Kapal induk adalah kapal perang berukuran besar yang dilengkapi flight deck sepanjang lambung serta fasilitas penerbangan lengkap — hangar, elevator, bahan bakar penerbangan, dan sistem peluncuran maupun pendaratan — sehingga mampu mengoperasikan pesawat dari tengah laut. Fungsinya bukan sekadar mengangkut pesawat, melainkan menjadi pangkalan udara bergerak, pusat komando, sekaligus inti dari sebuah carrier strike group.
Nilai strategisnya terletak pada mobilitas. Kekuatan udara yang biasanya terikat pangkalan darat dapat dipindahkan ribuan kilometer tanpa perlu izin penggunaan lapangan terbang negara lain. Karena itu kapal induk dipandang sebagai instrumen proyeksi kekuatan sekaligus aset paling mahal yang dimiliki sebuah angkatan laut.
Namun tidak semua kapal berdek datar adalah kapal induk. Kapal serbu amfibi seperti LHA dan LHD juga punya flight deck dan sebagian dapat mengoperasikan F-35B, tetapi klasifikasi resmi dan misi utamanya berbeda. Pencampuran kategori inilah yang membuat banyak daftar “kapal induk terbesar” menjadi tidak konsisten.
Untuk menjaga konsistensi, peringkat dalam artikel ini disusun berdasarkan satu metrik: full-load displacement dalam ton metrik. Panjang kapal ditampilkan sebagai kolom pembanding, bukan dasar urutan.
Seluruh spesifikasi dan status kapal diperiksa terakhir pada 4 September 2026. Status armada kapal induk berubah cukup cepat, sehingga data perlu diverifikasi ulang setiap kali artikel diperbarui.
Apa Itu Kapal Induk?
Secara teknis, kapal induk adalah kapal perang yang seluruh desainnya diatur oleh satu kebutuhan: mengoperasikan pesawat di laut. Lambungnya lebar untuk menopang dek penerbangan, ruang dalamnya dialokasikan untuk hangar dan bahan bakar penerbangan, dan sistem kelistrikannya dirancang mendukung katapel, radar, serta peralatan penanganan pesawat.
Definisi “kapal yang membawa pesawat tempur” terlalu sempit. Carrier air wing modern juga mencakup pesawat peringatan dini udara, pesawat perang elektronik, helikopter anti-kapal selam, pesawat angkut, kemampuan tanker udara, hingga pesawat nirawak pada armada tertentu.
Mengapa Kapal Induk Disebut Pangkalan Udara Bergerak?
Pangkalan udara darat bersifat tetap: koordinatnya diketahui dan penggunaannya bergantung pada izin negara tuan rumah. Kapal induk memindahkan fungsi itu ke laut, lengkap dengan landasan, hangar, bengkel perawatan, gudang bahan bakar penerbangan, magazine amunisi, dan pusat komando dalam satu lambung.
Royal Navy menggambarkan konsep serupa untuk Queen Elizabeth-class: kapal induk memberi negara pangkalan udara yang bergerak, sulit dijadikan sasaran, dan dapat dipindahkan antarwilayah tanpa memerlukan izin negara lain.
Meski begitu, kapal induk tidak beroperasi tanpa dukungan. Ia tetap membutuhkan logistik, kapal pengawal, replenishment di laut, perawatan, dan jaringan komunikasi militer. Navy Lookout mencatat bahwa efektivitasnya bergantung pada ketersediaan pesawat, kapal pengawal, senjata, dan personel terlatih — bukan pada ukuran lambung semata.
Apa Fungsi Kapal Induk?
Proyeksi kekuatan udara dari perairan internasional, tanpa bergantung pangkalan darat di kawasan operasi. Air superiority, mendukung penguasaan ruang udara di sekitar gugus tempur. Strike mission, dengan jangkauan yang ditentukan radius tempur pesawat dan dukungan tanker.
Maritime security, mendukung pengamanan jalur pelayaran. Intelligence, surveillance, and reconnaissance, mengumpulkan gambaran situasi di wilayah luas. Airborne early warning, tetapi hanya pada kapal yang mengoperasikan pesawat AEW — kapal CATOBAR seperti Nimitz-class dan Charles de Gaulle dapat menerbangkan AEW sayap tetap, sedangkan kapal STOVL mengandalkan helikopter berradar.
Command and control, sebagai markas terapung komandan gugus tempur. Deterrence: US Navy menyebut kehadiran kapal induk kerap menghalangi tindakan pihak lawan potensial — klaim yang perlu dibaca sebagai konsep strategis, bukan hukum alam. Diplomasi dan kehadiran militer, lewat kunjungan pelabuhan dan latihan bersama.
Bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana, memanfaatkan helikopter untuk evakuasi dan distribusi bantuan, fasilitas medis, kapasitas angkut, serta jaringan komunikasi. Kelengkapan fasilitas ini berbeda antarkapal.
Bagaimana Cara Kerja Kapal Induk?
Pesawat disimpan dan dirawat di hangar, lalu dibawa naik ke flight deck oleh elevator. Kru menyiapkan pesawat, mengisi bahan bakar, dan memasang muatan sebelum pesawat digeser ke titik peluncuran.
Peluncuran dilakukan sesuai sistem kapal — katapel, ski-jump, atau lepas landas pendek. Setelah misi selesai, pesawat mendarat dengan metode yang sesuai desain kapal, lalu dipindahkan untuk pengisian ulang bahan bakar, pemuatan ulang, atau perawatan.
Ritme inilah yang menentukan sortie generation rate. Sebagai gambaran, Marine Nationale menyebut Charles de Gaulle mampu menghasilkan sekitar 100 penerbangan per hari selama tujuh hari dalam kondisi otonomi penuh.
Bagian-Bagian Utama Kapal Induk
Flight deck adalah dek tempat seluruh operasi penerbangan berlangsung; pada Queen Elizabeth-class luasnya sekitar 16.000 meter persegi. Island adalah bangunan atas di sisi kanan yang menampung anjungan navigasi, pengendalian penerbangan, radar, dan komunikasi. Hangar deck menjadi tempat penyimpanan dan perawatan pesawat.
Aircraft elevator memindahkan pesawat antara hangar dan flight deck; pada Queen Elizabeth-class, dua elevator ditempatkan di tepi dek agar pergerakan pesawat tidak memotong landasan utama. Catapult meluncurkan pesawat pada kapal CATOBAR, ski-jump adalah landasan menanjak di haluan, dan arresting gear menahan pesawat saat arrested landing.
Jet blast deflector melindungi kru dari semburan mesin. Magazine menyimpan amunisi dalam kompartemen terlindungi, sedangkan aviation fuel storage menampung bahan bakar penerbangan — komponen yang sering menentukan daya tahan operasional sesungguhnya. Propulsion system berupa reaktor nuklir atau mesin konvensional, dan menentukan kebutuhan infrastruktur pendukung di darat.
Jenis Kapal Induk Berdasarkan Sistem Penerbangan
CATOBAR
Catapult Assisted Take-Off But Arrested Recovery. Pesawat diluncurkan katapel dan mendarat dengan menangkap kabel arresting gear. Sistem ini mendukung pesawat yang relatif berat dan memungkinkan pengoperasian pesawat peringatan dini sayap tetap seperti E-2D Hawkeye atau KJ-600.
Ada dua generasi katapel yang aktif. Steam catapult memakai tenaga uap dan dipakai Nimitz-class serta Charles de Gaulle. Katapel elektromagnetik menggunakan motor linier; versi Amerika Serikat bernama EMALS dan dipasang pada Gerald R. Ford-class, sementara Fujian memakai sistem elektromagnetik yang dikembangkan sendiri oleh China — bukan EMALS.
STOBAR
Short Take-Off But Arrested Recovery. Pesawat lepas landas dengan tenaga mesin sendiri melewati ski-jump, lalu mendarat menggunakan arresting wire. Konsekuensinya nyata: tanpa dorongan katapel ada batas atas berat lepas landas, sehingga pilot harus memilih antara lebih banyak bahan bakar atau lebih banyak senjata. Kapal STOBAR juga sulit menerbangkan pesawat AEW sayap tetap. Contoh aktif: Liaoning, Shandong, INS Vikramaditya, dan INS Vikrant.
STOVL
Short Take-Off and Vertical Landing. Pesawat seperti F-35B lepas landas dengan jarak pendek — sering dibantu ski-jump — dan mendarat vertikal tanpa kabel penahan. Pendekatan ini memangkas biaya, kompleksitas, dan jumlah kru dek spesialis. Kekurangannya, jangkauan dan muatan senjata lebih terbatas dibanding F-35C, dan kapal tidak dapat menerbangkan AEW maupun tanker sayap tetap. Contoh aktif: Queen Elizabeth-class dan Cavour.
Perbedaan CATOBAR, STOBAR, dan STOVL
| Aspek | CATOBAR | STOBAR | STOVL |
|---|---|---|---|
| Cara lepas landas | Dilontarkan katapel | Lari pendek menaiki ski-jump | Lari pendek, sering dibantu ski-jump |
| Cara mendarat | Menangkap kabel arresting gear | Menangkap kabel arresting gear | Mendarat vertikal |
| Catapult | Ada | Tidak ada | Tidak ada |
| Ski-jump | Tidak ada | Ada | Umumnya ada |
| Arresting wire | Ada | Ada | Tidak dipakai untuk operasi rutin |
| Jenis aircraft | Jet berat, AEW sayap tetap, tanker | Jet dengan batas berat lepas landas | Jet STOVL seperti F-35B |
| Kelebihan utama | Muatan dan jangkauan pesawat paling fleksibel | Lebih sederhana daripada CATOBAR | Kapal lebih murah, kru lebih sedikit |
| Keterbatasan | Mahal, kompleks, butuh kru terlatih besar | Berat lepas landas terbatas, sulit AEW sayap tetap | Jangkauan dan muatan pesawat lebih terbatas |
| Contoh kapal | Gerald R. Ford-class, Nimitz-class, Fujian, Charles de Gaulle | Liaoning, Shandong, INS Vikramaditya, INS Vikrant | Queen Elizabeth-class, Cavour |
Bagaimana Pesawat Lepas Landas dari Kapal Induk?
Pada katapel, pesawat dikaitkan ke shuttle yang meluncur di rel dek dan diberi energi tambahan hingga mencapai kecepatan terbang dalam jarak sangat pendek. Katapel uap memakai tekanan uap dari sistem propulsi; katapel elektromagnetik memakai motor linier yang energinya dapat disetel sesuai bobot pesawat, sehingga tekanan struktural pada pesawat lebih terukur.
Ski-jump bekerja berbeda. Landasan menanjak di haluan memberi momentum ke atas saat pesawat meninggalkan dek, sehingga tersedia waktu lebih lama untuk mempercepat. Menurut Royal Navy dan Navy Lookout, ini memungkinkan F-35B lepas landas dengan kombinasi bahan bakar dan senjata lebih besar daripada dari dek datar sepanjang sama. Pada STOVL, sebagian daya dorong dapat diarahkan ke bawah sehingga jarak lepas landas menjadi sangat pendek.
Bagaimana Pesawat Mendarat di Kapal Induk?
Pada kapal CATOBAR dan STOBAR, pesawat melakukan approach ke angled deck, menurunkan arresting hook, dan menangkap salah satu kabel yang membentang melintang dek. Kabel menyerap energi dan menghentikan pesawat dalam jarak sangat pendek, dibantu sistem panduan pendaratan optik dan elektronik. Pada kapal STOVL, pesawat melayang di samping kapal, bergeser ke atas titik pendaratan, lalu turun vertikal tanpa perlu menangkap kabel.
Kenapa Flight Deck Kapal Induk Tidak Selalu Lurus?
Angled deck adalah landasan pendaratan yang dimiringkan beberapa derajat terhadap sumbu kapal. Desain ini memungkinkan pesawat yang gagal menangkap kabel langsung menambah tenaga dan terbang kembali tanpa menabrak pesawat yang diparkir di depan dek, sekaligus membuat peluncuran dan pendaratan lebih paralel. Kapal STOVL seperti Queen Elizabeth-class tidak memerlukannya karena pesawatnya mendarat vertikal.
Kenapa Island Kapal Induk Berada di Samping?
Menempatkan bangunan atas di sisi kanan menjaga sebagian besar flight deck tetap bebas hambatan, sekaligus menyatukan anjungan navigasi, pengendalian penerbangan, radar, dan antena komunikasi dalam satu struktur ringkas.
Queen Elizabeth-class memakai dua island. Menurut Navy Lookout, alasan utamanya propulsi: masing-masing island menampung saluran gas buang untuk satu dari dua turbin gas MT30. Pemisahan ini meningkatkan survivabilitas, mengurangi turbulensi di atas dek, memberi jarak baik antarradar, dan mengurangi trunking gas buang yang melewati hangar. Island depan untuk navigasi, island belakang untuk pengendalian penerbangan.
Kapal Induk Nuklir vs Konvensional
| Aspek | Nuklir | Konvensional |
|---|---|---|
| Sumber tenaga | Reaktor air bertekanan yang menghasilkan uap | Turbin uap, turbin gas, atau diesel |
| Endurance propulsi | Sangat panjang; reaktor tidak diisi ulang bertahun-tahun | Terbatas kapasitas tangki bahan bakar |
| Kebutuhan bahan bakar kapal | Tidak perlu pengisian rutin | Perlu pengisian berkala |
| Kompleksitas | Tinggi, butuh personel dan prosedur khusus | Lebih sederhana |
| Infrastruktur | Perlu galangan berkemampuan nuklir, termasuk untuk defueling | Infrastruktur galangan umum |
| Contoh | Gerald R. Ford-class, Nimitz-class, Charles de Gaulle | Fujian, Shandong, Liaoning, Queen Elizabeth-class, INS Vikrant, Cavour |
Poin yang sering disalahpahami: propulsi nuklir bukan berarti kapal tidak pernah perlu disuplai. Bahan bakar reaktor dan bahan bakar penerbangan adalah dua hal berbeda. Pesawat tetap butuh avtur, kru tetap butuh makanan, dan amunisi serta suku cadang tetap harus dikirim. Navy Lookout menegaskan hal yang sama: kapal induk bertenaga nuklir pun tetap harus mengisi ulang bahan bakar penerbangan, munisi, dan perbekalan secara rutin.
Konsekuensi lain muncul di akhir masa dinas. Menonaktifkan kapal induk nuklir memerlukan defueling reaktor di galangan khusus dan berlangsung bertahun-tahun, seperti terlihat pada persiapan inaktivasi USS Nimitz di Newport News.
Apa Arti CV dan CVN?
Dalam sistem penomoran lambung US Navy, CV berarti aircraft carrier dan CVN berarti aircraft carrier bertenaga nuklir. Seluruh kapal induk US Navy saat ini berkode CVN, misalnya USS Gerald R. Ford (CVN-78).
Sistem ini tidak universal. Royal Navy memakai pennant number R08 dan R09, Marine Nationale memakai R91, dan Angkatan Laut India memakai R11 serta R33. Jepang memperkenalkan kode baru CVM untuk Izumo-class hasil modifikasi — dan Kementerian Pertahanan Jepang menegaskan kode itu tidak berhubungan dengan CVN milik US Navy.
Apa Itu Carrier Air Wing?
Kekuatan sebuah kapal induk tidak diukur dari lambungnya, melainkan dari komposisi pesawat yang dibawanya: jet tempur, pesawat perang elektronik, pesawat peringatan dini, helikopter anti-kapal selam dan SAR, pesawat logistik, kemampuan tanker udara, serta UAV pada armada tertentu.
Yang penting dipahami: kapasitas maksimum teoretis berbeda dari air wing yang benar-benar dibawa. Queen Elizabeth-class dirancang membawa hingga 36 F-35B, tetapi Operation HIGHMAST pada 2025 membawa 24 jet Inggris — dan itu pun konsentrasi jet tempur berbasis kapal induk terbesar Inggris sejak dekade 1970-an. Karena itu gunakan formulasi “hingga” atau “biasanya membawa”, bukan angka tunggal yang absolut.
Berapa Banyak Pesawat yang Bisa Dibawa Kapal Induk?
Ada empat konsep yang perlu dibedakan. Maximum capacity adalah batas fisik hangar dan dek. Typical air wing adalah komposisi lazim dalam penempatan normal. Surge configuration adalah komposisi maksimal untuk operasi intensitas tinggi. Terakhir, jenis pesawat menentukan makna angka — 90 pesawat pada kapal Ford-class mencakup helikopter dan pesawat pendukung, bukan 90 jet tempur.
Sebagai gambaran: Gerald R. Ford-class disebut membawa air wing sekitar 90 pesawat; Fujian disebutkan mampu membawa lebih dari 50 pesawat; Charles de Gaulle sekitar 40 aeronef menurut Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis; sementara INS Vikramaditya maksimum sekitar 34 pesawat.
Apa Itu Carrier Strike Group?
Dalam operasi besar, kapal induk jarang berlayar sendirian. Carrier strike group adalah formasi yang dibangun di sekitar kapal induk dan dapat mencakup destroyer, cruiser pada angkatan laut yang masih mengoperasikannya, frigate, kapal selam, kapal pengisi bekal, serta pesawat pendukung.
Komposisinya bergantung pada angkatan laut dan misi. Kelompok Fujian dilaporkan dikawal destroyer Type 052D dalam pelayarannya pada 2026, sementara UK Carrier Strike Group pada Operation HIGHMAST banyak bekerja sama dengan kapal sekutu.
Mengapa Kapal Induk Membutuhkan Kapal Pengawal?
Kapal induk bernilai strategis tinggi dan karena itu menjadi sasaran bernilai tinggi pula. Kapal pengawal menyediakan lapisan pertahanan udara, peperangan anti-kapal selam, peperangan permukaan, pengawasan, dan dukungan logistik.
Ini bukan berarti kapal induk tak berdaya — sebagian besar membawa sistem pertahanan diri seperti CIWS dan rudal jarak pendek. Namun ada variasi antararmada: Navy Lookout mencatat Queen Elizabeth-class tidak dilengkapi rudal permukaan-ke-udara dan hanya mengandalkan tiga Phalanx CIWS, sehingga pertahanan area bergantung pada destroyer Type 45 dan fregat bersenjata Sea Ceptor.
Apa Itu Displacement Kapal?
Displacement adalah berat air yang dipindahkan kapal ketika mengapung, yang secara praktis dipakai untuk menggambarkan berat kapal itu sendiri. Untuk kapal perang, satuan ini lebih relevan daripada gross tonnage yang dipakai kapal niaga.
Light displacement adalah berat kapal tanpa muatan operasional. Standard displacement mencakup kru dan perlengkapan, tetapi tanpa bahan bakar dan air cadangan. Full-load displacement adalah berat kapal siap operasi penuh — lengkap dengan bahan bakar, amunisi, perbekalan, pesawat, dan kru. Artikel ini memakai full-load displacement karena itulah kondisi yang paling mendekati kapal saat beroperasi.
Bagaimana Menentukan Kapal Induk Terbesar di Dunia?
Ukuran kapal perang dapat dibandingkan lewat banyak parameter: displacement, panjang keseluruhan, lebar dan luas flight deck, kapasitas air wing, jumlah awak, dan endurance. Masing-masing menghasilkan urutan berbeda.
Artikel ini menetapkan satu aturan: peringkat disusun berdasarkan full-load displacement, per class atau platform, bukan per lambung. Sepuluh kapal Nimitz-class berukuran nyaris identik, sehingga mengisi separuh tabel dengan sister ship hanya menyesatkan pembaca.
Angka displacement kapal induk sering berbeda antarsumber. Untuk Nimitz-class, angka yang beredar berkisar dari sekitar 100.000 hingga lebih dari 106.000 ton, tergantung apakah yang dikutip adalah displacement saat commissioning atau setelah puluhan tahun penambahan sistem. Untuk Queen Elizabeth-class, Navy Lookout mencatat angka resmi 65.000 ton sambil menjelaskan bahwa angka itu naik saat kapal dimuati penuh — sementara referensi lain mengutip sekitar 80.600 ton pada kondisi full load. Untuk kapal China, angka displacement adalah estimasi analis, bukan data resmi.
Karena itu artikel ini memakai formulasi “sekitar” atau “lebih dari” bila sumber tidak memberikan angka pasti, dan tidak memilih angka terbesar hanya agar tabel terlihat menarik. Hanya kapal berstatus aktif yang masuk peringkat; kapal dalam pembangunan, sea trials, atau yang sudah berhenti beroperasi dipisahkan.
Daftar Kapal Induk Terbesar di Dunia
| Peringkat | Kapal/Class | Negara | Full-Load Displacement | Panjang | Propulsi | Sistem Penerbangan | Aircraft Utama | Status |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Gerald R. Ford-class | Amerika Serikat | ± 100.000 ton | ± 337 m | Nuklir (2× A1B) | CATOBAR (EMALS + AAG) | F/A-18E/F, F-35C, EA-18G, E-2D, MH-60 | Aktif (1 kapal: CVN-78) |
| 2 | Nimitz-class | Amerika Serikat | ± 100.000 ton (sumber lain hingga >106.000 ton) | ± 333 m | Nuklir (2× A4W) | CATOBAR (katapel uap) | F/A-18E/F, EA-18G, E-2D, MH-60 | Aktif (10 kapal) |
| 3 | Fujian (Type 003) | China | ± 80.000–85.000 ton (estimasi) | ± 316 m | Konvensional (turbin uap) | CATOBAR (katapel elektromagnetik) | J-35, J-15T, J-15DT, KJ-600 | Aktif, integrasi kemampuan masih berkembang |
| 4 | Queen Elizabeth-class | Inggris | 65.000 ton (angka resmi); sumber lain ± 80.600 ton full load | 284 m | Konvensional (IFEP: 2× MT30 + diesel) | STOVL (ski-jump 13°) | F-35B, Merlin HM2/HC4, Wildcat | Aktif (2 kapal) |
| 5 | Shandong (Type 002) | China | ± 66.000–70.000 ton (estimasi) | ± 305 m | Konvensional (turbin uap) | STOBAR (ski-jump) | J-15, helikopter | Aktif |
| 6 | Liaoning (Type 001) | China | ± 60.000–60.900 ton (estimasi) | ± 306 m | Konvensional (turbin uap) | STOBAR (ski-jump) | J-15, helikopter | Aktif |
| 7 | INS Vikramaditya | India | ± 45.000 ton | 284 m | Konvensional (turbin uap) | STOBAR (ski-jump 14,3°) | MiG-29K, Ka-31, Ka-28 | Aktif |
| 8 | INS Vikrant | India | ± 45.000 ton | 262 m | Konvensional (LM2500+ COGAG) | STOBAR (ski-jump) | MiG-29K, MH-60R, Ka-31 | Aktif |
| 9 | Charles de Gaulle | Prancis | ± 42.500 ton | 261,5 m | Nuklir (2× K15) | CATOBAR (katapel uap) | Rafale M, E-2C Hawkeye, helikopter | Aktif |
| 10 | Cavour | Italia | ± 30.000 ton | 244 m | Konvensional (COGAG) | STOVL (ski-jump) | F-35B, helikopter | Aktif |
Peringkat berdasarkan full-load displacement, per class/platform, khusus kapal aktif per 4 September 2026. Admiral Kuznetsov tidak dimasukkan; penjelasannya di bawah.
Gerald R. Ford-class — Amerika Serikat
USS Gerald R. Ford (CVN-78) masuk dinas pada 22 Juli 2017 dan berpangkalan di Naval Station Norfolk. Kapal ini bertenaga nuklir dengan dua reaktor A1B, memakai konfigurasi CATOBAR dengan EMALS dan Advanced Arresting Gear, serta dirancang menghasilkan tingkat sortie lebih tinggi daripada generasi sebelumnya dengan jumlah awak lebih sedikit.
Ford menyelesaikan penempatan panjang bersama Carrier Air Wing 8 yang berakhir Mei 2026. Kapal kedua, calon USS John F. Kennedy (CVN-79), memulai acceptance trials pada 12 Agustus 2026 dan dijadwalkan diserahkan serta dikomisikan sekitar Maret 2027 — berbeda dari CVN-78, Kennedy direncanakan diserahkan sudah mampu mengoperasikan F-35C.
Menyebutnya “kapal induk paling kuat di dunia” adalah klaim tanpa kriteria jelas. Yang faktual: Ford-class termasuk kapal induk terbesar dan paling maju secara teknologi yang beroperasi saat ini.
Nimitz-class — Amerika Serikat
Nimitz-class menjadi tulang punggung kekuatan kapal induk Amerika Serikat sejak 1975. Sepuluh kapal masih berdinas, semuanya bertenaga nuklir dengan konfigurasi CATOBAR berkatapel uap. US Navy menyatakan kapal Nimitz dan Gerald R. Ford-class merupakan kapal perang terbesar di dunia, masing-masing dirancang untuk masa dinas sekitar 50 tahun dengan satu kali pengisian ulang bahan bakar reaktor.
Status tiap lambung berubah seiring waktu. Per data terbaru, USS John C. Stennis (CVN-74) menjalani Refueling Complex Overhaul di Newport News. Sementara itu penonaktifan USS Nimitz (CVN-68) ditunda: kapal ini tetap berdinas hingga sekitar Maret 2027, keputusan yang memungkinkan US Navy mempertahankan minimal 11 kapal induk aktif sebagaimana diamanatkan Kongres.
Fujian — China
Fujian (18) adalah kapal induk ketiga PLA Navy dan yang terbesar yang pernah dibangun China. Kapal ini dikomisikan pada 5 November 2025 di Pangkalan Yulin, Sanya, Hainan, menandai era tiga kapal induk bagi armada China.
Berbeda dari Liaoning dan Shandong, Fujian memakai dek datar dengan katapel elektromagnetik dan arrested recovery, bukan ski-jump. Katapel itu dikembangkan sepenuhnya di dalam negeri dan bukan EMALS milik Amerika Serikat. Propulsinya konvensional, bukan nuklir. Setelah komisioning, Fujian menjalankan latihan pertamanya dengan J-35, J-15T, J-15DT, dan pesawat peringatan dini KJ-600.
Penting membedakan dua status. Fujian sudah commissioned, tetapi belum dinyatakan fully operational. Media resmi China pada April 2026 menyatakan kapal ini akan menjalani transisi dari kemampuan operasional awal menuju kemampuan tempur penuh sepanjang 2026, disertai latihan di perairan jauh. Pada pertengahan Agustus 2026, Fujian terpantau kembali beroperasi di Laut China Selatan dengan pengawalan destroyer Type 052D.
Queen Elizabeth-class — Inggris
HMS Queen Elizabeth (R08) dikomisikan Desember 2017 dan HMS Prince of Wales (R09) pada Desember 2019. Keduanya memakai konfigurasi STOVL dengan ski-jump 13 derajat dan tidak dilengkapi katapel maupun arresting wire, karena F-35B tidak memerlukannya untuk operasi rutin. Propulsinya integrated full electric propulsion dengan dua turbin gas Rolls-Royce MT30 dan empat generator diesel. Kapasitas maksimum resminya 36 F-35B ditambah sekitar 16 helikopter.
HMS Prince of Wales memimpin Operation HIGHMAST pada 2025 — penempatan 222 hari sejauh hampir 40.000 mil laut dengan 24 F-35B Inggris — yang berujung pada deklarasi Full Operating Capability untuk UK Carrier Strike pada November 2025. Pada 2026 ia berdinas sebagai kapal bendera Royal Navy dalam Operation FIRECREST di Atlantik Utara. HMS Queen Elizabeth menyelesaikan periode docking dari Agustus 2025 hingga musim semi 2026 dan kini berada dalam siklus regenerasi dan kesiapan.
Shandong dan Liaoning — China
Keduanya memakai konfigurasi STOBAR dengan ski-jump dan propulsi konvensional, tetapi tidak identik. Liaoning (16) berasal dari lambung Kuznetsov-class Soviet yang belum selesai, dibeli dari Ukraina dan dituntaskan di Dalian, lalu masuk dinas pada 2012. Shandong (17) adalah kapal induk pertama yang dirancang dan dibangun sepenuhnya di China, masuk dinas 17 Desember 2019.
Perbedaan utamanya pada tata letak internal. Island Shandong lebih kecil dan diposisikan ulang sehingga area flight deck bertambah, hangarnya lebih besar, dan kapasitas air wing-nya lebih banyak — sekitar 36 pesawat sayap tetap dan helikopter, dibanding sekitar 24–30 pada Liaoning. Keduanya berbagi keterbatasan sama: ski-jump membatasi berat lepas landas J-15.
INS Vikrant — India
INS Vikrant (R11) adalah kapal induk pertama yang dirancang Warship Design Bureau Angkatan Laut India dan dibangun Cochin Shipyard Limited, dikomisikan September 2022. Displacement-nya sekitar 45.000 ton dengan panjang 262 meter dan empat turbin gas LM2500+ dalam konfigurasi COGAG. Konfigurasinya STOBAR, dengan air wing berintikan MiG-29K plus helikopter MH-60R dan Ka-31. Pada Maret 2026 kapal ini dilaporkan mencapai 1.000 arrested landing.
India menandatangani kontrak 26 Rafale Marine dengan Prancis pada April 2025, dengan pengiriman dijadwalkan mulai sekitar 2028 dan rampung 2030. Uji pendaratan Rafale M pertama di atas Vikrant direncanakan menjelang akhir 2026. Kapal ini berbeda dari INS Vikrant generasi sebelumnya yang berdinas pada 1961–1997.
INS Vikramaditya — India
INS Vikramaditya (R33) berasal dari kapal Soviet Admiral Gorshkov kelas Kiev yang dibeli India dan dimodernisasi besar-besaran di Rusia, lalu dikomisikan November 2013. Full-load displacement-nya sekitar 45.000 ton dengan panjang 284 meter dan propulsi turbin uap konvensional.
Konfigurasinya STOBAR dengan ski-jump 14,3 derajat tanpa katapel. Air wing maksimumnya sekitar 34 pesawat, berintikan MiG-29K ditambah helikopter Ka-31 AEW dan Ka-28 ASW. Kapal ini menjalani short refit dan dry docking di Cochin Shipyard berdasarkan kontrak yang ditandatangani akhir 2024.
Charles de Gaulle — Prancis
Charles de Gaulle (R91) adalah satu-satunya kapal induk bertenaga nuklir di luar Amerika Serikat, dikomisikan 2001 dan menjadi inti groupe aéronaval Marine Nationale. Panjangnya 261,5 meter dengan displacement sekitar 42.500 ton, memakai dua reaktor K15 dan konfigurasi CATOBAR berkatapel uap.
Air wing-nya sekitar 40 aeronef menurut Kementerian Angkatan Bersenjata Prancis, mencakup Rafale Marine, pesawat peringatan dini E-2C Hawkeye, dan helikopter. Kemampuan AEW sayap tetap inilah yang membedakannya dari kapal STOVL berukuran serupa. Ukurannya jauh lebih kecil daripada supercarrier Amerika, tetapi desain dan misinya tidak bisa dinilai hanya dari displacement. Kapal ini telah menjalani 25 tahun dinas pada 2026.
Cavour — Italia
Cavour (550) diklasifikasikan Marina Militare sebagai kapal induk V/STOL, dikomisikan 2008, dengan displacement sekitar 30.000 ton dan panjang 244 meter. Konfigurasinya STOVL dengan ski-jump dan propulsi COGAG.
F-35B pertama Angkatan Laut Italia mendarat di Cavour pada 2021, dan komponen F-35B mencapai Kemampuan Operasional Awal pada 2024. Cavour menjadi kapal bendera Italian Carrier Strike Group. Pada Maret 2026, Angkatan Laut Italia mengumumkan rencana mengakuisisi UCAV Bayraktar TB3 untuk dioperasikan dari Cavour sebagai pelengkap F-35B. Cavour perlu dibedakan dari Trieste, yang dibahas berikutnya.
Kapal Induk Besar yang Tidak Masuk Peringkat Aktif
Admiral Kuznetsov (Rusia) memiliki full-load displacement sekitar 58.600 ton, yang secara angka akan menempatkannya di kelompok atas. Ia tidak dimasukkan karena tidak berlayar sejak 2017 dan program perbaikannya berulang kali gagal — mulai dari tenggelamnya dok apung PD-50 pada 2018 hingga kebakaran pada 2019. Pekerjaan perbaikan dihentikan pada 2025, dan Ketua United Shipbuilding Corporation Andrei Kostin menyatakan tidak ada gunanya lagi memperbaikinya. Hingga pertengahan 2026, kapal ini dilaporkan menuju penjualan atau pembesituaan. Status akhirnya perlu diverifikasi ulang pada setiap pembaruan.
USS John F. Kennedy (CVN-79) sedang menjalani acceptance trials sejak Agustus 2026 dan belum commissioned, sehingga masuk kategori kapal dalam pembangunan.
Aircraft Carrier vs LHA dan LHD, Apa Bedanya?
Aircraft carrier (CV) dirancang terutama untuk operasi penerbangan laut dan proyeksi kekuatan udara; CVN adalah versi bertenaga nuklir. LHA (Landing Helicopter Assault) dan LHD (Landing Helicopter Dock) adalah kapal serbu amfibi yang misi utamanya mendaratkan pasukan, kendaraan, dan perbekalan dari laut ke darat. LHD umumnya memiliki well deck untuk kapal pendarat.
Sebagian LHA/LHD memang dapat mengoperasikan F-35B, Harrier, helikopter, dan tiltrotor. Namun kemampuan itu tidak otomatis mengubah klasifikasi resminya. Perbedaannya terletak pada misi utama, struktur internal, kapasitas hangar dan bahan bakar penerbangan, serta doktrin penggunaannya.
Bagaimana dengan Trieste, Izumo, dan America-class?
Trieste (Italia) diserahkan kepada Marina Militare pada 7 Desember 2024 dengan full-load displacement 36.770 ton — lebih besar dari Cavour. Trieste memiliki ski-jump dan dirancang mampu mengoperasikan F-35B. Meski demikian, klasifikasi resminya adalah Landing Helicopter Dock dan perannya kapal bendera Amphibious Task Group. Angkatan Laut Italia memposisikannya sebagai “kapal induk alternatif” ketika Cavour tidak tersedia, bukan kapal induk utama; kemampuan operasional F-35B-nya masih menunggu penyelesaian pekerjaan penyesuaian dan sertifikasi oleh F-35 Joint Program Office.
Izumo-class (Jepang). JS Izumo (DDH-183) dan JS Kaga (DDH-184) sedang dimodifikasi agar dapat mengoperasikan F-35B; haluan keduanya diubah menjadi persegi, dan Izumo keluar dari dok pada April 2026 setelah modifikasi struktural utama. Namun keduanya masih menyandang penandaan DDH, dan pemerintah Jepang konsisten menghindari istilah “kapal induk”, menyebutnya sebagai kapal perusak operasi multiguna. Kode baru CVM akan berlaku setelah modifikasi rampung, dengan tahap kedua dijadwalkan selesai menjelang akhir tahun fiskal 2028.
America-class dan Wasp-class (Amerika Serikat) dapat membawa F-35B dan kadang disebut secara informal lightning carrier. Namun klasifikasi resmi US Navy tetap amphibious assault ship, sehingga tidak dihitung dalam armada kapal induk. Prinsip yang sama berlaku untuk Juan Carlos I (Spanyol), TCG Anadolu (Turki), dan Dokdo-class (Korea Selatan).
Negara Mana yang Memiliki Kapal Induk?
| Negara | Aircraft Carrier Aktif | Class | Sistem | Propulsi |
|---|---|---|---|---|
| Amerika Serikat | 11 | Gerald R. Ford-class (1), Nimitz-class (10) | CATOBAR | Nuklir |
| China | 3 | Type 001 Liaoning, Type 002 Shandong, Type 003 Fujian | STOBAR (2), CATOBAR (1) | Konvensional |
| Inggris | 2 | Queen Elizabeth-class | STOVL | Konvensional |
| India | 2 | INS Vikramaditya, Vikrant-class | STOBAR | Konvensional |
| Prancis | 1 | Charles de Gaulle | CATOBAR | Nuklir |
| Italia | 1 | Cavour | STOVL | Konvensional |
Catatan metodologi. Tabel ini hanya menghitung kapal yang diklasifikasikan operatornya sebagai aircraft carrier dan berstatus aktif per 4 September 2026. Konsekuensinya: LHA dan LHD tidak dihitung meski dapat membawa F-35B; Jepang tidak dimasukkan karena Izumo-class masih berpenandaan DDH; Rusia tidak dimasukkan karena Admiral Kuznetsov tidak beroperasi; kapal dalam pembangunan seperti CVN-79 tidak dihitung; dan kapal dalam overhaul tetap dihitung selama masih commissioned.
Dengan definisi ini terdapat 20 kapal induk aktif di enam negara. Angka akan berbeda bila LHA/LHD ikut dihitung — beberapa publikasi memakai definisi longgar dan menyebut hingga 14 negara. Karena itu klaim “hanya X negara punya kapal induk” selalu perlu disertai definisi yang dipakai.
Negara Mana yang Memiliki Kapal Induk Terbanyak?
Ada tiga cara mengukurnya, dan ketiganya tidak boleh dipertukarkan. Jumlah lambung aktif: Amerika Serikat memimpin dengan 11 kapal, lebih banyak daripada seluruh negara lain digabungkan, disusul China dengan tiga kapal. Total tonase armada: selisihnya jauh lebih lebar daripada perbandingan jumlah lambung, karena kapal Amerika berada di kelas 100.000 ton sementara mayoritas kapal induk lain berkisar 30.000–85.000 ton. Kemampuan carrier aviation: menyangkut jenis pesawat, pengalaman kru, tingkat sortie, kemampuan AEW, dan jaringan pendukung — paling sulit dikuantifikasi dan paling sering disalahgunakan dalam artikel peringkat.
Kapal Induk Terbesar Belum Tentu Paling Canggih
Terbesar tidak otomatis paling canggih, dan paling canggih tidak otomatis paling efektif dalam semua skenario. Fujian lebih kecil daripada Nimitz-class tetapi memakai katapel elektromagnetik yang secara teknologi lebih baru daripada katapel uap. Sebaliknya, Nimitz-class memiliki propulsi nuklir dan puluhan tahun pengalaman operasional.
Perbandingan teknologi yang lebih bermakna melibatkan propulsi, sistem peluncuran, sensor, komposisi pesawat, tingkat sortie, logistik, jaringan komando, otomasi awak, perang elektronik, dan interoperabilitas. Peringkat “kapal induk paling mematikan” tanpa metodologi eksplisit sebaiknya diperlakukan sebagai hiburan, bukan analisis.
Seberapa Cepat dan Berapa Lama Kapal Induk Bisa Berlayar?
Untuk kecepatan, gunakan hanya angka resmi. US Navy menyatakan kapal Ford-class melaju “lebih dari 30 knot” tanpa angka pasti, dan Navy Lookout mencatat Queen Elizabeth-class mampu melampaui 25 knot. Bila dikonversi, 1 knot setara 1,852 km/jam. Kecepatan bukan parameter utama kemampuan sebuah kapal induk.
Untuk daya tahan, bedakan dua hal. Endurance propulsi adalah berapa lama mesin berjalan tanpa pengisian bahan bakar; pada kapal nuklir angkanya diukur dalam tahun. Operational endurance adalah berapa lama kapal dapat beroperasi penuh sebelum harus disuplai ulang, dan angkanya jauh lebih pendek.
Charles de Gaulle memberi ilustrasi konkret: dengan 3.400 ton bahan bakar penerbangan dan 120 ton perbekalan, kapal ini memiliki otonomi operasi penuh sekitar 45 hari, dan sebuah kapal tanker ditempatkan permanen dalam gugus tempurnya untuk operasi lebih panjang. Queen Elizabeth-class memiliki jangkauan sekitar 10.000 mil laut, tetapi Navy Lookout menegaskan daya tahan praktisnya ditentukan bahan bakar penerbangan, makanan, senjata, dan perbekalan. Kesimpulannya: kapal induk bertenaga nuklir tidak dapat berlayar selamanya tanpa pengisian ulang.
Kelebihan Kapal Induk
Kapal induk memberi negara kekuatan udara yang bergerak, dapat direposisi cepat antarwilayah, dan tidak bergantung izin pangkalan darat asing. Ia menyediakan kehadiran berdurasi panjang, berfungsi sebagai platform komando, dan dapat dipakai sebagai instrumen penangkalan maupun diplomasi. Kemampuan kemanusiaannya juga nyata — helikopter, fasilitas medis, kapasitas angkut, dan jaringan komunikasi — dan ukurannya memberi ruang bagi perkembangan teknologi selama masa dinas yang dirancang mencapai 50 tahun.
Keterbatasan Kapal Induk
Biaya adalah kendala paling nyata. Estimasi pengadaan USS John F. Kennedy mencapai sekitar 13,2 miliar dolar AS, sementara program dua kapal Queen Elizabeth-class menelan 7,6 miliar pound. Angka ini belum mencakup pesawat, kapal pengawal, infrastruktur, dan biaya operasi seumur hidup — sehingga perbandingan antarnegara harus mempertimbangkan tahun harga, inflasi, dan apakah R&D termasuk di dalamnya.
Kapal induk juga menuntut personel dalam jumlah besar, perawatan kompleks, dan infrastruktur galangan khusus. Ketersediaan operasionalnya tidak pernah 100 persen: dua kapal induk Inggris pernah sama-sama tidak tersedia pada awal 2026, dan Royal Navy menghadapi keterbatasan jumlah kapal pengawal. Ancaman modern seperti rudal anti-kapal, kapal selam, ranjau, dan sistem nirawak mendorong kebutuhan pertahanan berlapis. Navy Lookout merangkumnya dengan tepat: kapal induk dirancang bertahan dengan bergerak sebagai bagian gugus tempur berlapis, bukan dengan menyerap serangan sambil diam. Tidak ada kapal permukaan yang kebal.
Apakah Kapal Induk Masih Relevan di Era Rudal dan Drone?
Argumen yang mendukung relevansi. Kapal induk tetap satu-satunya cara memindahkan pangkalan udara lengkap ke wilayah manapun tanpa izin negara ketiga. Ia sulit dijadikan sasaran karena bergerak, membawa air wing terintegrasi, dan berfungsi sebagai simpul komando. Penempatan Prince of Wales selama 222 hari pada 2025 menunjukkan negara berukuran menengah pun masih dapat memproyeksikan kekuatan lintas benua.
Tantangannya. Rudal anti-kapal berjangkauan jauh, kapal selam senyap, sistem nirawak murah dalam jumlah besar, dan jaringan pengawasan satelit membuat lingkungan operasi semakin diperebutkan — sementara biayanya besar dan ketersediaannya terbatas.
Keduanya benar sekaligus. Kapal induk belum usang, tetapi ruang geraknya menyempit dan biaya mempertahankannya naik. Menyatakan salah satu pihak sebagai pemenang debat ini adalah penyederhanaan.
Drone dan Masa Depan Kapal Induk
Tren yang dapat diverifikasi mengarah pada integrasi sistem nirawak. Royal Navy menjalankan program Maritime Aviation Transformation untuk membentuk air wing hibrida yang menggabungkan pesawat berawak dan nirawak untuk pengawasan, logistik, relai komunikasi, dan perang elektronik. Navy Lookout mencatat peluncuran UAV sayap tetap berukuran besar kemungkinan memerlukan katapel dan sistem penahan, meski belum ada program pemasangan yang dipastikan.
Italia menempuh jalur berbeda dengan rencana mengoperasikan UCAV Bayraktar TB3 dari Cavour, sementara India merancang IAC-2 dengan tata letak dek untuk operasi UAV berskala besar dan konsep manned-unmanned teaming. Katapel elektromagnetik yang energinya dapat disetel juga dipandang lebih cocok untuk meluncurkan pesawat dengan bobot sangat bervariasi, termasuk drone.
Kapal Induk yang Sedang Dibangun dan Direncanakan
| Kapal/Program | Negara | Status | Perkiraan Masuk Dinas | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| USS John F. Kennedy (CVN-79) | Amerika Serikat | Acceptance trials | Sekitar Maret 2027 | Ford-class kedua; direncanakan mampu mengoperasikan F-35C sejak serah terima |
| USS Enterprise (CVN-80) | Amerika Serikat | Dalam pembangunan | Sekitar Juli 2030 | Jadwal mundur akibat kendala material dan rantai pasok |
| USS Doris Miller (CVN-81) | Amerika Serikat | Dalam pembangunan | Sekitar 2032 | USNI News melaporkan penundaan sekitar dua tahun pada Mei 2026 |
| Type 004 | China | Dalam pembangunan di Dalian | Belum ditetapkan resmi | Citra satelit Agustus 2026 menunjukkan lambung sekitar 320 m; indikasi propulsi nuklir belum dikonfirmasi resmi |
| PANG | Prancis | Studi dan desain rinci | Sekitar 2038 | Rencana: bertenaga nuklir, EMALS, pengganti Charles de Gaulle |
| IAC-2 | India | Proposed — menunggu persetujuan | Belum ditetapkan | Displacement sekitar 45.000 ton, dirancang untuk operasi UAV; Acceptance of Necessity ditargetkan akhir 2026 |
Program yang masih berupa konsep tidak boleh disebut “sedang dibangun”. IAC-2 India, misalnya, belum memperoleh persetujuan final sehingga tenggat masuk dinasnya belum dapat ditentukan.
Kesimpulan
Kapal induk adalah kapal perang dengan flight deck dan fasilitas penerbangan lengkap yang memungkinkan pengoperasian pesawat dari laut. Fungsinya membentang dari proyeksi kekuatan udara, penguasaan udara, pengamanan jalur laut, komando dan kendali, hingga bantuan kemanusiaan. Cara pesawat lepas landas dan mendarat — CATOBAR, STOBAR, atau STOVL — menentukan sebagian besar karakter operasional sebuah kapal induk, dan kerap lebih menentukan daripada ukurannya.
Ukuran bukan satu-satunya parameter kemampuan. Kapal terbesar belum tentu paling canggih; kapal paling canggih belum tentu paling efektif di setiap skenario. Kapasitas maksimum pesawat berbeda dari air wing yang benar-benar dibawa, status commissioned berbeda dari fully operational, dan kapal berdek datar belum tentu diklasifikasikan sebagai aircraft carrier oleh operatornya sendiri.
Peringkat dalam artikel ini disusun berdasarkan full-load displacement dan status aktif per 4 September 2026. Keduanya dapat berubah — Fujian bergerak menuju kemampuan operasional penuh, USS Nimitz menuju akhir masa dinasnya, CVN-79 menunggu komisioning, dan Type 004 China terus dibangun. Data seperti ini harus mengikuti pembaruan armada, bukan diambil dari artikel lama.
Sumber dan Referensi
| Sumber | Data yang Digunakan | Tanggal Publikasi/Update | Tanggal Akses |
|---|---|---|---|
| United States Navy — Fact File “Aircraft Carriers – CVN” | Peran kapal induk, status RCOH CVN-74, pernyataan kapal perang terbesar di dunia, masa dinas 50 tahun | 27 Februari 2025 | 4 September 2026 |
| Royal Navy — halaman HMS Prince of Wales | Kapasitas F-35B, peran dan misi Queen Elizabeth-class | — | 4 September 2026 |
| Ministère des Armées (Prancis) — halaman Porte-avions | Jumlah aeronef, peran groupe aéronaval, propulsi nuklir | — | 4 September 2026 |
| Navy Lookout — “A guide to the Queen Elizabeth Class aircraft carriers” | Displacement resmi 65.000 ton, dimensi, propulsi IFEP, dua island, ski-jump 13°, status QE dan PoW 2026, Operation HIGHMAST, FOC November 2025 | 18 Juli 2026 | 4 September 2026 |
| USNI News — “China Commissions 3rd Aircraft Carrier Fujian” | Komisioning Fujian, kelas 80.000 ton | 7 November 2025 | 4 September 2026 |
| Global Times / CCTV (media resmi China) | Transisi Fujian dari IOC ke FOC pada 2026, latihan J-35/J-15T/J-15DT/KJ-600, sea trial perdana Mei 2024 | 12 April 2026 | 4 September 2026 |
| Stars and Stripes | Penundaan penonaktifan USS Nimitz hingga Maret 2027, jadwal komisioning CVN-79 | Februari–Maret 2026 | 4 September 2026 |
| USNI News — pelayaran terakhir USS Nimitz | Perpindahan homeport, rencana deaktivasi di Newport News | 9 Maret 2026 | 4 September 2026 |
| The Aviationist — acceptance trials CVN-79 | Mulai acceptance trials 12 Agustus 2026, kemampuan F-35C, uji EMALS | 13 Agustus 2026 | 4 September 2026 |
| Newsweek / Maritime Executive / laporan media Rusia | Status Admiral Kuznetsov, penghentian perbaikan, pernyataan Andrei Kostin | Juli 2025 – 2026 | 4 September 2026 |
| Naval News — “Japan’s JS Izumo shows off its new bow” | Modifikasi Izumo-class, penandaan CVM, istilah resmi pemerintah Jepang | 21 April 2026 | 4 September 2026 |
| Naval News / EDR Magazine — Trieste LHD | Klasifikasi LHD, displacement 36.770 ton, ski-jump, status kemampuan F-35B | Desember 2024 | 4 September 2026 |
| Analisi Difesa / Marina Militare | Peran Cavour sebagai flagship IT CSG, IOC F-35B 2024 | 2024–2026 | 4 September 2026 |
| The Aviationist / PIB India | Kontrak 26 Rafale Marine, jadwal pengiriman 2028–2030 | April 2025 | 4 September 2026 |
| GlobalSecurity / IISS (dikutip ulang) | Estimasi displacement Liaoning dan Shandong, kapasitas air wing | 2025–2026 | 4 September 2026 |
| TWZ / Asia Times / CSIS (dikutip ulang) | Status pembangunan Type 004 di Dalian, dimensi lambung dari citra satelit | Mei–Agustus 2026 | 4 September 2026 |
| Naval Technology | Jadwal serah terima CVN-79, CVN-80, CVN-81 | Maret 2026 | 4 September 2026 |
Catatan: seluruh angka displacement untuk kapal induk China merupakan estimasi analis, bukan data resmi pemerintah China. Angka displacement Nimitz-class dan Queen Elizabeth-class berbeda antarsumber; artikel ini menampilkan rentangnya secara terbuka alih-alih memilih satu angka tanpa penjelasan.