El Niño 2026 sudah berlangsung dan, menurut pemantauan BMKG pada Dasarian III Agustus 2026, berada pada intensitas sangat kuat. Indeks ENSO rata-rata tiga bulanan Juni–Juli–Agustus (JJA) tercatat 2,2. Anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 pada Agustus mencapai +2,83 °C, sedangkan nilai dasarian terakhir +2,74 °C.
El Niño adalah bagian dari El Niño–Southern Oscillation (ENSO), interaksi laut-atmosfer di Pasifik tropis. Ketika Pasifik tengah dan timur menghangat secara tidak biasa dan atmosfer merespons, pola angin, awan, dan hujan di banyak kawasan, termasuk Indonesia, dapat bergeser.
Dampak utamanya di Indonesia bersifat probabilistik. El Niño meningkatkan peluang curah hujan di bawah normal, kemarau yang lebih kering, kekeringan meteorologis, tekanan pada ketersediaan air, gangguan pertanian, serta kondisi yang mendukung risiko karhutla. Efek itu tidak merata dan tidak menghapus kemungkinan hujan lokal.
Apa Itu El Niño?
El Niño adalah pemanasan tidak biasa pada suhu muka laut di Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang berinteraksi dengan atmosfer sehingga mengubah sirkulasi udara, pertumbuhan awan, dan distribusi hujan. Ia merupakan fase hangat ENSO, bukan sekadar “cuaca panas”.
Dalam kondisi normal, air hangat cenderung menumpuk di Pasifik barat dekat Indonesia, Filipina, dan Australia utara. Saat El Niño, kumpulan air hangat itu bergeser ke timur. Pusat konveksi—wilayah naiknya udara basah yang membentuk awan hujan—ikut bergeser. Akibatnya, sebagian kawasan Maritime Continent, termasuk Indonesia, berpeluang mendapat lebih sedikit hujan pada skala musiman.
Apa Itu ENSO?
ENSO adalah osilasi iklim yang melibatkan Samudra Pasifik tropis dan atmosfer di atasnya. Fase ENSO tidak menentukan cuaca harian, tetapi mengubah peluang pola musim.
| Fase | Kondisi umum |
|---|---|
| El Niño | Pasifik tengah/timur ekuator lebih hangat dari normal, disertai respons atmosfer yang sesuai |
| Netral | Anomali ENSO tidak memenuhi kriteria El Niño atau La Niña |
| La Niña | Pasifik tengah/timur ekuator lebih dingin dari normal, disertai respons atmosfer yang sesuai |
El Niño tidak sama dengan kemarau, dan La Niña tidak sama dengan musim hujan. Keduanya adalah fenomena iklim global dengan dampak regional yang berbeda.
Apa Penyebab El Niño?
El Niño tidak memiliki satu pemicu tunggal. Ia muncul dari umpan balik laut-atmosfer yang saling memperkuat.
Angin pasat
Dalam kondisi normal, angin pasat bertiup dari timur ke barat di sepanjang ekuator Pasifik. Angin ini mendorong air permukaan hangat ke barat dan membantu naiknya air lebih dingin di timur (upwelling). Jika angin pasat melemah atau berbalik sementara, air hangat dapat bergerak ke timur.
Suhu muka laut
Pemanasan di Niño 3.4 dan kawasan timur Pasifik menambah panas dan uap air ke atmosfer. Udara di atas laut yang lebih hangat cenderung naik. Konveksi yang semula lebih sering terjadi di sekitar Indonesia dapat bergeser ke Pasifik tengah.
Termoklin
Termoklin adalah lapisan transisi antara air permukaan yang hangat dan air dalam yang lebih dingin. Saat El Niño, termoklin di Pasifik timur biasanya lebih dalam. Air dingin lebih sulit muncul ke permukaan, sehingga pemanasan di timur bertahan lebih lama.
Sirkulasi Walker
Sirkulasi Walker adalah pola naiknya udara di Pasifik barat dan turunnya udara di Pasifik timur. El Niño melemahkan atau menggeser pola ini. Udara yang turun di atas sebagian Indonesia menghambat pertumbuhan awan.
Bjerknes feedback
Jika laut menghangat di timur dan angin pasat melemah, keduanya saling memperkuat. Laut yang lebih hangat mengubah angin, dan angin yang lebih lemah membuat laut semakin hangat. Mekanisme umpan balik positif ini menjelaskan mengapa El Niño dapat menguat cepat setelah ambang tertentu terlewati.
Gelombang Kelvin ekuatorial—gangguan di laut yang bergerak ke timur—dapat memperdalam termoklin dan menaikkan suhu di Pasifik timur. NOAA mencatat kenaikan suhu bawah permukaan dan peran gelombang Kelvin pada penguatan El Niño 2026.
Bagaimana El Niño Diukur?
Status El Niño tidak ditentukan dari rasa panas di daratan. Lembaga iklim memantau anomali suhu muka laut, durasi anomali, dan respons atmosfer seperti angin pasat, konveksi, serta Southern Oscillation Index (SOI).
NOAA memakai Oceanic Niño Index (ONI), rata-rata tiga bulanan anomali suhu di Niño 3.4. El Niño biasanya dinyatakan jika ONI ≥ +0,5 °C selama beberapa musim tumpang-tindih, disertai sinyal atmosfer. NOAA juga memakai indeks relatif (RONI) untuk membandingkan Pasifik ekuator dengan rata-rata tropis global.
BMKG memantau SSTA Niño 3.4 dasarian dan bulanan serta indeks ENSO tiga bulanan. Angka dari indikator berbeda tidak boleh dicampur tanpa label periode dan sumber.
Apa Itu Niño 3.4?
Niño 3.4 adalah kotak pemantauan di Pasifik ekuator, kira-kira 5°LU–5°LS dan 170°BB–120°BB. Kawasan ini dipilih karena suhu permukaannya paling erat terkait dengan respons atmosfer global.
Nilai yang dikutip publik sering berbeda karena ada indeks harian, mingguan, bulanan, dan tiga bulanan. Pada Agustus 2026, BMKG mencatat SSTA Niño 3.4 bulanan +2,83 °C. NOAA PSL menampilkan Niño 3.4 bulanan Agustus sekitar +1,89 °C dan ONI Juli 2026 +1,80 °C. Perbedaan itu berasal dari dataset, periode, dan baseline klimatologi, bukan dari “dua El Niño yang berbeda”.
Seberapa Kuat El Niño 2026?
Klasifikasi intensitas mengikuti sumber masing-masing. NOAA umumnya memakai: lemah +0,5 hingga +0,9 °C; sedang +1,0 hingga +1,4 °C; kuat +1,5 hingga +1,9 °C; sangat kuat ≥ +2,0 °C pada ONI.
| Indikator | Nilai/kondisi | Periode | Sumber |
|---|---|---|---|
| Niño 3.4 SSTA dasarian | +2,74 °C | Dasarian III Agustus 2026 | BMKG |
| Niño 3.4 SSTA bulanan | +2,83 °C | Agustus 2026 | BMKG |
| Indeks ENSO 3 bulanan | 2,2; El Niño sangat kuat | JJA 2026 | BMKG |
| Niño 3.4 NOAA (Juli) | +1,4 °C | Juli 2026 | NOAA CPC |
| ONI | +1,80 °C | Juli 2026 | NOAA PSL |
| Status NOAA | El Niño Advisory, sedang menguat | 13 Agustus 2026 | NOAA CPC |
| Prediksi intensitas | Peluang El Niño sangat kuat >90% pada musim gugur–dingin BHUtara | Update 13 Agustus 2026 | NOAA CPC |
| Peluang peristiwa historis | 69% OND 2026 melebihi peristiwa sebelumnya sejak 1950 (RONI 3-bulanan ≥ +2,5 °C) | Update 13 Agustus 2026 | NOAA CPC |
BMKG sudah menyebut El Niño kuat pada Juni–Juli, lalu sangat kuat pada pemantauan Agustus berdasarkan indeks tiga bulanan JJA 2,2. NOAA CPC pada 13 Agustus 2026 menyatakan El Niño menguat, dengan peluang sangat kuat lebih dari 90 persen. Diskusi diagnostik NOAA berikutnya dijadwalkan 10 September 2026.
Timeline El Niño 2026
| Periode | Perkembangan |
|---|---|
| Oktober 2025–awal 2026 | La Niña lemah berlangsung; BMKG mencatat La Niña berakhir Februari 2026 |
| Maret–April 2026 | ENSO netral. NOAA 9 April 2026: Final La Niña Advisory dan El Niño Watch |
| Mei 2026 | Ambang El Niño mulai terlewati pada indeks mingguan Niño 3.4 |
| 11 Juni 2026 | NOAA mengeluarkan El Niño Advisory |
| Juni 2026 | BMKG memperingatkan El Niño kategori kuat dan dampak pada kemarau Juli–Oktober |
| Juli 2026 | Penguatan cepat; BMKG menyatakan El Niño kuat dan berpotensi sangat kuat |
| Agustus 2026 | Indeks BMKG JJA 2,2; SSTA Niño 3.4 Agustus +2,83 °C; El Niño sangat kuat |
| Awal September 2026 | El Niño tetap aktif dan sangat kuat; kemarau masih mendominasi sebagian besar wilayah |
| Akhir 2026–awal 2027 | Prediksi puncak dan bertahan; WMO: hampir 100% hingga Februari 2027 |
Pada April 2026, sejumlah penjelasan BMKG masih menekankan bahwa tanda “El Niño Godzilla” belum terlihat dan ENSO berpeluang netral hingga paruh pertama tahun. Observasi Mei–Agustus membalikkan skenario itu. Prakiraan iklim berubah ketika data laut dan atmosfer terbaru masuk.
Mengapa Prediksi El Niño 2026 Bisa Berubah?
Outlook iklim bersifat probabilistik. Model diperbarui setiap bulan. Observasi suhu permukaan, panas bawah permukaan, dan angin pasat dapat bergeser dalam hitungan minggu.
Pada musim semi 2026, rentang hasil model masih lebar: dari netral hingga El Niño kuat. Setelah panas bawah permukaan meningkat dan angin barat ekuator menguat, peluang El Niño kuat hingga sangat kuat naik tajam. NOAA pada Juni masih menyebut peluang El Niño sangat kuat sekitar 63 persen untuk November–Januari; pada Agustus peluang itu sudah lebih dari 90 persen.
Perubahan itu bukan “kesalahan lembaga”, melainkan cara kerja prakiraan musiman. Artikel yang masih mengutip Climate Outlook Desember 2025 atau pernyataan April 2026 sebagai status hari ini sudah kedaluwarsa.
Sampai Kapan El Niño 2026 Diperkirakan Bertahan?
| Sumber | Prediksi durasi/puncak | Tanggal update |
|---|---|---|
| BMKG | Bertahan hingga awal 2027; dampak paling terasa saat berimpit musim kemarau hingga sekitar pertengahan Oktober | Juli–Agustus 2026 |
| NOAA CPC | Bertahan hingga musim semi belahan bumi utara 2027; menguat hingga akhir 2026 | 13 Agustus 2026 |
| WMO | Hampir 100% bertahan hingga Februari 2027; puncak menjelang akhir 2026 | 3 September 2026 |
| BoM | Bertahan hingga musim gugur 2027 di belahan bumi selatan | 1 September 2026 |
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menekankan yang perlu diwaspadai bukan semata lama El Niño, melainkan saat fenomena ini bertepatan dengan musim kemarau. Ia juga menyatakan pengaruh El Niño terhadap kekeringan Indonesia berkurang signifikan ketika musim hujan tiba, sekitar pertengahan Oktober di banyak zona musim. El Niño itu sendiri dapat tetap ada di Pasifik hingga 2027.
Mengapa El Niño Mengurangi Hujan di Indonesia?
Ketika Pasifik tengah dan timur menghangat, pusat konveksi bergeser ke timur. Sirkulasi Walker berubah. Di atas sebagian Indonesia, udara cenderung turun. Penurunan ini menekan pembentukan awan hujan.
Efeknya paling terasa pada skala musiman, terutama di wilayah selatan ekuator saat kemarau. “Bawah normal” berarti akumulasi hujan lebih rendah dari rata-rata klimatologis, bukan nol milimeter.
Apakah El Niño Membuat Indonesia Tidak Hujan?
Tidak. El Niño tidak mematikan hujan di seluruh Indonesia.
Hujan harian tetap dapat terjadi karena suhu muka laut di sekitar perairan Indonesia, Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin dan Rossby ekuator, konvergensi lokal, topografi, dan gangguan skala sinoptik. BMKG pada awal September 2026 tetap memprakirakan hujan lokal, bahkan hujan lebat di sebagian Aceh dan Papua, meski kondisi umum masih kering.
Satu hari hujan lebat bukan bukti El Niño berakhir.
Dampak El Niño 2026 terhadap Cuaca Indonesia
Curah hujan
Pada Dasarian III Agustus 2026, BMKG memprakirakan sekitar 86,62 persen wilayah Indonesia berpeluang curah hujan rendah (0–50 mm per dasarian). Sekitar 13,38 persen berpeluang menengah (50–150 mm). Wilayah kering meliputi sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan sebagian Papua.
Musim kemarau
Prediksi musim kemarau BMKG, termasuk pemutakhiran, menunjukkan sebagian besar zona musim (ZOM) bersifat bawah normal dan berdurasi lebih panjang dari normal. Puncak kemarau terbesar diprakirakan pada Agustus: 369 ZOM atau 48,84 persen luas daratan. September diprakirakan 169 ZOM atau 25,41 persen. Sekitar 81 persen wilayah sudah memasuki musim kemarau pada awal September.
Kekeringan meteorologis
Kekeringan meteorologis adalah defisit hujan dalam periode tertentu. Kekeringan pertanian menyangkut kelembapan tanah dan tanaman. Kekeringan hidrologis menyangkut sungai, waduk, dan air tanah. Ketiganya tidak selalu terjadi bersamaan.
BMKG mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis Dasarian I September 2026 (1–10 September) dengan status Waspada hingga Awas di sejumlah kabupaten/kota, termasuk di Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur.
Suhu udara
El Niño dapat meningkatkan peluang suhu lebih tinggi karena awan berkurang, radiasi matahari naik, dan tanah lebih kering. Itu tidak sama dengan pernyataan bahwa seluruh Indonesia mengalami gelombang panas. Cuaca panas harian tetap dipengaruhi musim, urban heat, dan pola sinoptik.
Wilayah Indonesia yang Berpotensi Paling Terdampak
Kepala BMKG pada Juni 2026 menunjuk Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, dan Papua bagian selatan sebagai wilayah yang berpotensi terdampak lebih signifikan pada Juli–Oktober.
| Wilayah | Potensi kondisi | Periode | Dasar data |
|---|---|---|---|
| Jawa | Kemarau, hujan bawah normal, peringatan kekeringan di sebagian kabupaten | Juli–Oktober 2026 | BMKG |
| Bali | Lebih kering dari normal saat kemarau | Juli–Oktober 2026 | BMKG |
| Nusa Tenggara | Termasuk wilayah paling rentan defisit hujan | Juli–Oktober 2026 | BMKG |
| Sumatra | Lebih terasa di bagian selatan; utara masih bisa mendapat hujan lokal | Juli–Oktober 2026 | BMKG |
| Kalimantan | Bagian selatan lebih kering; hotspot dan karhutla perlu diwaspadai | Juli–September 2026 | BMKG/Kemenhut |
| Sulawesi | Sebagian besar berpotensi puncak kemarau Agustus–September | Agustus–September 2026 | BMKG |
| Maluku | Sebagian masuk puncak kemarau September | September 2026 | BMKG |
| Papua | Bagian selatan dan sebagian pegunungan lebih kering; sebagian wilayah tetap berpeluang hujan | Juli–Oktober 2026 | BMKG |
Puncak kemarau September menurut pemutakhiran BMKG mencakup Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar NTT, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Pegunungan bagian tengah.
Mengapa Dampaknya Berbeda Tiap Wilayah?
Indonesia lintas ekuator. Monsun Asia dan Australia, suhu muka laut lokal, topografi, dan jarak ke pusat konveksi membuat respons tiap pulau berbeda. Wilayah selatan ekuator biasanya lebih sensitif terhadap El Niño saat kemarau. Wilayah utara dapat tetap mendapat gangguan basah dari MJO atau gelombang ekuator.
El Niño dan Musim Kemarau 2026
Musim kemarau adalah siklus tahunan. El Niño adalah osilasi beberapa tahunan. Ketika keduanya berimpit, peluang kemarau lebih kering dan lebih panjang meningkat.
BMKG memperkirakan awal musim hujan di sejumlah daerah mundur. Di Bengkulu, misalnya, BMKG setempat pada 3 September 2026 memprakirakan musim hujan baru pada Dasarian III Oktober, mundur sekitar tiga hingga empat dasarian dari normal akhir September, dengan merujuk indeks El Niño sekitar +2,2.
Tidak semua ZOM mundur atau lebih panjang. Generalisasi “seluruh Indonesia kemarau sepanjang tahun” tidak sesuai data.
El Niño dan Cuaca Panas, Apakah Sama?
Tidak. El Niño adalah fenomena iklim laut-atmosfer di Pasifik. Cuaca panas adalah kondisi suhu udara di suatu tempat pada hari atau pekan tertentu. El Niño dapat menaikkan peluang hari panas, tetapi cuaca panas juga terjadi tanpa El Niño, terutama di musim kemarau dan di kota besar.
Dampak terhadap Ketersediaan Air
Defisit hujan menurunkan pasokan ke sungai, waduk, dan tanah. Kebutuhan irigasi dan rumah tangga meningkat. BMKG menempatkan pengisian waduk, termasuk melalui operasi modifikasi cuaca, sebagai salah satu fokus antisipasi. Klaim waduk tertentu “kritis” hanya sah jika ada data operator bendungan atau kementerian terkait.
BMKG juga memantau ketersediaan air tanah bagi tanaman (ATi). Status “kurang” umumnya jika ketersediaan air tanah di bawah 40 persen.
Dampak terhadap Pertanian
Risiko yang relevan: air irigasi berkurang, jadwal tanam bergeser, stres kekeringan pada padi tadah hujan, palawija, dan hortikultura. Dampak tidak otomatis menjadi gagal panen nasional. Respons bergantung pada jenis tanaman, kalender tanam, irigasi, dan hujan lokal.
Petani perlu memakai informasi iklim BMKG dan penyuluh, bukan menunggu hujan “seperti tahun biasa”.
Dampak terhadap Produksi dan Harga Pangan
Iklim memengaruhi produksi. Harga juga dipengaruhi stok, distribusi, impor, permintaan, dan kebijakan. Kenaikan harga pangan tidak dapat dilekatkan hanya pada El Niño tanpa data ekonomi. Bahasa yang tepat: El Niño meningkatkan risiko gangguan produksi di wilayah terdampak, yang dapat menekan pasokan jika tidak diantisipasi.
Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan
El Niño dan kemarau yang lebih kering meningkatkan peluang bahan bakar lahan menjadi kering. Api tetap membutuhkan sumber penyalaan, sering dari aktivitas manusia.
Observasi 2026 menunjukkan peningkatan hotspot dan operasi pemadaman, terutama di Kalimantan dan Sumatra. Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla Januari–Juli 2026 sebesar 202.010,96 hektare; data Agustus masih dihitung. Banyak hotspot tidak otomatis sama dengan luas bakaran. Kebakaran gambut bisa membara di bawah permukaan.
Puncak risiko karhutla menurut BMKG umumnya Juli–September, lalu berpeluang mereda jika hujan kembali pada Oktober–November di sebagian wilayah.
Dampak terhadap Kualitas Udara
Jika karhutla aktif, asap dapat menaikkan PM2.5 dan memperburuk ISPU. Dampak ini bersifat lokal hingga lintas provinsi, bergantung arah angin. Kualitas udara tidak buruk di seluruh Indonesia hanya karena El Niño ada.
Dampak terhadap Kesehatan
Risiko yang masuk akal secara klimatologis: dehidrasi, heat stress, gangguan pernapasan akibat asap, dan tekanan pada air bersih. Artikel ini bukan diagnosis medis. Informasi kesehatan merujuk layanan dinas kesehatan setempat.
Dampak terhadap Energi
PLTA bergantung pada debit air. Suhu lebih tinggi dapat menaikkan beban pendinginan. Itu skenario risiko, bukan bukti krisis listrik nasional. Pengelolaan waduk menjadi titik krusial.
Dampak terhadap Perikanan
El Niño mengubah suhu laut, upwelling, dan distribusi nutrien di Pasifik timur secara menonjol. Dampak di perairan Indonesia tidak seragam. Tanpa kajian perikanan resmi 2026 yang spesifik, generalisasi hasil tangkapan nasional tidak dilakukan di sini.
Hubungan El Niño dan Indian Ocean Dipole
ENSO berlangsung di Pasifik. IOD berlangsung di Samudra Hindia. Keduanya bisa muncul bersamaan atau terpisah.
| Aspek | El Niño/ENSO | IOD |
|---|---|---|
| Wilayah utama | Pasifik tropis | Samudra Hindia |
| Indikator | Niño 3.4, ONI, SOI | Dipole Mode Index |
| Dampak potensial Indonesia | Menggeser konveksi ke timur; peluang hujan turun di sebagian wilayah | IOD positif cenderung mengurangi hujan di sebagian barat/selatan Indonesia |
| Status 2026 | El Niño sangat kuat (BMKG JJA 2,2) | IOD Agustus +0,376 (BMKG); cenderung positif, prediksi berpeluang menguat |
Ambang IOD positif sering memakai ±0,4. Nilai Agustus +0,376 berada dekat ambang. Dasarian awal Agustus sempat +0,457. WMO memprakirakan IOD positif dengan rataan musiman SON sekitar +0,9 °C. BoM pada 1 September mencatat nilai IOD mereda ke kisaran netral. Status IOD masih perlu dipantau pekan ke pekan.
Jika El Niño kuat bertemu IOD positif, peluang kondisi lebih kering di sebagian Indonesia dapat menguat. Itu skenario, bukan kepastian nasional.
El Niño, IOD, dan Monsun Australia
Monsun Australia memengaruhi angin timuran dan kekeringan di Indonesia bagian selatan pada Juni–September. El Niño dan IOD positif dapat memperkuat sinyal kering itu. Cuaca Indonesia selalu hasil interaksi beberapa penggerak, bukan satu indeks.
Mengapa Masih Bisa Hujan Lebat Saat El Niño?
El Niño bekerja pada skala musim. Hujan lebat bekerja pada skala jam hingga hari. MJO, gelombang ekuator, dan konvergensi lokal dapat menembus latar belakang kering. BMKG secara eksplisit tetap memasang peringatan hujan lebat di sebagian wilayah pada awal September 2026.
El Niño dan Cuaca Ekstrem
El Niño mengubah peluang. Satu banjir, satu puting beliung, atau satu hari 37 °C tidak otomatis “disebabkan El Niño” hanya karena terjadi pada 2026. Atribusi kuat membutuhkan studi khusus.
Perbandingan El Niño 2023 dan 2026
El Niño 2023–2024 termasuk kuat. ONI puncaknya sekitar +1,90 pada NDJ 2023–2024, di bawah ambang sangat kuat NOAA (≥ +2,0). El Niño 2026, pada JJA, sudah mencapai 2,2 menurut BMKG dan masih diprakirakan menguat.
| Aspek | El Niño 2023–24 | El Niño 2026 |
|---|---|---|
| Perkembangan | Menguat 2023, puncak musim dingin 2023/24 | Transisi dari La Niña/netral awal 2026, menguat cepat Juni–Agustus |
| Intensitas | Kuat (ONI puncak ~+1,9) | Sangat kuat menurut BMKG JJA 2,2; NOAA memprakirakan peluang sangat kuat >90% |
| Niño 3.4/ONI | ONI NDJ 2023/24 ~+1,90 | BMKG Niño 3.4 Agustus +2,83; ONI NOAA Juli +1,80 |
| IOD | Perlu dibanding per periode, tidak identik | IOD dekat positif pada Agustus 2026 |
| Indonesia | Kemarau dan risiko karhutla meningkat di 2023 | Observasi 2026: kemarau bawah normal, peringatan kekeringan, peningkatan hotspot |
| Puncak | Musim dingin 2023/24 | Diprakirakan akhir 2026–awal 2027 |
“Lebih parah” hanya sah jika metrik, periode, dan wilayah sama. Intensitas Pasifik 2026 lebih tinggi pada indikator BMKG saat ini, tetapi dampak di Indonesia juga bergantung IOD, monsun, dan respons masyarakat.
Apakah El Niño 2026 Bisa Menjadi Sangat Kuat atau Rekor?
Menurut BMKG, kategori sangat kuat sudah tercapai pada indeks JJA. NOAA memberi peluang 69 persen bahwa OND 2026 menjadi peristiwa historis berdasarkan RONI tiga bulanan ≥ +2,5 °C, yang akan melebihi catatan sejak 1950. Itu probabilitas, bukan fakta yang sudah terjadi. WMO menyatakan peristiwa ini berpotensi sangat kuat dan “luar biasa”, dengan puncak diprakirakan akhir 2026. Istilah “terkuat sepanjang sejarah” belum dapat ditegaskan sebelum puncak terukur.
Apa yang Terjadi Setelah El Niño?
Model terbaru cenderung mempertahankan El Niño hingga awal atau musim semi 2027, lalu berpeluang melemah. La Niña tidak otomatis menyusul setiap El Niño.
Apakah El Niño Disebabkan Perubahan Iklim?
El Niño adalah variabilitas alami sistem iklim. Pemanasan global adalah tren jangka panjang akibat peningkatan gas rumah kaca. Keduanya dapat berinteraksi: El Niño kini terjadi di atas lautan yang secara rata-rata lebih hangat. IPCC dan WMO tidak menyatakan setiap El Niño “dibuat” pemanasan global.
| El Niño | Pemanasan global |
|---|---|
| Variabilitas alami | Tren pemanasan jangka panjang |
| Berlangsung bulan hingga sekitar setahun | Dekade dan lebih panjang |
| Berpusat di Pasifik tropis | Bersifat global |
| Fasenya berganti | Tren temperatur tidak berganti fase seperti ENSO |
Dampak yang Sudah Terjadi vs Masih Diprediksi
| Dampak | Sudah terobservasi | Masih prediksi | Sumber |
|---|---|---|---|
| El Niño aktif/sangat kuat | Ya, JJA 2026 | Penguatan tambahan hingga akhir tahun | BMKG, NOAA, WMO |
| Penurunan hujan | Ya, hujan rendah mendominasi dasarian akhir Agustus | Bawah normal hingga Oktober di banyak ZOM | BMKG |
| Kemarau lebih panjang | Sebagian ZOM sudah lebih awal/lebih kering | Durasi hingga Oktober–November di sejumlah daerah | BMKG |
| Kekeringan meteorologis | Peringatan Waspada–Awas September | Bergantung hujan dasarian berikutnya | BMKG |
| Karhutla/hotspot | Peningkatan hotspot dan luas bakaran Jan–Jul | Risiko tetap tinggi hingga September | BMKG, Kemenhut |
| Ketersediaan air | Tekanan di wilayah kemarau | Pengisian waduk jadi fokus kebijakan | BMKG |
| Pertanian/pangan | Risiko di lahan tadah hujan | Produksi dan harga nasional belum bisa digeneralisasi | Skenario risiko |
Langkah Mitigasi Menghadapi El Niño 2026
Rumah tangga
Hemat air. Periksa sumber air cadangan. Simpan air secara higienis. Pantau InfoBMKG, bukan akun anonim. Waspadai kualitas udara jika ada kabut asap.
Petani dan pelaku pertanian
Sesuaikan kalender tanam dengan prediksi musim. Utamakan informasi iklim dan penyuluh. Jangan menanam di lahan yang cadangan airnya sudah kritis tanpa rencana irigasi.
Wilayah rawan karhutla
Jangan membakar lahan. Patuhi larangan resmi. Laporkan asap atau api. Gambut yang tampak padam masih bisa membara.
Pemerintah daerah
Kelola alokasi air waduk dan irigasi. Siapkan posko kekeringan dan karhutla. Koordinasikan operasi modifikasi cuaca hanya melalui mekanisme resmi. Integrasikan risiko iklim ke perencanaan pangan dan inflasi daerah, sesuai imbauan BMKG kepada kementerian dan pemda.
Cara Memantau Perkembangan El Niño dari Sumber Resmi
Sumber primer Indonesia: BMKG (bmkg.go.id), Analisis Dinamika Atmosfer, Prediksi Musim, peringatan dini kekeringan, dan aplikasi InfoBMKG.
Sumber global: NOAA Climate Prediction Center (ENSO Diagnostic Discussion, update berikutnya 10 September 2026), WMO El Niño/La Niña Update, IRI ENSO plume, dan Bureau of Meteorology Australia.
Tanggal akses data untuk artikel ini: 4 September 2026.
Sumber dan Referensi
- BMKG. Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian III Agustus 2026. Dipublikasikan 2 September 2026. Diakses 4 September 2026. Mendukung indeks IOD +0,290/+0,376, Niño 3.4 +2,74/+2,83, ENSO JJA 2,2.
- BMKG. Prediksi Musim Kemarau Tahun 2026 di Indonesia dan pemutakhirannya. 10 Maret 2026 dan pemutakhiran Juni 2026. Diakses 4 September 2026. Mendukung akhir La Niña Februari 2026, statistik ZOM, sifat bawah normal, durasi kemarau.
- BMKG. “BMKG Dorong Kesiapsiagaan Lintas Sektor Hadapi Dampak El Niño 2026.” 29 Juni 2026. Diakses 4 September 2026. Mendukung wilayah terdampak dan durasi 9–12 bulan.
- BMKG. Prakiraan Cuaca Indonesia Sepekan, periode awal September 2026. 31 Agustus–3 September 2026. Diakses 4 September 2026. Mendukung hujan rendah 86,62 persen wilayah, hujan lokal, dan hotspot.
- NOAA CPC. ENSO Diagnostic Discussion. 13 Agustus 2026; diskusi berikutnya 10 September 2026. Mendukung El Niño Advisory, nilai Juli, peluang sangat kuat >90 persen, peluang historis 69 persen.
- NOAA PSL. El Niño Index Dashboard. Nilai ONI Juli 2026 +1,80 dan Niño 3.4 Agustus 2026. Diakses 4 September 2026.
- World Meteorological Organization. “El Niño set to become very strong, raising risks of extreme weather into 2027.” 3 September 2026. Mendukung persistensi hampir 100 persen hingga Februari 2027 dan prediksi IOD positif.
- Bureau of Meteorology. Southern hemisphere monitoring. 1 September 2026. Mendukung relative Niño 3.4 +2,45 °C, SOI, dan catatan IOD.
- Kementerian Kehutanan, dilansir Kompas.com. Konferensi pers 3 September 2026. Luas karhutla Januari–Juli 2026: 202.010,96 hektare.
- CNN Indonesia dan Kompas, Juli–September 2026. Pendukung pernyataan pejabat BMKG; data primer tetap merujuk BMKG/NOAA/WMO.