Arti Skala MMI II, III, dan IV yang Sering Disebut BMKG

Arti Skala MMI II, III, dan IV yang Sering Disebut BMKG

Setiap kali gempa terasa, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hampir selalu menyebut angka Romawi pada bagian “dirasakan”: II MMI, III MMI, atau IV MMI. Banyak orang mengira angka itu adalah kekuatan gempanya. Padahal angka MMI bukan magnitudo.

MMI adalah singkatan dari Modified Mercalli Intensity. Skala ini menggambarkan tingkat guncangan yang dirasakan dan dampaknya di sebuah lokasi. MMI menjawab “seberapa terasa gempa itu di sini”, bukan “seberapa besar gempa itu di sumbernya”.

Gambaran singkatnya: pada II MMI getaran dirasakan beberapa orang dan benda ringan yang digantung bergoyang; pada III MMI getaran terasa nyata di dalam rumah, mirip sensasi truk lewat; pada IV MMI guncangan pada siang hari dirasakan banyak orang di dalam rumah dan sebagian orang di luar, sementara pintu dan jendela dapat berderik serta dinding berbunyi.

Satu kejadian gempa umumnya hanya punya satu nilai magnitudo hasil analisis, tetapi bisa menghasilkan beberapa tingkat MMI sekaligus di daerah berbeda. Itulah sebabnya satu rilis BMKG sering memuat beberapa angka Romawi.

Arti II, III, dan IV MMI Secara Singkat

SkalaArti SingkatGambaran di Lapangan
II MMIMulai terasa oleh sebagian orangBenda ringan yang tergantung bergoyang
III MMITerasa nyata di dalam rumahSensasinya seperti ada truk berlalu
IV MMIDirasakan lebih banyak orangSiang hari dirasakan orang banyak di dalam rumah dan sebagian orang di luar; pintu dan jendela berderik, dinding berbunyi

Isi tabel mengikuti deskripsi resmi Skala MMI pada situs BMKG.

Apa Itu Skala MMI yang Digunakan BMKG?

Skala MMI menggambarkan seberapa kuat guncangan dirasakan serta dampaknya di suatu titik. Penulisannya memakai angka Romawi I sampai XII, dan semakin tinggi angkanya semakin kuat tingkat guncangan yang digambarkan.

Skala ini bermula dari karya vulkanolog Italia Giuseppe Mercalli pada 1902, lalu dimodifikasi pada 1931 oleh seismolog Harry Wood dan Frank Neumann. BMKG mencatat skala ini disusun dari keterangan orang yang mengalami gempa serta perbandingan tingkat kerusakan. Kuncinya satu: MMI menunjukkan intensitas guncangan di lokasi tertentu, sehingga satu gempa bisa punya banyak nilai MMI.

Mengapa BMKG Sering Menyebut II, III, dan IV MMI?

Tiga tingkat ini sering muncul di kolom “dirasakan” karena menggambarkan gempa yang terasa masyarakat tanpa selalu menimbulkan kerusakan. Bagi warga, angka ini lebih berguna daripada magnitudo, sebab magnitudo tidak memberi tahu seberapa keras rumah seseorang ikut bergetar.

Apa Arti II MMI?

II MMI berarti getaran hanya dirasakan oleh beberapa orang, dan benda-benda ringan yang digantung dapat terlihat bergoyang. Ini tingkat paling awal ketika gempa mulai terasa oleh manusia, dan kerusakan bangunan bukan ciri yang disebut pada tingkat ini.

Seperti Apa Rasanya Gempa II MMI?

Tidak semua orang di lokasi yang sama sadar ada gempa. Orang yang duduk diam atau berbaring lebih mudah menangkap getaran halus semacam ini, sementara yang sedang berjalan atau mengendarai motor sering tidak menyadarinya.

Petunjuk yang paling sering dipakai adalah benda gantung: lampu hias atau tirai yang tiba-tiba bergerak sendiri. Ini ilustrasi, sedangkan patokan resminya tetap deskripsi skala BMKG.

Apakah II MMI Berbahaya?

Pada II MMI, penanda utamanya masih berupa getaran yang dirasakan sebagian orang dan gerakan benda ringan. Kerusakan struktural tidak menjadi karakteristik tingkat ini dalam deskripsi skala BMKG.

Meski begitu, keliru menyimpulkan setiap gempa II MMI otomatis aman untuk semua bangunan. Rumah yang sudah retak berat atau benda berat tanpa pengaman punya risikonya sendiri.

Apa Arti III MMI?

III MMI berarti getaran dirasakan nyata di dalam rumah, dengan sensasi seakan-akan ada truk berlalu. Pada tingkat ini penghuni rumah umumnya sadar sedang terjadi gempa, meskipun sebagian orang di luar ruangan bisa saja tidak merasakannya.

Analogi truk dipakai karena efektif. Hampir semua orang pernah merasakan lantai dan kaca jendela bergetar saat kendaraan berat lewat, sehingga intensitasnya bisa dibayangkan tanpa alat ukur.

Seperti Apa Rasanya Gempa III MMI?

  • penghuni rumah menyadari ada getaran dan sering saling bertanya
  • lantai atau ruangan terasa bergetar singkat
  • rasanya menyerupai kendaraan berat yang melintas dekat rumah
  • sebagian benda terlihat bergerak ringan

Getaran biasanya singkat, dan banyak orang baru yakin itu gempa setelah memeriksa aplikasi InfoBMKG.

Apakah III MMI Bisa Merusak Rumah?

Kerusakan struktural bukan ciri utama III MMI berdasarkan deskripsi intensitas BMKG. Tingkat ini digambarkan lewat getaran yang terasa jelas di dalam rumah, bukan lewat tembok retak atau atap runtuh.

Sekalipun begitu, tidak ada jaminan semua bangunan pasti baik-baik saja. Tiga hal perlu dipisahkan: intensitas guncangan, kondisi bangunan sebelum gempa, dan kualitas konstruksinya. Retak baru pada rumah yang sudah bermasalah struktural berasal dari kerentanan bangunan, bukan dari sifat skala III MMI.

Apa Arti IV MMI?

IV MMI berarti pada siang hari guncangan dirasakan orang banyak di dalam rumah dan sebagian orang di luar. Pada tingkat ini jendela atau pintu dapat berderik, dinding berbunyi, dan barang pecah belah dapat terpengaruh sesuai deskripsi resmi skala.

Deskripsi skala adalah gambaran umum, bukan daftar yang pasti terjadi seluruhnya di setiap rumah.

Seperti Apa Rasanya Gempa IV MMI?

Dibanding III MMI, guncangan pada IV MMI terasa lebih tegas dan lebih banyak orang menyadarinya bersamaan. Getaran di dalam bangunan terasa jelas, pintu dan jendela ikut bergetar, terdengar derik kusen, dan benda tertentu dapat bergeser.

Yang bukan gambaran standar IV MMI: rumah roboh, gedung runtuh, jalan terbelah, atau longsor besar. Efek itu berada pada tingkat MMI yang jauh lebih tinggi.

Apakah IV MMI Berarti Gempa Sudah Merusak?

Dua hal sering tertukar: guncangan yang terasa kuat bagi manusia, dan kerusakan struktural yang signifikan. IV MMI menggambarkan yang pertama. Berdasarkan deskripsi BMKG, efeknya lebih menonjol pada pengalaman manusia serta pada bagian nonstruktural seperti pintu, jendela, dan dinding yang berbunyi. Menyamakan IV MMI dengan kerusakan berat adalah kekeliruan yang umum beredar di media sosial.

Perbedaan II, III, dan IV MMI

SkalaSiapa yang Umumnya MerasakanGambaran GetaranEfek pada Benda/Bangunan
II MMIBeberapa orang sajaHalus, mudah terlewat bila sedang beraktivitasBenda ringan yang digantung bergoyang
III MMIPenghuni di dalam rumahNyata terasa, menyerupai truk berlaluBenda ringan bergerak, lantai terasa bergetar
IV MMIOrang banyak di dalam rumah pada siang hari; sebagian orang di luarLebih tegas dibanding III MMIPintu dan jendela berderik, dinding berbunyi, barang pecah belah dapat terpengaruh

Ringkasan sederhananya:

II MMI — mulai terasa oleh sebagian orang. III MMI — terasa nyata di dalam rumah. IV MMI — dirasakan lebih banyak orang dan respons benda serta bagian rumah makin jelas.

Mana yang Lebih Kuat, II, III, atau IV MMI?

IV MMI menunjukkan intensitas guncangan lebih tinggi daripada III MMI, dan III MMI lebih tinggi daripada II MMI. Angka itu berlaku untuk lokasi yang disebut. Menyimpulkan “gempa IV MMI magnitudonya lebih besar daripada gempa III MMI” adalah kesalahan konsep.

Apa Arti II–III MMI dalam Informasi Gempa BMKG?

II–III MMI berarti guncangan di wilayah tersebut berada pada kisaran karakteristik II sampai III MMI menurut laporan dan estimasi yang tersedia. Sebagian orang mungkin hanya merasakan getaran halus, sebagian lain merasakannya lebih nyata di dalam rumah.

Rentang muncul karena satu kabupaten mencakup area luas dengan kondisi tanah dan bangunan beragam. Pada laporan BMKG 5 September 2026, guncangan di Luwuk dicatat II–III MMI.

Dua kekeliruan harus dihindari: menjumlahkan II + III menjadi V MMI, dan merata-ratakannya menjadi “2,5 MMI”. MMI adalah kategori intensitas, bukan bilangan yang bisa dihitung begitu.

Apa Arti III–IV MMI?

III–IV MMI berarti guncangan di wilayah itu berada pada kisaran intensitas III hingga IV MMI. Pada sisi III, getaran terasa nyata di dalam rumah. Pada sisi IV, guncangan dirasakan lebih banyak orang dengan respons lebih jelas pada pintu, jendela, atau benda tertentu.

Rentang ini tidak berarti semua warga mengalami efek identik. Gempa M4,3 berkedalaman 5 km di darat 13 km selatan Kabupaten Cianjur pada 1 September 2026 tercatat dirasakan III–IV MMI di Cianjur, II–III MMI di Kota Sukabumi, serta II MMI di Kota Bandung.

Mengapa Satu Gempa Bisa II MMI di Satu Kota dan IV MMI di Kota Lain?

Gempa M5,4 berkedalaman 10 km di laut 77 km tenggara Cilacap pada 4 September 2026 memberi ilustrasi bagus. Dalam satu kejadian, BMKG mencatat III MMI di Kebumen, Bantul, Cilacap, Kulonprogo, dan Purwokerto; II–III MMI di Pangandaran; serta II MMI di Sleman, Pacitan, dan Wonogiri. Penyebabnya kombinasi faktor berikut.

Jarak dari Sumber Gempa

Daerah yang lebih dekat ke sumber gempa cenderung terguncang lebih kuat karena energi gelombang berkurang seiring jarak. Namun jarak bukan satu-satunya penentu, dan polanya tidak selalu berbentuk lingkaran rapi.

Kedalaman Gempa

Gempa dangkal dapat menghasilkan guncangan permukaan yang lebih terasa di sekitar sumbernya dibanding gempa dalam dengan magnitudo serupa, meski hasil akhirnya tetap bergantung pada kondisi setempat.

Kondisi Tanah dan Geologi Lokal

Jenis material di permukaan memengaruhi intensitas guncangan. Lembah dan endapan sedimen yang belum padat cenderung memperkuat guncangan, fenomena yang dikenal sebagai efek lokal atau site effect. Dua permukiman berjarak beberapa kilometer bisa merasakan intensitas berbeda hanya karena jenis tanahnya berbeda.

Jalur Perambatan Gelombang

Gelombang gempa melewati batuan dengan karakter yang tidak seragam, dan perbedaan sifat batuan sepanjang jalur ini ikut memengaruhi besar guncangan yang akhirnya tiba.

Kondisi Bangunan

Jenis bangunan, materialnya, dan posisi seseorang di dalamnya turut menentukan seberapa kuat getaran terasa. Kota dengan angka MMI lebih tinggi belum tentu berada paling dekat dengan episenter.

MMI Bukan Magnitudo Gempa

⚠️ Jangan Tertukar

Magnitudo = ukuran besarnya gempa pada sumbernya.

MMI = intensitas guncangan dan dampak yang dirasakan pada lokasi tertentu.

Satu kejadian gempa umumnya memiliki satu magnitudo utama dari hasil analisis, sedangkan guncangan yang ditimbulkannya punya banyak nilai berbeda antartempat.

Apa Bedanya MMI dan Magnitudo?

Magnitudo mengukur besar gempa di sumbernya dan ditulis dengan angka desimal, misalnya M5,2. MMI mengukur intensitas guncangan di suatu lokasi dan ditulis dengan angka Romawi, misalnya III MMI. Satu gempa punya satu magnitudo, tetapi banyak nilai MMI.

AspekMagnitudoMMI
MengukurBesarnya gempa di sumberIntensitas guncangan di lokasi tertentu
Ditulis denganAngka desimalAngka Romawi (I–XII)
ContohM5,2III MMI
Dapat berbeda antarwilayahTidak, satu nilai per kejadianYa, bisa berbeda tiap daerah
Berkaitan dengan dampak lokalTidak langsungYa, menggambarkan yang dirasakan setempat
Digunakan BMKGYa, pada parameter gempaYa, pada bagian “dirasakan”

Perlu dicatat, tidak semua magnitudo modern otomatis disebut “Skala Richter”. BMKG menuliskannya dengan format seperti M5,2.

Apakah M4 Sama dengan IV MMI?

Tidak. Ini kekeliruan pencarian yang paling sering muncul, penyebabnya sederhana: angka 4 dan Romawi IV terlihat mirip.

M4 berarti magnitudo sekitar 4, ukuran besar gempa di sumbernya. IV MMI berarti tingkat intensitas keempat dalam Modified Mercalli Intensity, gambaran guncangan di sebuah lokasi. Keduanya tidak bisa dikonversi satu-banding-satu. Tidak ada aturan M4 = IV MMI, apalagi M5 = V MMI.

Apakah IV MMI Lebih Besar dari Gempa M6?

Pertanyaan itu tidak bisa dijawab dengan “lebih besar” atau “lebih kecil” karena membandingkan dua jenis ukuran berbeda, seperti menanyakan mana yang lebih besar antara berat benda dan suhu ruangan.

Apakah Gempa Magnitudo Besar Selalu Menghasilkan MMI Tinggi?

Tidak selalu. Gempa bermagnitudo cukup besar bisa hanya terasa ringan di daerah jauh dari sumber, sedangkan gempa bermagnitudo lebih kecil tetapi dangkal dan dekat permukiman dapat terasa cukup jelas.

Dua catatan BMKG pada 2 September 2026 memperlihatkan hal ini. Gempa M5,5 berkedalaman 100 km di darat 69 km timur laut Kobagma dirasakan II–III MMI di Jayapura dan Wamena serta II MMI di Yakuhimo. Di hari yang sama, gempa M4,3 berkedalaman 11 km di darat 41 km timur laut Ruteng dirasakan IV MMI di Kabupaten Manggarai. Magnitudonya lebih kecil, tetapi intensitasnya justru lebih tinggi.

Bagaimana BMKG Menentukan Intensitas MMI?

Perhatikan kalimat pembuka pada bagian “dirasakan”, karena wordingnya berbeda-beda. Sebagian rilis menulis berdasarkan laporan masyarakat. Sebagian lain menulis berdasarkan laporan masyarakat dan estimasi peta guncangan (shakemap), seperti pada rilis gempa M5,5 di Aceh, 22 Juli 2026.

Jadi keliru menganggap semua nilai MMI murni dari laporan warga, keliru pula menganggap semuanya otomatis dihitung sensor. Untuk peta isoseismal, BMKG menyebut nilai intensitasnya berasal dari rekaman akselerograf, dan pada gempa merusak digabung dengan observasi lapangan lewat survei makroseismik.

Apa Itu Shakemap BMKG?

Shakemap adalah peta tingkat guncangan yang menunjukkan sebaran guncangan akibat sebuah gempa. Warna atau zonanya membedakan daerah yang terguncang lebih kuat dan lebih lemah.

Peta isoseismal mirip tetapi lebih spesifik: menghubungkan daerah dengan tingkat intensitas MMI yang sama. BMKG menerbitkannya bersama ulasan guncangan tanah yang memuat peta guncangan, data instrumen, dan spektra percepatan.

Mengapa Orang di Kota yang Sama Merasakan Gempa Secara Berbeda?

Sering muncul perdebatan kecil di grup keluarga: satu orang yakin merasakan gempa, yang lain sama sekali tidak. Keduanya bisa sama-sama benar.

Persepsi getaran dipengaruhi posisi di dalam atau luar bangunan, sedang diam atau bergerak, lantai tempat berada, karakter bangunan, kondisi tanah setempat, sensitivitas tiap orang, dan jarak terhadap sumber gempa. Perbedaan laporan antartetangga bukan berarti salah satunya keliru.

Apakah Lantai Atas Gedung Terasa Lebih Bergoyang?

Setiap bangunan punya periode alami, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk bergoyang bolak-balik satu siklus. Ketika gelombang gempa datang dengan periode mendekati periode alami bangunan, responsnya bisa menguat. Karena itu penghuni gedung tinggi kadang merasakan guncangan lebih jelas dibanding orang di jalan, bahkan untuk gempa yang jauh.

Ini bukan aturan universal. Respons tiap gedung bergantung pada tinggi, desain, periode alami, konstruksi, dan karakter gelombang gempanya.

Apakah II, III, dan IV MMI Menandakan Potensi Tsunami?

Tidak secara langsung. MMI menggambarkan intensitas guncangan di sebuah lokasi, bukan indikator tsunami.

Status potensi tsunami ditentukan lewat analisis dan pemodelan BMKG melalui InaTEWS, lalu diumumkan sebagai status resmi. Pada rilisnya, BMKG menuliskan hasil pemodelan tsunami secara eksplisit.

Dua anggapan sama-sama menyesatkan: “IV MMI tidak mungkin tsunami” dan “gempa V MMI pasti tsunami”. Rujuk selalu status resmi BMKG dan InaTEWS.

Apakah Semakin Tinggi MMI Semakin Besar Kerusakannya?

Secara umum, naiknya tingkat MMI menggambarkan naiknya intensitas guncangan dan dampak, dan deskripsi kerusakan memang mulai muncul pada tingkat yang lebih tinggi.

Kerusakan nyata di lapangan tetap dipengaruhi kualitas bangunan, material, standar konstruksi, kondisi awal bangunan, karakter guncangan, dan kondisi tanah. Karena itu “IV MMI pasti tidak merusak apa pun” dan “IV MMI pasti merusak bangunan” sama-sama tidak tepat.

Apakah Skala MMI Bersifat Subjektif?

Secara historis, skala intensitas disusun dari apa yang dirasakan manusia, respons benda, dan dampak pada bangunan. BMKG sendiri mencatat sifat itu pada halaman Skala MMI-nya.

Komunikasi gempa modern tidak berhenti di sana. Data instrumen, rekaman akselerograf, dan pemodelan peta guncangan ikut dipakai, dan BMKG terus memperluas jaringan alat ukurnya lewat pemasangan intensitymeter dan accelerograph. Jadi “berbasis pengamatan” tidak berarti “tidak dapat dipercaya”.

Tabel Skala MMI I sampai XII sebagai Konteks

SkalaGambaran Umum
I MMIPraktis tidak dirasakan, kecuali dalam keadaan luar biasa
II MMIFokus artikel — dirasakan beberapa orang, benda ringan yang digantung bergoyang
III MMIFokus artikel — terasa nyata di dalam rumah, seperti truk berlalu
IV MMIFokus artikel — siang hari dirasakan orang banyak dalam rumah, pintu/jendela berderik
V MMIDirasakan hampir semua penduduk, banyak yang terbangun
VI MMISemua penduduk merasakan, banyak yang lari keluar, kerusakan ringan
VII MMIOrang berhamburan keluar; bangunan berkualitas rendah mulai retak
VIII MMIBangunan kuat rusak ringan; dinding bangunan lemah dapat lepas dari rangka
IX MMIBangunan kuat ikut rusak, rumah bergeser dari pondasi
X MMIBangunan kayu kuat rusak, tanah terbelah, longsor di lereng curam
XI MMISangat sedikit bangunan tetap berdiri, jembatan rusak
XII MMIKerusakan total, gelombang tampak di permukaan tanah

Cara Membaca Laporan Gempa BMKG dengan Benar

Ambil contoh berikut:

M5,6 — Kedalaman 10 km — Dirasakan IV MMI di Kota A, III MMI di Kota B, II MMI di Kota C (contoh ilustratif, bukan kejadian aktual)

  • Magnitudo (M5,6) — besarnya gempa pada sumbernya, satu nilai untuk satu kejadian.
  • Kedalaman (10 km) — posisi hiposenter, titik sumber gempa di dalam bumi.
  • Lokasi/episenter — proyeksi pusat gempa di permukaan, ditulis sebagai jarak dan arah dari kota terdekat.
  • IV, III, dan II MMI — intensitas guncangan di masing-masing kota.
  • Informasi tsunami — hanya gunakan status resmi BMKG.

Poin pentingnya: tiga angka MMI itu bukan tiga gempa berbeda, melainkan satu gempa yang dirasakan berbeda-beda di tiga tempat.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Saat Merasakan Gempa II–IV MMI?

Panduan berikut merangkum imbauan resmi BMKG dan berlaku umum untuk setiap gempa yang dirasakan.

Saat guncangan terjadi. Tetap tenang dan lindungi kepala serta badan dari benda jatuh, misalnya berlindung di bawah meja yang kokoh. Bila berada di luar, menjauhlah dari gedung, tiang listrik, dan pohon sambil memperhatikan pijakan.

Setelah guncangan berhenti. Keluar dengan tertib memakai tangga biasa, bukan lift atau tangga berjalan. Periksa kemungkinan kebakaran, kebocoran gas, korsleting listrik, dan kondisi pipa air. Hindari memasuki kembali bangunan yang sudah terguncang karena berpotensi runtuh.

Selanjutnya. Waspadai gempa susulan, ikuti kanal resmi, dan jangan mudah terpancing kabar yang tidak jelas sumbernya. Bagi yang berada di pesisir, BMKG mengimbau menjauhi pantai untuk menghindari tsunami dan mengikuti arahan resmi setempat. Angka II–IV MMI bukan alasan mengabaikan langkah keselamatan dasar.

Di Mana Melihat Informasi Gempa Resmi BMKG?

  • Situs web BMKGwww.bmkg.go.id, termasuk halaman Gempa Bumi Dirasakan dan Gempa Bumi Terkini
  • InaTEWSinatews.bmkg.go.id, untuk gempa bumi dan peringatan dini tsunami
  • Aplikasi InfoBMKG — di Google Play dan App Store, serta aplikasi WRS BMKG
  • Media sosial resmi @infoBMKG — Instagram, X, Facebook, YouTube, dan TikTok
  • Contact Center BMKG 196

Biasakan memverifikasi angka MMI dan status tsunami langsung dari kanal ini sebelum meneruskan informasi ke orang lain.

Sumber dan Referensi

Seluruh sumber diakses pada 6 September 2026.

  1. BMKG — “Skala MMI (Modified Mercalli Intensity)”, bmkg.go.id/gempabumi/skala-mmi. Mendukung: definisi dan kepanjangan MMI, latar belakang Mercalli (1902) dan modifikasi Wood–Neumann (1931), rentang skala I–XII, serta deskripsi resmi tiap tingkat termasuk II, III, dan IV MMI.
  2. BMKG — “Gempa Bumi Dirasakan”, bmkg.go.id/gempabumi/gempabumi-dirasakan. Mendukung: contoh aktual satu gempa dengan beberapa nilai MMI (M5,4 tenggara Cilacap, 4 September 2026), II–III MMI di Luwuk (5 September 2026), III–IV MMI di Cianjur (1 September 2026), dan perbandingan gempa M5,5 kedalaman 100 km di Papua dengan M4,3 kedalaman 11 km di Manggarai (2 September 2026).
  3. BMKG — Rilis gempa bumi M5,5 wilayah Aceh, 22 Juli 2026, bmkg.go.id/gempabumi/20260722112101. Mendukung: frasa “berdasarkan laporan masyarakat dan estimasi peta guncangan (shakemap)”, contoh II MMI, dan format keterangan pemodelan tsunami.
  4. BMKG — Peta Isoseismal, bmkg.go.id/gempabumi/peta-isoseismal. Mendukung: definisi peta isoseismal, sumber nilai intensitas dari rekaman akselerograf dan survei makroseismik, serta rentang MMI I–XII.
  5. BMKG — Ulasan Guncangan Tanah, bmkg.go.id/gempabumi/ulasan-guncangan-tanah. Mendukung: cakupan ulasan berupa peta guncangan, data instrumen, dan spektra percepatan.
  6. BMKG — “BMKG Luncurkan Buku Shakemap Gempabumi Indonesia”, bmkg.go.id/berita/utama. Mendukung: istilah peta tingkat guncangan (shakemap) dan program pemasangan intensitymeter serta accelerograph.
  7. BMKG — “Antisipasi Gempa Bumi”, bmkg.go.id/gempabumi/mitigasi/antisipasi-gempabumi. Mendukung: panduan keselamatan sebelum, saat, dan setelah gempa, termasuk imbauan menjauhi pantai dan tidak menggunakan lift saat evakuasi.
  8. USGS — “Earthquake Magnitude, Energy Release, and Shaking Intensity”, usgs.gov. Mendukung: prinsip satu gempa memiliki satu magnitudo sementara guncangannya bernilai banyak dan bervariasi menurut jarak serta jenis material permukaan.
  9. USGS/ShakeAlert — lembar fakta “Magnitude, Intensity, and ShakeAlert”. Mendukung: lembah dan endapan sedimen yang belum padat cenderung memperkuat guncangan.
  10. USGS — “Earthquake early warning for estimating floor shaking levels of tall buildings” (2022), usgs.gov/publications. Mendukung: penguatan guncangan yang dapat dirasakan penghuni gedung tinggi akibat perilaku dinamis bangunan.

Deskripsi tingkat intensitas dalam artikel ini merujuk pada Skala MMI resmi BMKG dan ditulis ulang dengan bahasa yang lebih sederhana. Untuk keputusan terkait keselamatan, gunakan selalu rilis dan status resmi BMKG.

Related Articles