG, dan PVMBG.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Terkena Abu Vulkanik?

PVMBG merekomendasikan masyarakat yang terdampak abu vulkanik untuk mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker selama beraktivitas guna menghindari gangguan pernapasan.

Selain itu, arahan pemerintah daerah di wilayah terdampak mencakup:

  • menutup ventilasi rumah ketika terjadi paparan abu vulkanik;
  • melindungi mata, terutama bagi pengendara sepeda motor;
  • menutup sumber dan penampungan air bersih;
  • membersihkan abu dari atap dan halaman secara hati-hati, sebaiknya dalam kondisi basah agar debu tidak beterbangan;
  • mendampingi anak selama belajar dari rumah dan membatasi aktivitas luar ruang;
  • menyiapkan tas siaga bencana.

Bagi warga yang mengalami keluhan pernapasan, mata, atau kulit setelah terpapar abu, sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

Apakah Aman Berwisata Dekat Anak Krakatau?

Tidak. Kawasan dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau merupakan zona terlarang berdasarkan rekomendasi PVMBG. Larangan itu berlaku untuk masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki, tanpa pengecualian untuk keperluan dokumentasi atau konten.

Risiko mendekati kawasan Selat Sunda dalam situasi ini bukan sekadar teoretis. Sebuah speedboat yang mengangkut lima jurnalis dan tiga awak kapal dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda saat melakukan peliputan aktivitas Anak Krakatau. Basarnas, Polda Banten, dan tim SAR gabungan masih melakukan pencarian, termasuk dengan mengerahkan drone termal dan menyisir laut serta pulau-pulau kecil.

Kondisi cuaca laut, jarak pandang, dan lontaran material vulkanik membuat perairan di sekitar gunung tidak layak dikunjungi selama status Siaga berlaku.

Cara Memantau Anak Krakatau Secara Resmi

Masyarakat, pemerintah daerah, dan instansi terkait dapat memantau perkembangan aktivitas dan rekomendasi Gunung Anak Krakatau melalui kanal berikut:

  • MAGMA Indonesiamagma.esdm.go.id (laporan aktivitas per periode enam jam dan notifikasi erupsi individual);
  • PVMBGvsi.esdm.go.id;
  • Badan Geologigeologi.esdm.go.id, serta akun resmi Badan Geologi di Facebook, X, dan Instagram;
  • BMKG — informasi sebaran abu vulkanik, cuaca penerbangan, dan pemantauan muka laut;
  • BPBD Lampung dan BPBD Banten — informasi dampak dan arahan lokal.

Untuk informasi langsung, PVMBG dapat dihubungi di (022) 7272606 Bandung, atau Pos Pengamatan Gunung Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, di (0254) 651449 dan 085846324506.

Waspadai Video Erupsi Anak Krakatau Lama dan Hoaks

Video erupsi lama kerap beredar ulang setiap kali aktivitas gunung api meningkat, sering kali tanpa keterangan tanggal. Sebelum menyebarkan, lakukan pemeriksaan sederhana:

  • Cek tanggal dan sumber asli unggahan, bukan sekadar tanggal ulang bagikan;
  • Bandingkan dengan laporan MAGMA Indonesia — jika video menampilkan kolom abu tinggi sementara laporan resmi menyebut tinggi kolom tidak teramati, ada kemungkinan visual berasal dari kejadian lain;
  • Periksa akun resmi Badan Geologi dan BMKG untuk klarifikasi;
  • Jangan menyebarkan ulang materi yang tidak jelas asal dan waktunya.

Badan Geologi juga mengingatkan bahwa peta satelit sebaran SO₂ yang menampilkan area berwarna merah tidak otomatis berarti masyarakat di wilayah tersebut sedang menghirup gas berbahaya. Peta itu menggambarkan kolom gas di atmosfer, bukan konsentrasi di permukaan.

Terkait isu tsunami, PVMBG secara eksplisit meminta masyarakat pesisir Banten dan Lampung tidak mempercayai isu-isu yang menyebut erupsi Anak Krakatau akan menyebabkan tsunami, dan tetap mengikuti arahan BPBD setempat.


Sumber dan Referensi

  1. PVMBG / MAGMA Indonesia — Laporan aktivitas Gunung Anak Krakatau periode pengamatan 9 September 2026 pukul 00.00–06.00 WIB dan notifikasi erupsi 9 September 2026 pukul 00.47 WIB. Mendukung: jumlah erupsi hari ini, jam erupsi, amplitudo 51 mm, durasi 28 detik, tinggi kolom tidak teramati, data kegempaan, status Level III, radius 3 km.
  2. Badan Geologi Kementerian ESDM — “Perkembangan Erupsi Gunungapi Anak Krakatau Tanggal 7 September 2026”, geologi.esdm.go.id, 7 September 2026 pukul 06.00 WIB. Mendukung: data kegempaan periode 6–7 September, RSAM, tiltmeter Tanjung dan Lava93, durasi episode erupsi menerus 25 jam, potensi bahaya, empat butir rekomendasi resmi, kontak pos pengamatan.
  3. Badan Geologi Kementerian ESDM — Evaluasi aktivitas Gunung Anak Krakatau per 8 September 2026. Mendukung: status tetap Level III hingga 8 September, kegempaan periode 7–8 September, kondisi visual dan cuaca.
  4. Badan Geologi Kementerian ESDM — Laporan Khusus Nomor 1512.Lap/GL.03/BGL/2026, 5 September 2026, dan konferensi pers Kepala Badan Geologi Lana Saria, 6 September 2026. Mendukung: evaluasi morfologi dan potensi tsunami, penjelasan bahaya lontaran material pijar.
  5. Siaran Pers Kementerian ESDM Nomor 050.Pers/04/SJI/2026, 6 September 2026 — pernyataan Kepala PVMBG Siti Sumilah Rita Susilawati. Mendukung: waktu mulai dan berakhirnya episode erupsi menerus, erupsi susulan strombolian pukul 03.53 WIB.
  6. BMKG — Analisis citra RGB Himawari-9, 9 September 2026 pukul 07.00 WIB; siaran pers BMKG 7–8 September 2026. Mendukung: sebaran abu hingga 7.000 kaki ke arah barat laut, dampak pada kualitas udara dan jarak pandang, pemantauan 20 tsunami gauge, HF Radar Array Carita–Tanjung Lesung, hasil paper test bandara.
  7. AirNav Indonesia dan Kementerian Perhubungan — NOTAM A3395/26, B1159/26, dan keterangan Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, 8 September 2026. Mendukung: status pembukaan kembali delapan bandara terdampak.
  8. PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) — keterangan Corporate Secretary Windy Andale. Mendukung: status normal penyeberangan Merak–Bakauheni.
  9. Pemerintah Provinsi Lampung — Surat Edaran Gubernur Lampung Nomor 100.3.4/14/V.01/2026 dan konferensi pers Wakil Gubernur Jihan Nurlela di Command Center BPBD Provinsi Lampung, 8 September 2026 malam. Mendukung: perpanjangan PJJ 9–10 September, data kualitas udara dan konsentrasi SO₂.
  10. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Disdikpora Kabupaten Pandeglang, Dindikbud Kota Cilegon — surat edaran PJJ 7–9 September 2026. Mendukung: kebijakan pembelajaran jarak jauh di Banten.
  11. BNPB — data wilayah terdampak abu vulkanik. Mendukung: daftar 15 kecamatan di Lampung Selatan, Tanggamus, dan Pandeglang.
  12. Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau — keterangan Kepala Pos Suwarno (Hargopancuran, Rajabasa, Lampung Selatan) dan Pengamat Muhammad Dika Nurzaman (Pasauran, Serang). Mendukung: kondisi visual erupsi 9 September, data erupsi menerus 4–5 September.
  13. Media kredibel sebagai konteks tambahan — ANTARA, Kompas.com, CNN Indonesia, Katadata, Liputan6, CNBC Indonesia, Tirto, detikcom, Bisnis.com, dan Basarnas untuk perkembangan pencarian rombongan jurnalis di Selat Sunda. Media digunakan hanya untuk konteks; seluruh angka erupsi, status, dan radius bahaya mengacu pada PVMBG/Badan Geologi.

Related Articles